
“Emm ....” Lala mendongak, menaikkan kedua lengan di bahu sang kekasih. “Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak patut dicurigai juga? Kamu bahkan tidak memiliki ikatan darah dengannya. Terus kenapa bisa Rain begitu dekat denganmu?” ucap Lala dengan tatapan menggoda.
“Karena aku tampan, baik hati, rajin menolong!” sahut Rico asal yang mencekal kedua pinggang ramping sang kekasih. Wajahnya menunduk, bahkan sampai hidung mereka bersentuhan.
Lala mencebik, pria itu memang begitu percaya diri. “Nah, itu juga berlaku untuk Mbak Airin. Rain merasa nyaman bersamanya, pasti Mbak Airin juga wanita yang baik.”
Degup jantung perempuan itu semakin meningkat. Napas mereka saling beradu. Hawa panas melingkupi pasangan tersebut.
“Kamu juga baik, Jihan baik, tapi kenapa Rain tidak bisa dekat dengan kalian?” sanggah Rico yang memang benar adanya.
“Ric, kita tidak bisa memaksakan kehendak. Apalagi pada anak-anak. Agar kelak ketika dewasa nanti, dia bisa menentukan keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri. Sebagai orang tua kita wajib membimbingnya, tapi tidak mengekang maupun memaksanya,” tutur Lala dengan bijak.
Rico semakin terkagum-kagum dengan calon istrinya itu. Ia tidak tahan ingin segera mencium bibir ranum sang kekasih. Ciuman pun bersambut, hingga keduanya hanyut dalam pertemuan dua bibir hingga hampir kehabisan napas.
“Udah pinter banget jadi ibu. Nggak sabar, La! Pengen cepat punya anak dari kamu.” Rico berucap sembari menyeka bibir Lala yang basah.
Rona merah berpendar di wajah Lala. Ia lalu melepas lilitan tangan sang kekasih, berbalik untuk memindahkan barang-barang Rainer ke kamar sebelah. “Jangan ganggu!”
__ADS_1
Lala membuka pintu kamar tamu. Di sana, ia menemukan Rain sedang tertidur dalam pelukan Airin.
“Eh, maaf, Nona!” Airin terperanjat. Ia bergerak cepat hingga membuat Rain menariknya lagi dan memeluknya dengan posesif. Mau tak mau, Airin kembali merebahkan tubuhnya.
“Nggak apa-apa, Mbak. Lanjutkan saja sampai dia benar-benar tidur. Biar aku yang selesaikan.”
Lala berucap pelan sembari melenggang masuk menuju lemari penyimpan pakaian. Ia mulai menyusun pakaian Rain. Saat berbalik, Lala terkejut karena Rico sudah berdiri di belakangnya sembari membawakan sisa barang Rain.
“Rico! Ngagetin tahu!” seru Lala memegang dadanya.
“Udah habis. Ini terakhir,” balas Rico beralih menyusun pakaian Rain. Ia berbalik ke arah ranjang, menyaksikan anaknya yang memang tampak sangat dekat dengan wanita itu.
“Airin, Ric. Dih, masih muda udah pelupa!” serobot Lala.
“Oh, ya. Airin, tolong kalau butuh sesuatu atau ada apa-apa hubungi nomor saya. Itu di samping telepon ada daftar nomornya,” tunjuk Rico dengan dagunya.
“Baik, Tuan. Terima kasih banyak kepercayaannya,” sahut Airin mengangguk dengan senyum tipis.
__ADS_1
Rico mendekat ke sisi Rainer. Bocah itu sudah memejamkan mata, sembari memeluk erat pinggang Airin. Ia menunduk dan mengusap puncak kepala Rain. Airin menelan salivanya, gugup karena jarak mereka begitu dekat. Sampai mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Tolong jaga dia dengan baik!” pinta Rico menegakkan punggung, kembali menghampiri Lala.
Pria itu merengkuh sang kekasih, lalu mengajaknya keluar dari kamar. Bahkan terus melangkah hingga keluar apartemen.
“Loh, mau ke mana lagi?” tanya Lala bingung. Karena hari ini sudah tidak ada jadwal pertemuan apa pun.
“Ke apartemenmu lah!” sahut Rico dengan santai.
“Hah? Ngapain?” Lala tersentak.
“Aku mau tinggal sama calon istriku. Mana mungkin aku tinggal bersama wanita lain?” balas Rico mengedipkan satu matanya.
“Iih dasar genit!”
Lala mencubit perut sixpack Rico dengan gemas. Dua sejoli itu melenggang menuju tempat berbeda.
__ADS_1
Bersambung~