
Rico menghela napas lega ketika tangan yang ia cengkeram milik gadis pujaannya. “Lala, kamu mengejutkanku,” desisnya menarik tangan itu hingga tubuh Lala terhuyung dan jatuh di atas pangkuannya.
“Issh, padahal aku pelan-pelan nyentuhnya,” cebik Lala refleks menahan dada Rico. Merasa tak nyaman karena jarak keduanya begitu dekat.
“Kok bisa sampai sini? Katanya mau ke apartemen?” ujar Rico mendongak sembari merapikan setiap helai rambut panjang Lala.
Sepanjang perjalanan, ternyata Lala sudah bertanya tentang Rico pada Jihan. Alhasil, ia lebih memilih datang ke rumah sakit dan membelikan makanan dari resto terdekat.
“Ini bawain kamu makanan. Pasti belum makan malam,” ucap Lala menunjuk paper bag dengan matanya.
Sepasang netra Rico pun menunduk. Berbinar sembari tersenyum ketika merasakan perhatian dari gadis itu. “Makasih, La. Perhatian banget,” gumam Rico mencubit pelan pipi Lala, menggerakkannya ke kiri dan ke kanan.
“Iihh udah sana, buruan makan!” cetus Lala beranjak berdiri. Karena merasa tidak nyaman jika terus menerus berada di pangkuan Rico. Sangat tidak sehat untuk kesehatan jantungnya.
“Maunya disuapin. Gimana dong?” keluh Rico dengan nada manja.
Lala mencebikkan bibirnya, melirik ke arah ranjang, khawatir jika Rain akan terganggu. “Enggak usah manja deh. Aku mau pulang,” ucapnya hendak melenggang. Tubuhnya sudah terasa seperti tersengat aliran listrik. Denyut jantungnya antah berantah. Ia yakin tidak akan kuat jika terus berada di sana.
“Eh, tunggu dulu!” Rico menarik lengan Lala hingga kembali terduduk di sofa. “Kamu belum kasih jawaban.”
“Jawaban apa?” Lala pura-pura lupa.
“Will you marry me?” tegas Rico tanpa basa basi.
Terpaksa, Lala menoleh. Dua pasang manik mata itu saling beradu. Menyelam hingga menembus ke hati mereka masing-masing. Menimbulkan getaran rasa yang membuncah.
“Yess, I will!” sahut Lala mengangguk, diiringi senyuman yang lebar.
Rona-rona bahagia yang terpancar, seketika tidak bisa ditutupi lagi. Rico menganga tak percaya. Langsung memeluk tubuh ramping Lala dengan sangat erat.
__ADS_1
“Makasih. Maaf, aku nggak ada persiapan apa-apa. Cuma modal nekat. Setelah ini aku akan menemui orang tuamu di Bandung.” Rico berucap mesra di telinga Lala.
Gadis itu hanya mengangguk beberapa kali. Tak dapat dipungkiri, Lala juga sama bahagianya. Ternyata, cintanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.
Rico meregangkan pelukannya. Meraih dagu lancip sang kekasih, dan semakin mendekatkan wajahnya.
“Ayah! Ayah!”
Panggilan berulang yang menggema di ruangan, memudarkan keromantisan mereka berdua. Lala mendorong dada Rico dengan cepat. Lalu segera beranjak mendekati ranjang Rainer.
“Huuuffft!” desah Rico dalam helaan napas panjang. Perlahan turut bangkit dan mendekat pada putranya itu.
“Rain, mau apa? Pengen minum? Atau mau buah? Aku kupasin ya,” tawar Lala mencoba mendekatkan diri pada anak itu.
Akan tetapi Rain justru mengunci bibirnya. Enggan membuka suara dan hanya menatap datar wanita cantik di hadapannya. Lala pun mundur, memberikan tempat pada Rico karena mendapat tatapan tidak suka dari anak itu.
