Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 72 ~ Jangan Nikah!


__ADS_3

Zora terperanjat dari tidurnya. Hampir saja keningnya kepentok sudut meja, jika tangan Rainer tidak sigap melindunginya. Pria itu sudah bangun lebih dulu, tepatnya tidak bisa tidur karena Zora yang tidak bisa tenang dalam tidurnya. Ia pun menggunakan waktunya untuk memantau pekerjaan dari jauh. Sesekali mengusap kepala adiknya agar kembali tidur.


“Astaga, ada apa, Zo?” desis Rain mendorong kepala Zora agar tidur kembali.


Zora kebingungan, memutar tubuhnya untuk memastikan di mana ia berada. Kembali duduk sembari menghela napas lega. “Kok tidur di sini sih, Kak?” ucapnya menguap sembari meregangkan tubuhnya.


“Kamu kira aku kuat gendong tubuh kamu sampai lantai atas? Takutnya malah kita jatuh berdua, terus menggelinding sampai bawah, remuk nanti!” seloroh Rainer masih fokus pada tab-nya.


Suasana masih sangat sepi, waktu hampir menunjukkan pukul 3 pagi. Cahaya yang berpendar tidak begitu terang, karena memang Rain meminta agar lampu-lampu utama dipadamkan.


“Kak?” panggil Zora merangkak hingga jaraknya semakin dekat dengan sang kakak.


“Hemm,” sahut Rain yang pandangan dan jemarinya tak beralih dari gadget di hadapannya.


“Iiihh! Kakak sibuk sendiri!” decak Zora kesal melirik tajam dengan ekor matanya.


Terpaksa Rain meletakkan semua pekerjaannya, memutar tubuh hingga sepenuhnya menghadap Zora, “Kenapa? Mau apa? Hmm?” tanya Rain dengan sabar menata rambut Zora yang berantakan.


“Aku laper, Kak!” rengek gadis itu meremas perutnya yang memang keroncongan.

__ADS_1


“Pantes pengen makan orang!” sahut Rainer dengan tawanya.


Pria itu beranjak berdiri, namun tangannya langsung ditahan oleh Zora yang mendongak dengan wajah memelas. "Ke mana?" tanya Zora.


“Katanya laper?” tanya Rain menunduk, Zora mengangguk pelan. “Yaudah ayo, kita cek dapur. Dari pada keluar malem-malem gini, belum tentu ada yang buka,” tambahnya menarik Zora agar berdiri.


Meski otaknya masih sedikit blank, Zora menurut. Mereka melenggang ke dapur. Siapa sangka, Rain justru mengobrak-abrik isi kulkas. Mengeluarkan beberapa sayuran dan telur.


Sedangkan Zora hanya duduk di atas mini bar, menahan kantuk sekaligus perut laparnya. Kepalanya bersandar di dinding yang dingin itu.


Usai menyalakan lampu dapur, pria itu menggulung lengan kemeja panjangnya. Dengan cekatan mengiris bahan-bahan yang ada dan segera mengeksekusi.


“Turun!” ajak Rain, namun Zora masih bergeming. Bahkan matanya kembali terpejam meski dalam posisi duduk.


“Kamu ngerjain aku, Zo?” desah Rain memicingkan mata.


Tak ada pergerakan, Rain pun menurunkan paksa gadis itu dan mendudukkannya di kursi. Tanpa rasa berdosa, Zora melebarkan senyumnya.


“Makasih, Kakak ganteng!” puji Zora mengusap wajahnya kasar. Malas jika harus mencuci muka terlebih dahulu.

__ADS_1


Rain menggeleng pelan, menuangkan air putih pada dua gelas dan meletakkan di depan mereka. Kemudian turut makan tengah malam, sama sekali bukan kebiasaannya.


"Kok Kakak pinter bikinnya. Aku kalau buat sendiri kenapa enggak enak ya,” cetus gadis itu menyeruput mie begitu nikmatnya.


“Alesan! Bilang aja males,” sahut Rain tertawa.


“Iya juga sih! Haha. Kak, jangan nikah dulu. Aku mau kayak gini terus. Belum puas rasain enaknya punya kakak.” Ucapan Zora sontak membuat Rainer tersedak. Hidungnya pengar, tenggorokannya panas dan juga pedas hingga air matanya keluar tanpa diminta.


“Aduh, Kak. Pelan-pelan dong!” seru Zora menepuk-nepuk punggung kekar sang kakak.


Zora segera berdiri, menyodorkan gelas milik sang kakak. Ia tampak menelan saliva, membayangkan sakitnya tersedak seperti itu.


 


 Bersambung~


Mampir ya, Best.. Di karya temen 😘


__ADS_1


__ADS_2