Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 38 ~ Izora Finley


__ADS_3

Sebuah brankar pasien kini berhenti tepat di hadapan Rico. Selimut putih yang sempat menutup ujung rambut hingga kaki, perlahan dibuka sedikit. Menampakkan wajah pucat Airin yang sudah terlelap dengan damai.


Tatapan nanar tertuju pada perempuan itu. Wajah yang tidak pernah terlintas di bayangannya sedikit pun.  Tenggorokannya tercekat, bahkan tak berniat untuk menyentuhnya. Namun dadanya terasa terimpit beban yang sangat besar. "Maaf." Kata yang bahkan sangat terlambat dan percuma untuk terucap.


Tak lama kemudian perawat segera mendorongnya kembali. Disusul dengan sebuah brankar khusus bayi. “Boleh aku menggendongnya?” tanya Rico.


“Silakan, Tuan,” ucap salah satu perawat membantunya.


Bayi perempuan berukuran sangat kecil. Berat yang baru mencapai 300 gram, dengan panjang 25 cm. Rico menunduk, menatap bayi yang begitu kecil dalam dekapannya.


Sesak kian menjadi, bahkan hingga usianya sudah 20 minggu, Rico sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Tubuhnya gemetar, memeluk erat bayi itu dengan lelehan air mata yang deras. Tidak pernah menyangka, jika malam tak disengaja itu, telah menumbuhkan benih di rahim Airin. Wanita yang tidak pernah ia jamah dalam kondisi sadar.


“Maafin Ayah,” gumam Rico dengan suara bergetar.


“Sabar ya, Ric.” Jihan menepuk-nepuk lengan lelaki itu. Mencoba menguatkannya.


Setelah meninggalkan beberapa ciuman pada wajah yang sangat sempit itu, Rico mengembalikan bayinya di brankar.


DEG!


Tiba-tiba Lala terlintas dalam benaknya. Dalam hati Rico bertanya-tanya mengenai keadaan wanitanya itu. Apakah Lala juga hamil? Mengingat mereka melakukannya beberapa kali.


Dada Rico semakin sesak, ia terduduk meremas dadanya dengan kuat. Geram dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menemukan Lala.


‘Bagaimana kalau Lala hamil? Bagaimana kondisi Lala di luar sana? Apakah dia bisa hidup dengan layak? Apa dia bahagia?’ gumam Rico dalam hati merasa linglung. Meremas kepala yang berdenyut nyeri.


“Kita harus segera melakukan proses pemakaman. Kamu harus kuat, Ric. Karena kamu satu-satunya sandaran Rain saat ini,” ucap Jihan dengan bijak.


...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...


Senja menembus cakrawala, menjadi saksi beberapa orang yang menunduk dalam kebisuan tepat di atas gundukan tanah, setelah proses pemakaman selesai.

__ADS_1


Satu per satu pengiring berbaju hitam meninggalkan pusara. Hingga kini hanya menyisakan Tiger, Rico, Jihan dan kedua orang tua Rico. Meninggalkan Latisha, yang bertugas menjaga Rain dan Cheryl di rumah.


“Pelaku sudah tertangkap. Jika diserahkan ke polisi, kemungkinan bisa bebas lagi. Karena dia punya kuasa yang cukup tinggi. Dia ada di tahanan markas,” ucap Tiger memecah suasana.


“Mmm, dia mantan suami Airin. Sepertinya karena masalah warisan,” sahut Rico masih menatap nanar pusara Airin.


“Kau! Ikut aku!” sentak Tiger menatap tajam pada Rico. Lalu melenggang dengan langkah panjangnya keluar dari area pemakaman.


Tiger bersandar pada mobilnya, menyilangkan tangan di dada, sorot matanya sudah terlihat seperti hendak menerkam mangsa. Rico hanya menundukkan kepala, tidak berani berucap sebelum ditanya.


“Kapan kamu menikahi Airin? Bahkan di saat Lala belum ditemukan. Apa kamu tidak mengingat bagaimana kamu merengek meminta bantuan untuk mencari Lala? Lalu apa yang kamu lakukan, hah?” sentak Tiger mengepalkan kedua tangannya.


Sebrengsek-brengseknya Tiger, dia tidak pernah mempermainkan wanita. Dan kejadian itu, tentu membuatnya sangat terkejut sekaligus kecewa.


“Maaf, Tuan.” Rico semakin menunduk dalam.


“Aarrgh!” Tiger berteriak sembari menendang mobilnya. “Kalaupun aku bisa menemukannya. Aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu!” tegas Tiger.


“Lalu kenapa kamu menikahi Airin bahkan ia juga sampai hamil?” bentak Tiger menggelegar.


"Saya dalam pengaruh alkohol...."


“Maaf, semua salah saya. Saya yang memaksanya menikah, karena kegagalan sebelumnya membuat istri saya stres dan tertekan, Tuan.” Ayah Rico menyela perdebatan dua pria itu.


“Hah! Aku tidak tahu jalan pikiran kalian! Terserah. Aku tidak akan ikut campur lagi!” seru Tiger berjalan cepat menghampiri istrinya, dan mengajaknya pulang.


Rico terduduk di atas aspal, di bawah langit yang mulai menghitam, karena matahari pulang ke peraduan. Bibir pria itu terkunci rapat dengan tatapan kosong, setiap kedipan matanya selalu mengalirkan tetesan buliran air mata. Entah, ia sendiri tidak bisa menjabarkan isi hatinya.


Jery merasa bersalah, melihat putranya yang tertekan seperti itu. Ia melihat sendiri betapa terpuruknya Rico, hatinya ikut sakit mendengar pengakuan Rico. Begitu dalam cinta lelaki itu pada wanita yang gagal menjadi menantunya.


“Ayo pulang! Sekarang kamu harus jaga Rain baik-baik. Dia pasti sangat membutuhkanmu! Maaf karena tidak mengerti kamu,” ajak Jery yang sama sekali tidak dijawab oleh Rico.

__ADS_1


...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...


Lala terbangun ketika mendengar suara tangisan bayi yang tak kunjung berhenti. Ia memaksa membuka mata walau masih terasa berat.


“Sini, sini sama Mama.” Lala beranjak duduk dan bersandar di kepala ranjang.


“Aduh, maaf ya, La. Kamu jadi terbangun,” ucap Nyonya Felix merasa tidak enak.


Mereka semua sudah bergantian untuk menimang bayi kecil itu. Namun tak satu pun yang bisa menenangkannya.


“Nggak apa-apa, Nyonya. Mungkin dia haus,” sahut Lala tersenyum.


Bayi itu sudah berpindah ke lengan Lala. Menatapnya penuh cinta sembari membuka kancing kemejanya. Memberikan sumber kehidupan untuk putrinya.


“Sudah keluar asinya, La?” tanya Nyonya Finley mendekat.


“Sedikit,” sahutnya meringis. Merasa geli sekaligus sakit ketika bayi itu mulai mencecap ASI-nya.


“Eh, siapa namanya, La?”


“Iya, ya. Belum dikasih nama!” seru teman-teman Lala mendekati ranjang.


Lala tersenyum, tak mengalihkan tatapannya pada bayi cantik itu. “Izora Finley, yang berarti, pejuang yang adil dan menjadi cahaya. Ya, dia adalah cahaya hidupku.”


“Cantik sekali namanya!” seru mereka serentak.


Bersambung~


Gaiss bantu ramein ya... ikut event. kali aja beruntung 😬


__ADS_1


__ADS_2