Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 64 ~ Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Di atas panggung yang penuh kebahagiaan itu, sepasang pengantin dihujani ribuan kelopak bunga. Bibir keduanya mengembang dengan sempurna. Genggaman tangan mereka semakin kuat. Rico menegaskan bahwa ia telah mendapatkan kembali miliknya.



Berbanding terbalik dengan Zora yang mendongak, matanya mengerjap dengan lembut. Bibirnya mengerut dengan sempurna. Seketika raut kesal sekaligus marah berpendar dari wajah cantiknya. Ia sampai memalingkan muka.


“Hei, kenapa ditekuk gitu mukanya?” ujar Rain mencubit dagu Zora dan mengarahkan tepat pada pandangannya.


“Baru juga ngerasain punya keluarga utuh, punya papa, punya kakak, ditinggal lagi! Nanti aku sama siapa, Kak? Mama sama papa pasti sibuk sendiri. Nggak mungkin dong aku gangguin!” cebik Zora menepis tangan Rainer.


Lelaki itu terkekeh, mengacak rambut Zora yang tersanggul rapi. Hingga membuat gadis itu semakin kesal.


“Iih! Kakak!” pekiknya melotot tajam.


Rain meraih tangannya dan membawa ke tempat duduk. Lelah berdiri sedari tadi. Terlihat dari cara berdiri Zora yang tidak nyaman. Apalagi untuk pertama kalinya, ia mengenakan high heels.


“Zo, aku penasaran deh. Kok kamu bisa fasih dan lancar berbahasa Indonesia?” tanya Rain setelah mereka mendaratkan tubuh di kursi. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Aku ‘kan tinggalnya bertetangga sama para perantau Indonesia. Apalagi mama memang mengajarkanku dua bahasa sejak dulu. Jadi kecil itu mah!” papar Zora meraih minuman di hadapannya. Meneguknya hingga tandas lalu meletakkan gelas kosong dengan sedikit kasar.


“Kak, Jakarta itu kayak gimana? Aku ikut dong!” pinta Zora yang seketika membuat Rainer tersedak ludah.


...\=\=\=\=OoO\=\=\=\=...


Menjelang malam, pesta yang tidak begitu mewah pun telah berakhir. Rico langsung membawa pengantinnya ke hunian baru mereka.


Sebuah bangunan luas terdiri dua lantai, hadiah pernikahan dari Tiger. Sudah sejak lama ia menyiapkannya. Hanya saja, Tiger memang akan menyerahkan rumah tersebut jika Rico benar-benar menikahi Lala. Feeling sang ketua mafia itu, memang tidak diragukan lagi. Padahal Jihan sang istri, sempat putus asa.

__ADS_1


Rain tentu mengekori dengan mobil berbeda, bersama Zora di sebelahnya. Zora terus menempel untuk merayunya, meminta izin tinggal bersama. Rain menolak dengan keras yang membuat gadis itu semakin penasaran dan bersikukuh untuk ikut.


“Wah, luas sekali rumahnya. Kebunnya juga. Mau lihat ke belakang!” Zora berlarian ketika baru sampai di ruang tamu, melalui dapur dan membuka pintu dengan bersemangat.


Sebuah pekarangan yang sangat luas, dengan pepohonan yang rindang. Hawa sejuk seketika menyapanya. Zora menarik napas panjang, memeluk tubuhnya sendiri sembari memejamkan mata. “Aaah! Ini cocok buat arena Hero!” seru Zora.


“Otakmu isinya kuda mulu!” balas Rain yang ternyata memilih mengikuti adiknya.


“Pa! Papa! Bisa tolong bawain Hero ke sini nggak?” teriak bocah labil itu mengabaikan sang kakak. Ia kesal dengan penolakan Rainer. Pria itu hanya mendesah berat. Menatap nanar punggung Zora.


“Hero siapa, Nak?” tanya Rico mengerutkan keningnya.


“Kuda kesayangan Zora di Yunani,” balas Lala menimpali. Ia masih memeluk erat lengan suaminya.


“Kuda?”


Rico menganga sembari menggaruk keningnya yang tiba-tiba gatal. “Kandang, arena?” tanyanya masih sulit percaya.


“Pa! Aku pasti bisa mengurusnya dengan baik. Selama ini juga sering bantu mama kerja di peternakan kuda kok. Tenang aja, Pa! Ayolah, Pa,” rengek gadis itu menarik-narik lengan ayahnya.


Hati Rico serasa mencelos, terasa nyeri tiba-tiba. Seolah ada ribuan jarum yang menancap di sana. Mata elangnya memerah membayangkan kehidupan dua wanita kesayangannya itu di luar sana.


“Aku, salah bicara?” tanya Zora dengan polosnya ketika Lala melotot ke arahnya.


Tiba-tiba pria itu menarik tubuh Zora, memeluknya dengan sangat erat. “Papa janji akan lakukan apa pun yang kamu mau, untuk menebus waktu kita yang hilang,” gumam Rico.


“Makasih, Pa. Zora sayang Papa!” cetusnya membalas pelukan hangat sang ayah.

__ADS_1


“Papa juga sangat menyayangimu!”


Beberapa waktu berlalu, Rico baru melepasnya. Ia menatap bangga putrinya, yang tentunya sangat kuat. “Pilih kamar yang kamu suka. Papa sama mama ke utama dulu. Istirahatlah biar tidak drop lagi!” ujar Rico.


“Siap, Pa!” balasnya bersemangat.


Rico kembali merengkuh pinggang istrinya. Meniti anak tangga satu per satu dengan perlahan. Tak lupa sesekali menghadiahi kecupan di puncak kepala wanita itu. “Terima kasih ya, kamu mendidiknya dengan sangat luar biasa!” puji Rico.


“Sudah tugas aku sebagai ibunya,” balas Lala mendongak.


Sesampainya di lantai teratas, Rico mengangkat tubuh Lala, mendorong pintu hingga terbuka lalu menutup dengan kakinya.


Saat merebahkan di atas ranjang, Rico membungkuk mengikis jarak di antara mereka. Jemarinya bergerak pelan di pipi Lala. Mengamati setiap jengkal wajah yang tak berubah. Tetap cantik seperti dulu. Bahkan masih sama langsingnya ketika masih muda.


“Kamu masih sama, Sayang. Apakah, rasanya masih sama seperti dulu?” tanya Rico yang langsung mendapat cubitan keras di perut sixpack-nya. Wajah Lala memerah seketika.


“Aduh! Sakit, Sayang!” Rico mencekal pergelangan tangan Lala dan menaikkan ke atas kepala. Tatapannya terlihat lapar, segera mendaratkan ciuman di bibir sang istri. Ciuman kerinduan yang ia tahan selama beberapa hari ini. Sungguh, Rico benar-benar ingin meluapkan segala hasrat dan kerinduannya yang membuncah. Tangannya begitu aktif mencari jalan untuk membuka gaun yang dikenakan Lala, tanpa melepas tautan bibirnya.


Bersambung~


 


Lanjut sendiri ya, Best. 😂😘 udah pada pinter kok.


Re komendasi novel seru hari ini aku bawain dari Alya Lii dengan judul Baby I Love You so Much... mampirrr kuy...


__ADS_1


 


__ADS_2