
“Enggak apa-apa. Udah selesai belum? Aku haus,” ucap Lala melingkarkan lengan di pinggang Rico. Lalu segera memutar langkah, agar Rico tidak melihat ke arah Rainer. Ia tidak ingin merusak suasana pertemuan ibu dan anak itu.
Sebelah alis Rico terangkat, ia memicingkan mata curiga pada kekasihnya itu. Namun Lala terus mengalihkan perhatiannya hingga kini keduanya masuk kembali ke butik.
“Nanti kita resepsinya sekalian aja ya. Habis janji suci. Biar malemnya bisa langsung gas!” bisik Rico di telinga Lala.
Sontak saja perempuan itu membeku, matanya mengedar takut kalau ada yang mendengar. “Iiih, bicaranya itu loh.” Lala mencubit pinggang Rico gemas.
“Lo, kenapa? Memang begitu ritual pengantin baru ‘kan?” Rico tersenyum sembari menaik turunkan alisnya.
“Ah, udah ah. Jangan dibahas mulu. Udah makan belum?” Lala malu membahasnya. Ia mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya, Rain mana? Dia juga belum makan siang.” Rico menepuk dahinya. Memutar tubuh untuk mencari keberadaan anaknya itu.
Tepat sekali ia berdiri sejajar dengan Rain yang kini beralih duduk di sebelah ibunya. Hanya saja, dua orang itu tampak akrab.
Rico mendelik, segera ia berlari dengan kaki panjangnya keluar ruangan penuh kaca itu. Segera menyambar tubuh Rain dan menggendongnya.
__ADS_1
Rain dan Airin sama-sama terkejut. Wanita itu beranjak berdiri, bibirnya bergetar, bingung bagaimana mencari alasan.
“Siapa kamu?” selidik Rico dengan tatapan tajam.
Jiwa ksatrianya muncul ketika merasakan alarm bahaya mengintai putranya. Satu tangannya menekan kepala Rain agar tidak menghadap wanita di hadapannya. Rico takut modus penculikan anak dengan metode hipnotis. Berbagai pikiran buruk memenuhi pikirannya.
“E ... saya ....” Airin mendadak gugup. Apalagi ketika matanya bertautan erat dengan manik elang Rico.
“Apa? Kau mau menculik anakku?” sentak Rico mendelik tajam.
“Bukan, Tuan! Tadi saya menemukan anak ini duduk sendirian. Saya khawatir, jadi saya temani di sini. Itu saja. Enggak lebih, Tuan.” Airin mencoba meyakinkan. Dadanya berdegup dengan begitu kuat.
Lala baru sampai, berdiri di sebelah Rico. Memeluk lengan lelakinya sembari mengusapnya perlahan, agar tidak emosi berlebih. Apalagi kini mata Airin mulai berkaca-kaca.
“Jangan buruk sangka, Sayang,” bisik Lala yang seolah mengerti perasaan Airin.
“Waspada itu perlu!” balas Rico masih menatap tajam Airin.
__ADS_1
Rain tidak berani berucap. Ia selalu ketakutan jika ada orang yang bersuara keras. Pelukannya menguat di leher Rico.
“Demi Tuhan. Saya tidak ada niatan untuk menculik anak, Tuan. Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan anak.” Airin berucap dengan suara bergetar. Otaknya berpikir dengan cepat untuk meyakinkan lelaki itu.
Dalam hati Airin sangat bersyukur. Ternyata lelaki di hadapannya sangat menyayangi putranya. Ia semakin menangis, karena terharu. Sedangkan dalam pikiran Rico, wanita itu tengah merasakan kesedihan mendalam.
“Maaf. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anakku.” Rico menurunkan nada bicaranya. Merasa bersalah telah menuduh sembarangan.
“Tidak apa-apa,” sahut Airin menyeka air matanya.
Rain menengok, menatap ibunya yang terlihat sedih. Bibir wanita itu tampak tersenyum dengan anggukan tipis. Bahagia karena putranya jatuh di tangan yang tepat dan bertanggung jawab.
“Apakah Tuan membutuhkan karyawan. Atau mungkin babby sitter, Tuan? Kebetulan saya baru saja bercerai dengan suami saya. Saya kehilangan segalanya. Termasuk putra saya.” Airin mengajukan diri. Rasanya, ia sama sekali tak ingin jauh dari putranya.
Rico menoleh pada Lala, sorot matanya meminta persetujuan. Lala memutar bola matanya ke sana ke mari. Bingung harus menjawab apa.
Bersambung~
__ADS_1