“Tenang aja. Dia masih menyesuaikan diri.” Rico berbisik pelan di belakang tubuh Lala sembari meremas lembut bahu perempuan itu.
“Sakit, Ayah. Aku mau pulang. Tidur di rumah Ayah,” ucap bocah lelaki itu.
Rico membelai puncak kepala Rain dengan lembut, menatapnya penuh perhatian. “Dengar. Kalau kamu pulang, nanti tanganmu tambah sakit. Darahnya keluar terus, Ayah nggak bisa ngobatinnya. Gimana? Mau kayak gitu?” papar Rico merayu. Rain menggeleng pelan.
“Makanya, nurut apa kata dokter dan Ayah biar cepet sembuh. Nanti kalau sembuh Ayah ajak jalan-jalan sama Mama,” seloroh Rico meraih jemari Lala. Tentu saja Lala terkejut, namun hanya bisa memaksa bibirnya untuk tersenyum menatap Rainer.
Kerutan di dahi Rain semakin dalam saat mendengar ucapan Rico. Kemudian melempar tatapan datarnya pada Lala. Ia tampak tidak suka dengan kehadiran perempuan itu.
“Dia akan menjadi mama kamu, Rain. Jadi mulai sekarang, biasakan panggil mama ya. Mama muda,” celetuk Rico menaik turunkan alisnya.
Mata Rainer justru berkaca-kaca. “Nanti ayah ninggalin aku. Nggak mau, Ayah. Nggak mau!” seru Rainer mulai menangis.
__ADS_1
“Ric, sebaiknya aku pulang aja ya. Besok aku ke sini lagi.” Lala membisik. Ia merasa Rain tidak nyaman dengan kehadirannya.
“Ini sudah malam, La.”
“Enggak apa-apa. Aku pesen taksi online aja,” balas gadis itu sembari memainkan ponselnya.
“La,” rengek Rico merasa berat ditinggalkan oleh wanitanya. Ia juga merasa khawatir, mengingat malam sudah larut.
Hingga sebuah kecupan mendarat di pipi Rico, membuat tubuh lelaki itu mematung seketika. “Kasihan Rain. Kata kamu pelan-pelan aja,” ujarnya membelai sebelah pipi Rico lalu melenggang pergi.
Pintu yang tertutup, menyadarkan Rico dari lamunan. Ia beranjak dan memeluk Rain untuk menenangkannya. “Tenang aja. Apapun yang terjadi, Ayah nggak akan ninggalin kamu. Ingat itu baik-baik. Kamu anak ayah!” tegas Rico menepuk pelan punggung Rainer.
...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...
Helaan napas panjang berembus dari mulut Lala. Ia tidak tahu rasa apa yang sebenarnya lebih dominan di benaknya. Di satu sisi bahagia setelah mendapat kejelasan status dari Rico. Di sisi lain, ia khawatir Rain tidak bisa menerimanya. Apalagi sejak pertemuan pertama mereka, Rain memang terlihat tak nyaman bersamanya.
“Sepertinya tugasku kali ini, meluluhkan hati Rain,” gumam Lala memeluk ponselnya. “Ah, Nona Cheryl pasti bisa membantu!” seru Lala melanjutkan langkahnya.
Lala fokus dengan ponsel untuk berkomunikasi dengan driver taksi online yang menerima orderannya. Tanpa sengaja seorang pria bertubuh kekar menabrak bahunya hingga Lala terjengkang ke lantai.
“Aw!” ringis Lala yang kemudian merangkak meraih ponselnya. Untung saja, benda pipih itu tidak rusak.
Lala berdiri sembari menepuk gaunnya yang sedikit kotor. Lalu mendongak, jalannya tertutup oleh tubuh pria kekar yang menatapnya dengan bengis. Tatapan itu mampu membuatnya bergidik.
Bersambung~
Gaess... kasi bunga tuh, uncle ric. masa lamaran kosongan 🤣🤣 ah dasar nggak modiaal.
__ADS_1