Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 70 ~ Lengser


__ADS_3

“Jangan bicara sembarangan! Kalau Mama denger dia akan marah!” sentak Zora menatapnya tajam.


Rico menghela napas berat, menundukkan kepala dalam. Tidak ada lagi yang ia pikirkan selain keselamatan dan kesehatan istrinya.


“Benar, Tuan. Saya juga tidak menemukan luka serius di tubuh nyonya. Mohon bersabar untuk pemeriksaan selanjutnya. Kita tunggu sampai nyonya sadar. Saya hanya menyarankan agar lebih berhati-hati, sering kontrol jika ada keluhan sekecil apa pun dan jangan beraktivitas berlebihan,” jelas sang dokter. Tidak bermaksud menakuti, hanya ingin lebih berhati-hati.


“Baik, kalau begitu terima kasih banyak, Dok,” balas Zora menepuk bahu ayahnya agar segera beranjak. "Ayo, Pa!"


Rico masih melemas dengan penjelasan dokter tersebut, walaupun sudah dinyatakan kondisi tidak mengkhawatirkan, tetap saja Rico ketakutan luar biasa. Mereka segera kembali ke ruang rawat Lala.


...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...


,


Sesampainya di ruangan, Rico langsung mendekati brankar pasien. Membungkuk memberikan ciuman lembut di kening Lala. Barulah mendaratkan tubuh di kursi. Rico menggenggam erat jari jemari Lala, membawanya ke pipi dan menatapnya nanar.


Merasa terusik, Lala mulai mengerjapkan mata. Aroma desinfektan yang menyengat membuatnya mengernyit, lalu mengedarkan pandangan hingga bertatapan dengan suaminya, “Ric, aku di mana?” tanyanya memastikan.


“Pindah tempat tidur sementara,” canda Rico mengulas senyum untuk menutupi kekalutannya. “Kamu kenapa bisa jatuh?” lanjutnya ketika hanya melihat Lala yang mencebikkan bibirnya.


“Jatuh?” Lala tampak mengingat-ingat, “Tapi aku enggak merasa jatuh, Ric,” elak wanita itu.

__ADS_1


“Terus kenapa bisa tiduran di kamar mandi, hemm? Kepleset?” Rico membelai puncak kepala sang istri.


“Serius aku enggak jatuh, Ric. Tadi aku tiba-tiba pusing banget. Coba panggil-panggil Mbak Iroh terus gelap semua, enggak ingat apa-apa,” jelas Lala.


Rico tersenyum, mencium telapak tangan wanitanya bertubi-tubi. ia begitu lega mendengar penuturan sang istri, pantas saja tidak ada cedera yang serius.


“Ma!” panggil Zora cemberut.


Mendengar suara putrinya, Lala menoleh. “Ya, Sayang. Maaf ya, bikin kalian khawatir. Aduh, pasti para Mbak ini yang bikin panik,” ujarnya hendak beranjak.


Namun segera ditahan oleh Rico, ia tidak memperbolehkan sang istri sekedar beranjak, “Jangan banyak bergerak! Tiduran saja,” titahnya melotot tajam.


“Iya bener, Ma. Mama harus kurangin aktivitas, makan makanan bergizi, banyak istirahat. Karena bentar lagi, status anak bungsu untukku akan dilengserkan,” seloroh gadis itu sedikit kesal.


“Mmm ... maksudnya gimana?” tanya Lala tidak mengerti dengan ucapan putrinya.


“Iiih mama! Ada dede bayi di perut mama! Kan aku udah bukan anak bungsu lagi sekarang! Lengser sudah,” gerutu Zora dengan cemberut.


Tercengang, wanita itu bahkan terdiam beberapa saat. Seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Zora. Beralih pada Rico yang kini tersenyum dan mengangguk, semakin memberi validasi.


“Bayi?” gumam Lala dengan berkaca-kaca. Ia meraba perutnya yang masih rata dengan irama detak jantung yang berkali lipat.

__ADS_1


Masih tidak percaya ia kembali merasakan momen hadirnya seorang bayi di rahimnya. Dan kali ini dengan kondisi yang jauh berbeda. Air matanya mengalir di kedua sudut mata.


Serentak, Rico dan Zora memeluknya dari sisi yang berbeda, menumpukan tangan mereka di atas perut Lala yang masih rata.


“Iya, Sayang. Kamu kembali dipercaya Tuhan untuk mengandung. Dan kali ini, aku akan membayar semuanya. Dulu, kamu pasti sangat berat menjalani sendirian?” gumam Rico menyeka air mata Lala dengan lembut, lalu beranjak dan mencium kening Lala bertubi-tubi. Disambung dengan mencium kening putrinya sangat lama, “Maafin papa ya, Sayang,” ucapnya mengusap pipi Zora.


“Pokoknya Mama harus nurut, enggak boleh ngebantah kalau dibilangin. Mama adalah ratunya. Kami dayangnya!”


“Papa rajanya dong, Zo!” sanggah Rico tak terima.


“Ya merangkap sekalian, Pa. Haha!” serunya membuat ruangan itu seketika riuh dengan gelak tawa sekeluarga.


Derit pintu yang terbuka, membuat tawa mereka terhenti seketika dan menoleh serentak ke arah pintu. Menunggu selama beberapa saat, muncullah Rainer yang sedikit basah. Di luar memang tengah hujan begitu deras.


Rain menutup pintu, tersenyum sembari menyibak rambutnya yang sedikit basah. “Ma!” ucap pria itu mempercepat langkah dan meraih tangan Lala. Kemudian menciumnya dengan sopan, hal yang sama ia lakukan pada Rico.


“Kamu kok tiba-tiba sampai sini?” tanya Rico.


“Iya, tadi denger Papa panik, makanya langsung pulang. Sampai rumah dapat info mama di rumah sakit. Yaudah langsung ke sini,” ucap pria itu, kini menoleh pada Zora dan mengacak puncak kepala gadis itu. “Hei! Cemberut aja!” sapanya yang sama sekali tidak dijawab oleh Zora. Justru hanya tatapan penuh intimidasi yang ia dapat.


Bersambung~

__ADS_1


Mampir juga di sini ya, Best 💖



__ADS_2