Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 32 ~ Balas Budi


__ADS_3

“Maaf, cari siapa?” tanya Airin dengan sopan pada seorang pria paruh baya yang berdiri di hadapannya.


“Di mana Rico?!” tanya pria itu balik tanpa basa-basi.


“Silakan masuk, Tuan.” Airin mundur beberapa langkah, memberikan jalan pada pria itu.


Airin bergegas kembali ke ruang makan usai mempersilakan duduk. “Tuan, seseorang mencarimu,” ucap Airin di belakang punggung Rico.


“Siapa?” tanya Rico tanpa menoleh.


“Maaf, saya juga tidak tahu,” sesal Airin menunduk.


Dengan malas, pria itu meninggalkan meja makan, berjalan santai menemui tamunya. Seingatnya, ia tidak memiliki janji dengan siapa pun.


“Ayah?” tegur Rico setengah terkejut. Tanpa pemberitahuan apa-apa, tiba-tiba pria tua itu datang ke apartemennya untuk pertama kali.


Rico duduk di hadapan ayahnya yang kini melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


“Siapa wanita itu?” geram Jery, mengepalkan kedua tangannya.


“Dia ....”


“Sudah berapa lama tinggal bersamamu?” sentak Jery lagi.

__ADS_1


Rico menghela napas berat, ia mengaku bahwa Airin adalah ibu kandung Rain. Meski selama ini tinggal bersama, semua hanya demi Rain. Tidak lebih.


“Nikahi dia!” tegas Jery yang seketika membuat bola mata Rico hampir keluar. Napasnya semakin berat.


“Tidak!” tolak Rico tak kalah tegas. “Aku akan tetap menunggu dan mencari Lala sampai kapan pun!” lanjutnya dengan rahang mengeras.


“Ibumu sakit, dia stress karena pernikahanmu yang gagal. Para tetangga terus menggunjingnya.”


Rico mendelik, “Kenapa ayah tidak pernah menghubungiku?” serunya khawatir.


“Ibumu yang melarang. Dia sangat memikirkanmu. Mengabaikan tubuhnya yang semakin lemah. Tolong, selamatkan muka orang tuamu,” pinta Jery memohon. Menatap putranya berkaca-kaca.


“Tidak bisa, Yah. Lagi pula kenapa harus dengar omongan orang sih? Mereka nggak kasih kita makan!” seru Rico meremas rambutnya yang cukup panjang, hingga mudah untuk menjambaknya.


Meninggalkan Rico yang masih mematung di tempat duduknya. Kedua bahunya meluruh, punggung kokohnya rapuh bersandar di tempat duduknya.


Hingga tengah malam, Rico masih terjaga di ruang tamu. Terdiam seribu bahasa, namun isi hati dan pikirannya berperang dahsyat di dalam sana.


“Tuan,” panggil Airin membuatnya terjingkat.


Seolah baru tersadar dari lamunan panjangnya. Sudah lebih dari 3 jam, Rico mematung seorang diri.


“Maaf mengejutkan. Ini saya buatkan kopi,” ucap Airin ragu menyodorkan secangkir kopi di hadapan Rico.

__ADS_1


“Airin!” panggil Rico menghentikan langkah wanita itu.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tawarnya membalik badan.


“Menikahlah denganku!” titah Rico menoleh pada wanita itu.


Airin membelalakkan kedua mata. Hal yang sama sekali tak pernah ia sangka dan duga. Tubuhnya mematung dengan bibir menganga. “Ta ... tapi, Tuan ....” Ucapan Airin terbata-bata. Ia kesulitan merangkai kata untuk menjawabnya.


“Demi ibuku!” tandas Rico menghela napas berat lalu menceritakan kondisi ibu dan keluarganya.


“Tuan....”


“Anggap saja ini sebagai balas budi!” sela Rico memotong ucapannya.


Skakmat!


Kalimat itu seperti perintah yang tidak akan pernah bisa ia bantah. Memang benar, andai saja dia tidak bertemu Rico, entah apa yang akan terjadi padanya dan juga putranya.


Hatinya penuh kebimbangan, Airin tahu pasti, seberapa besar cinta tuannya untuk sang kekasih. Dia tidak berani bermimpi untuk menggantikan posisi Lala di hati Rico.


“Bagaimana dengan Nona Lala, Tuan? Maaf,” ucap Airin hati-hati.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2