
Kedua lutut Rico serasa bergetar, tubuhnya limbung ketika melihat sang istri mengalami komplikasi pasca operasi. Perawat memapahnya ke sisi lain untuk melihat buah hatinya. Karena sedari tadi Rico berteriak histeris dan mengganggu proses penanganan.
“Mohon tenang, Tuan. Agar dokter bisa fokus dalam menangani nyonya. Bayi Anda normal, sehat. Apakah Anda mau menggendongnya?” tawar perawat menunjukkan ranjang bayi, di mana kini seorang bayi laki-laki yang masih merah tidur lelap usai dibersihkan.
Rico bergeming, netranya mengembun hingga menghalangi pandangan. Dadanya mendadak sesak menatap buah hatinya tanpa berkedip. Karena memperjuangkannya, Lala harus mengalami fase kritis seperti ini. Rico sama sekali tidak ingin menyentuhnya.
Lebih dari lima belas menit Rico sama sekali tak bergerak. Hingga perawat itu kembali dengan bayi baru dari pasien lain pun, pria itu masih berada di posisi yang sama. Suster tersebut menghela napas kasar, ia mengerti bagaimana perasaan Rico saat ini. Wanita berseragam itu keluar untuk memanggil kerabat lain yang menunggu di luar ruangan.
“Keluarga Nyonya Starla!” serunya membuka pintu.
Zora dan Rain segera berlari ke arahnya. Mereka tampak tidak sabar ingin melihat adik kecilnya. Namun binar mata bahagia itu sontak meredup usai mendengar ucapan suster.
“Mana adik kami, Sus!” seru Zora melongokkan kepala.
“Nyonya Starla mengalami komplikasi pasca operasi, saat ini masih dalam tahap penanganan. Tapi untuk bayinya sehat, bisa dibawa ke ruangan,” tutur suster tersebut bagai petir yang menyambar di siang hari.
Tubuh Zora terhuyung dan hampir jatuh jika saja Rain tidak lekas menangkapnya. Dadanya sesak, terasa ada beban begitu berat yang mengimpitnya. Napas Zora tersengal, dengan air mata yang terburai dari kedua netranya. “Ma ....” Sesak sekali, ia benar-benar kesulitan bernapas. "Mama,” panggil lzora dengan suara tercekat.
“Ma!” jerit Zora dengan tangis yang pecah. Rain segera mendekapnya dengan erat, memapah tubuh adiknya kembali duduk berharap bisa kembali tenang.
“Berdoa, Zora. Jangan seperti ini. Mama pasti kuat,” ucap Rain yang sebenarnya juga merasa hancur. Akan tetapi, ia harus kuat demi bisa menjadi sandaran orang-orang terdekatnya.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Operasi kedua telah selesai, bayi kecil Rico sudah berada di ruang rawat bersama Zora dan Rain. Sedangkan Rico, berdiri tegap di depan pintu ruang operasi. Kedua tangannya mengepal dengan begitu kuat, dadanya bergemuruh hebat saat ini.
Pintu operasi telah terbuka, dokter menghela napas panjang, sebelum akhirnya bersuara. “Tuan, Nyonya harus dipindahkan ke ruang ICU. Mohon maaf, beliau mengalami koma setelah .....”
__ADS_1
Penjelasan dokter selanjutnya sama sekali tak terdengar di telinga Rico. Hanya sebatas sampai koma, pandangannya langsung gelap seketika. Tanpa berucap apa pun, Rico kehilangan kesadaran.
\=\=\=ooo\=\=\=
Sudah empat bulan lamanya, Lala masih lelap di atas ranjang pasien dengan banyaknya alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
Selama itu pula, Rico sama sekali tidak ingin menatap putranya. Rasanya sungguh berat, ia terus mengingat Lala saat berjuang melahirkannya dan berakhir koma. Rico lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, pulang sekedar mandi sepulang kerja dan kembali ke rumah sakit untuk menemani sang istri.
Bukan karena benci, tapi Rico sungguh tidak tega. Seluruh persendiannya bahkan seolah terlepas dari raganya, ketika mendengar suara tangisan bayinya.
