Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 19 ~ Curiga


__ADS_3

Lala mengerjapkan mata, menatap Airin dan Rain yang kini tengah menyorot padanya melayangkan sebuah tatapan permohonan.


Helaan napas panjang diembuskan oleh gadis itu. Menelan salivanya sembari tersenyum. “Yaudah, kalau bisa buat Rain nyaman. Nggak masalah. Lagian nanti kita bisa lebih fokus urus pernikahan kita,” jawab Lala merangkul lengan calon suaminya.


Rico mengangguk membenarkan. Kemudian Rico beralih pada Rainer dalam gendongannya. Senyum tipis menghias bibir anak itu. “Bibi itu mau jagain kamu. Apa kamu mau?” tawar Rico.


“Mau, Yah!” sahut Rain bersemangat. Ia langsung meminta turun untuk menghampiri Airin dan memeluk salah satu kakinya.


Airin mematung, takut kalau pasangan yang ada di hadapannya itu curiga padanya. Ia pun menunduk, pura-pura sok akrab dengan Rain—putra kandungnya. Dalam hati, Airin bersorak gembira. Karena pada akhirnya, ia tidak perlu menahan rindu yang selalu membelenggu.


“Baiklah, berhubunga saya dan calon istri akan sangat sibuk dalam dua minggu ke depan, tolong jaga baik-baik anak saya. Siapa nama kamu?” tanya Rico.


“Airin, Tuan,” sahutnya mengangguk pelan. Tanpa berani menatap ke arah lawan bicara.


Rico lalu mengajaknya makan siang bersama di restoran tak jauh dari butik milik Jihan. Rain tampak begitu antusias dan menempel pada wanita itu. Sama sekali tidak canggung ketika Airin menyuapinya.


Lala ikut bahagia melihatnya. Sedangkan Rico menautkan kedua alisnya, ia justru menaruh curiga. Mengingat selama ini, Rain tidak bisa dekat dengan wanita mana pun. Baik itu Jihan maupun Lala.

__ADS_1


“Setelah ini akan aku antar ke apartemen.” Rico menyadarkan kedekatan ibu dan anak itu.


“Ah, baik, Tuan!” ucap Airin mengangguk.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Rico mempersilakan Airin untuk masuk ke apartemen miliknya, sekaligus memberikan password untuk akses masuk.


“Kamar kamu ada di sana,” tunjuk Rico ke sebuah kamar kosong. “Dapur sudah ada bahan-bahan kalau mau memasak.”


Lala hanya menelan salivanya ketika membayangkan sang kekasih berada dalam satu apartemen dengan wanita lain. Tiba-tiba ada rasa sesak yang mulai mengimpit. Tetapi, hatinya pun tak tega memisahkan ibu dan anak itu. Terbayang jika dia yang berada di posisi Airin.


“Mau tidur sama Bibi?” serobot Airin takut jika putranya memanggil dengan sebutan ibu.


“Heem!” ucap Rain mengangguk yang masih dalam gendongannya.


“Yakin?” sahut Rico mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Lala menyentuh lengan pria itu, “Sudahlah, biarkan saja. Lagi pula, Rain tampak nyaman bersamanya. Aku bantu pindahin barang-barang Rain ya,” tawarnya melenggang masuk ke kamar Rico.


Langkah Lala terhenti ketika tidak bisa membuka pintu yang terbuat dari baja itu. Menoleh ke belakang, ternyata langsung bertabrakan dengan Rico. Karena tanpa ia sadari, Rico mengikutinya dari belakang.


“Kuncinya masih di sini, Sayang,” bisik Rico melingkarkan lengannya pada pinggang ramping gadis itu.


Lala terlonjak sekaligus malu, ia melirik Airin yang ikut tersenyum melihatnya. “Ihh, kenapa nggak bilang?” cebiknya mendorong dada Rico yang tak berjarak dengannya.


“Kamu nggak nanya sih!” Rico meraih sebuah kunci dan membukanya. Buru-buru Lala masuk ke kamar bernuansa hitam dan silver itu, mengabaikan lelakinya yang hanya terkekeh.


Perempuan itu menuju lemari yang ia yakini semua barang Rain juga ada di sana. Dan benar ketika menggeser salah satu pintu, tumpukan baju-baju Rain terlipat rapi. Lala mengeluarkannya sedikit demi sedikit, mondar mandir menumpuknya di atas ranjang.


Tiba-tiba tersentak, ketika Rico memeluknya dari belakang. Menyibak rambut panjangnya ke samping. Hingga ia dengan leluasa menciumi bahu Lala.


“Ric!” pekiknya memberontak dan berusaha menjauh. Tubuhnya merinding seketika.


“Kamu kenapa semangat sekali? Apa kamu percaya begitu saja dengan orang asing?” tanya Rico ketika mereka saling berhadapan.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2