Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 25 ~ Mengundurkan Diri


__ADS_3

Sepasang kaki jenjang Lala melangkah dengan berat. Ingin menahan laju air matanya tetapi tidak bisa. Bulir bening itu terus menerobos paksa hingga berjatuhan di lantai. Kepalanya terus menunduk, seolah sedang mencari barangnya yang hilang.


“Nona Lala, silakan. Tuan sudah menunggu,” ucap sekretaris membukakan pintu. Ia sudah tahu kedatangan Lala dari resepsionis.


Lala mengangguk tanpa bersuara, melenggang dengan langkah gontai hingga berdiri tepat di depan meja kerja yang begitu luas dihiasi setumpuk berkas. "Permisi, Tuan. Maaf saya mengganggu," gumam Lala dengan suara lirih.


Pria di balik meja besar itu mendongak, “Kau datang sendiri? Mana calon suamimu?” tanya Tiger mengerutkan dahinya.


Tiba-tiba Lala berlutut, menunduk dengan bahu berguncang. “Tolong saya, Tuan. Hanya Anda yang bisa menolong saya,” ucapnya dengan suara parau, mengabaikan pertanyaan Tiger.


“Hei! Apa-apaan kau? Bangun!” teriak Tiger beranjak berdiri. Terkejut dengan sikap Lala yang  menurutnya berlebihan.


“Anda satu-satunya orang yang bisa menolong saya, Tuan," jawab Lala menggeleng beberapa kali.


Tiger mengembuskan napas kasar, “Iya! Iya! Saya bantu. Kamu butuh apa? Masih ada yang kurang? Katakan saja berapa nominal yang kamu butuhkan. Tidak perlu sampai berlutut seperti itu. Bangunlah, La! Aku bukan dewa atau Tuhan yang patut kamu sembah!” decak Tiger kesal.


“Tolong ganti semua dokumen pernikahan saya,” pinta Lala dengan hati yang remuk redam.


“Apa maksudmu? Kamu ingin membatalkan pernikahan itu?" berang Tiger di tengah keterkejutannya. Bagaimana tidak? Pernikahan antara bawahannya dengan orang kepercayaan istrinya itu sudah di depan mata. Tetapi kini tiba-tiba meminta untuk mengganti dokumennya. Sungguh, Tiger tak habis pikir.

__ADS_1


"Saya mohon," pinta Lala lagi.


"Kau gila, La?!" sentak Tiger dengan nada tinggi.


Ruangan yang tadinya sunyi kini menggelegar dengan pekikan suara Tiger. Lala tertunduk dan semakin terisak.


Tiger mengendurkan dasinya, duduk di kursi kebesaran lalu meneguk air putih yang ada di meja. Meja yang sebelumnya dipenuhi minuman alkohol, sekarang hanya terisi air putih karena istrinya. Lelaki itu segera meraih ponsel dan meminta sang istri agar segera datang ke kantor.


Terdiam, dua makhluk di ruangan itu kini tak saling bersuara. Hanya isak tangis Lala yang mendominasi. Tiger sendiri tidak ingin semakin emosi jika membiarkan Lala terus berbicara.


Entakkan heels yang membentur dengan keras dan cepat, menggema di lantai teratas gedung Sebastian Group. Jihan terburu-buru setelah mendapat kabar dari Tiger yang mengatakan ada hal urgent. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya.


Mata Jihan membelalak lebar, mulutnya pun menganga. “Lala! Apa yang kamu lakukan? Ngapain kamu?” Jihan beralih menatap suaminya. “Tiger, apa yang kamu lakukan padanya sampai dia seperti ini, hah?” sentak wanita itu berkacak pinggang. Ia akan membela orang kepercayaannya itu sekalipun harus berhadapan dengan sang suami.


“Apa, Sayang? Aku nggak ngapa-ngapain. Tanyakan saja sendiri. Keinginannya hanya membuat kupingku panas!” gerutu Tiger tidak terima.


Jihan menoleh ketika tangannya diraih oleh Lala. Wajah dan penampilannya sangat berantakan. Rambut juga pakaiannya masih setengah basah. Ia berjongkok dan membantu Lala berdiri.


“Kamu kenapa, La?” Jihan langsung memeluknya.

__ADS_1


Jihan tentu tidak tega melihat Lala terpuruk seperti itu. Karena perempuan itu yang menemaninya berjuang dari nol. Lala yang diajak pontang panting di negeri orang, hingga ia bisa sesukses sekarang.


“Nyonya,” gumam Lala dengan suara serak. Namun tangisnya semakin pecah. Teringat, sang bos itu selalu mewanti-wanti untuk menjaga kehormatannya sampai menikah. Tapi apa yang ia lakukan? Penyesalannya sama sekali tak berguna.


“Duduk dulu ya,” ajak Jihan yang ikut berkaca-kaca, memapah sang asisten duduk di sofa ruangan suaminya. Selama mereka bersama, mengarungi suka dan duka, Jihan sama sekali tidak pernah melihat Lala menangis sampai seperti itu.


Jihan membelai kepala Lala dengan sayang, ia sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Tiger menggaruk keningnya sembari menghela napas panjang. Tidak mengerti kerumitan perasaan wanita. Karenanya, langsung mengalihkan tugas pada istrinya.


Setelah beberapa saat, Lala sudah bisa lebih tenang. Ia menegakkan punggung meremas kedua tangan Jihan dengan kuat. Matanya yang merah kebanyakan menangis kini menyorot tepat pada manik Jihan yang tengah kebingungan.


“Nyonya ....” Lala menelan salivanya susah payah. Dadanya mengembang dan mengempis dengan kuat. “Saya ingin mengundurkan diri,” lanjutnya.


“Apa?!” teriak Jihan menggelegar.


 


Bersambung~


Kalau aku crazy up kenapa sepi komennya ya 🙃 jadi pen koprol

__ADS_1


__ADS_2