
Rico mendengar suara yang tidak asing ketika masih berkeliling. Berusaha menetralkan debaran jantungnya, dan memberanikan diri untuk memastikan. Terpaku ketika berada di ambang pintu, matanya menemukan Lala.
“Lala!”
DEG!
Jantung Lala seketika berdenyut kuat, ketika mendengar suara yang sangat ia rindukan. Desiran darah yang mengalir dalam tubuhnya semakin deras. Napas yang ia embuskan teramat berat.
Dua netra Lala berembun, sama sekali tak berkedip menyorot pada pria di ambang pintu itu.
Perlahan, Rico menyeret kedua kakinya yang terasa berat. Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Takut hanya halusinasi, Rico sendiri sama sekali tak berkedip. Khawatir apa yang ia lihat akan menghilang.
“La,” panggil Rico lagi menelan saliva susah payah.
Rain menyingkir, menyuruh Zora bergeser untuk memberi jalan ayahnya. Gadis itu mencebik kesal, namun karena penasaran ia pun menggeser tubuhnya. Menatap dua insan yang semakin tak berjarak.
“Ini, Starlaku? Starla Caramel?” ucap Rico dengan suara parau. Kedua matanya merah sepenuhnya. Dadanya sesak menahan air mata.
“Edrico, Edrico Stevanus yang menyebalkan,” sahut Lala mengembangkan dadanya kuat-kuat, kemudian mengembuskan napas beratnya.
__ADS_1
Tidak tahan lagi, genangan air mata mulai membobol pertahanan. Hingga membanjiri kedua pipinya.
Satu tangan Rico terangkat, gemetar ketika merapikan anak rambut Lala di belakang telinga. Kemudian menangkup pipi Lala dan menyeka air mata perlahan.
“Ini bukan mimpi. Ini nyata!” seru Rico menangis tersedu, menarik kedua bahu Lala dengan kuat ke dalam dekapannya.
Memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, menumpahkan sesak dan tangis yang ia pendam selama puluhan tahun.
Sungguh, Rico saat ini terlihat sangat rapuh. Tidak seperti biasanya yang selalu tegap, galak dan pasang badan untuk para bosnya.
“Ya Tuhan, La!” seru Rico menangis tersedu, bahkan sudah seperti anak kecil. “Kamu ke mana aja?!”
Lala tak kuasa menjawab, dadanya masih terasa sesak. Berbicara saja ia kesulitan. Hanya deraian air mata yang menjawab pertanyaan Rico.
Cheryl menoleh pada Zora, ia memeluk gadis itu dengan sayang. Meski saat ini tubuh Zora menegang sepenuhnya. Bahkan bulir keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya.
“Ma, mungkin dari luarnya ayah terlihat kuat dan baik-baik saja. Tapi aku tahu, dia sering menangis kalau malam. Sambil memeluk foto mama, memeluk surat terakhir dari mama. Ayah benar-benar hancur setiap sendirian.” Rain menyela pembicaraan mereka.
Pelukan dua orang itu terlepas, keduanya menatap Rain yang kini mengurai senyum. “Sejak ibu meninggal, ayah semakin terpuruk dan hancur. Dunianya hanya diisi dengan bekerja dan fokus merawatku, sesuai pesan mama.”
__ADS_1
Rain menggenggam tangan Lala, netranya berair, “Maafin aku, Ma. Yang waktu itu egois dan merebut ayah. Aku sangat merasa bersalah bahkan sampai detik ini. Karena gara-gara aku, kalian semua menderita. Ayah, maaf,” ujar Rain menunduk.
“Mbak Airin meninggal?” lirih Lala menelan salivanya dengan berat.
Rain menjawab dengan sebuah anggukan. “Udah lama. Aku masih kecil. Mungkin mama dan ayah butuh waktu berdua. Kami permisi dulu. Sekali lagi, aku minta maaf, Ma,” ucapnya menarik lengan Cheryl dan juga Zora agar keluar dari sana.
Rain membantu sebisanya, selebihnya menyerahkan keputusan pada dua orang dewasa itu.
Zora melenggang lebih dulu, tanpa menoleh, ia terus berjalan menegakkan punggungnya. Matanya memerah sedari tadi, dagunya terangkat, seakan memberi tahu semua orang jika dia baik-baik saja.
Tetapi itu semua tentu hanya topeng. Meski tidak begitu mengerti bagaimana jalan ceritanya, tetapi sedikit banyak mengerti alurnya. Hatinya teramat sakit. Langkah kakinya entah mau membawanya ke mana.
Rain dan Cheryl mengikutinya dari belakang. Dan benar saja, lama kelamaan, bahu Zora bergetar hebat, tangis itu pecah. Susah payah Zora menahannya tapi tidak bisa.
“Kenapa kalian semua egois?! Kenapa?” teriak Zora dalam deraian air mata. Tidak peduli semua perhatian terpusat padanya.
Penampilannya kacau, tangannya sibuk menyeka air mata di kedua pipinya. Sialnya, air mata itu semakin deras menghujani pipinya. Zora menangis meraung, “Kalian semua egois! Brengsek! Nggak punya hati!” teriak gadis itu lagi terus melanjutkan langkahnya.
Rain menarik pergelangan tangan Zora hingga terhenti. Lalu memeluk gadis itu dengan erat. Tidak melepasnya sekalipun Zora memberontak. Kalah, Zora memilih pasrah. Menangis kuat dalam sandaran dada Rain. Pria itu pun semakin dihujani rasa bersalah.
__ADS_1
Bersambung~