Bayi kecil tak berdosa itu dirawat oleh Hera dibantu Zora. Gadis itu belajar banyak hal dari neneknya, cara merawat bayi yang baik dan benar. Zora baru berani menggendong satu minggu terakhir, ketika adiknya sudah bisa menegakkan kepalanya.
“Hmm, Ozil udah wangi nih! Udah ganteng. Kita bangunin papa yuk, Dek!” ajak Zora ketika mencium pipi gembul adiknya. Semalam, Rico terlalu lelah. Sehingga ia ketiduran di kamar, bahkan belum sempat berganti pakaian.
Ozil Cemal Stevanus, nama yang dicetuskan oleh Zora kala itu. Karena sang papa bungkam tak bersuara, sedangkan Rainer, menyerahkan keputusan sepenuhnya pada gadis itu.
“Zora,” sergah Hera menggeleng, ia melarang. Karena selama ini Rico terlihat sangat membenci kehadiran malaikat kecil itu.
Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, Hera bergegas keluar mengekori cucunya.
Kebetulan sekali pintu tidak dikunci, sehingga Zora dengan mudah menerobosnya. Tubuh pria kekar itu tengkurap di atas ranjang king sizenya.
Zora mendudukkan adiknya di punggung sang papa. “Pa, bangun.” Zora menepuk-nepuk punggung kokoh itu dengan telapak tangan mungil Ozil.
Rico terperanjat, ia segera berguling dengan debaran dada yang kuat. Untung saja Zora sigap meraih adiknya.
“Zora! Ngapain kamu bawa dia ke sini?” tanya Rico membelakangi kedua anaknya. Hatinya berdenyut nyeri.
__ADS_1
Bukannya pergi, Zora justru mengitari ranjang hingga berdiri di hadapan ayahnya. Kapan lagi ada kesempatan, begitu pikirnya.
“Pa, lihat Ozil sebentar saja!” pinta Zora dengan nada memohon.
Rico justru membuang muka, “Keluarlah,” balas Rico tanpa menoleh.
“Pa....”
“Keluar, Zora!” sentak lelaki itu dengan mata memerah.
Geram dengan tingkah sang papa, Zora meletakkan Ozil di pangkuan Rico dan langsung melepasnya.
Rico sontak menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Degup jantungnya sungguh hampir berhenti, tidak terbayang jika sampai bayi mungil itu terjungkal ke lantai. Pelukan lelaki itu sungguh erat sekali, terlihat jelas Rico sangat takut kehilangan. Ozil sempat menangis karena terkejut, tetapi Rico refleks mengayunkannya dengan pelan sampai kembali terdiam.
Zora tersenyum getir, “Pa! Ozil butuh Papa! Jangan membenci Ozil, Pa. Disaat Ozil butuh orang tuanya, mama sakit sejak dia baru melihat dunia. Dan papa yang sehat malah mengabaikannya. Cukup aku aja yang enggak pernah kenal papa waktu kecil, jangan lakukan pada Ozil,” cecar Zora dengan suara gemetar. Sekali kedipan saja, air matanya tumpah ruah membasahi kedua pipinya.
Rico semakin mengeratkan pelukannya, kedua bahunya bergetar hebat sembari menciumi puncak kepala Ozil. Air matanya pun berjatuhan bahkan sampai membasahi kepala Ozil yang masih jarang ditumbuhi rambut.
“Papa hanya enggak tega kalau lihat dia, Sayang. Papa enggak kuat,” gumam Rico terisak. Ozil yang tidak mengerti apa-apa hanya mendongak, jari jemari kecilnya menyentuh pipi sang ayah dan menepuknya.
“Kalau Papa enggak kuat gimana dengan kami, Pa? Kami butuh kalian! Kalau saja Mama sadar, dia pasti sangat kecewa dengan sikap Papa!” teriak Zora di tengah isak tangisnya.
Hera yang mendengar obrolan mereka sedari tadi di depan kamar hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Menahan agar suara tangisnya tak terdengar siapa pun.
Rico beranjak berdiri, ia segera memeluk anak gadisnya. Keduanya menumpahkan segala sakit, tangis dan kerinduan pada Lala. Ozil masih berada dalam dekapan tangannya. “Maafin Papa, Sayang!” gumamnya penuh sesal.
__ADS_1
Bersambung~
Satu lagi deh.... Kepanjangan 😚