
Gemuruh tepuk tangan menggelegar ketika kuda yang ditunggangi Izora telah sampai di garis finish terlebih dahulu. Zora memeluk kuda itu, menciumnya sembari mengusap lembut, “Thanks, Heroku!”
Gadis itu berbalik, menatap remeh pria yang semakin menyusulnya. Kekesalan tampak jelas berpendar dari wajah pria itu.
“Zora!” sorak para penonton dengan bangga mengudara di siang yang terik itu.
Zora terkekeh, mengatur napas yang masih terengah-engah, menyeka keringat dengan lengan panjangnya. Mengangkat ibu jari ke hadapan Adhras, lalu memutarnya ke bawah. Wajah gadis itu terlihat menyebalkan. “Kau kalah Adhras! Asyik, punya pembokat selama satu bulan!” seru Zora bertepuk tangan dengan bersemangat.
Masih menampakkan raut kesal, tiba-tiba pandangan Adhras tertunduk ketika Lala berdiri tegak sembari mendongak menatapnya, “Turun!” titah Lala menunjuk dengan gerakan matanya.
Mau tak mau lelaki itu segera turun dari kudanya, berdiri malas di hadapan Lala. Tak disangka, sebuah tamparan keras ia dapatkan di pipi kanannya.
“Beraninya punya rencana taruhan untuk mencium anak saya! Kamu pikir anak saya perempuan apa, hah?! Awas saja berani berbuat macam-macam. Aku patahkan lehermu itu. Tidak peduli siapa dirimu!” tegas wanita itu melotot tajam.
Lala mengedarkan pandangan pada teman-teman Zora, yang kini saling menyikut. Tidak ada yang berani buka suara.
“Zora, pulang!” ucap Lala tanpa menoleh, segera melenggang pergi meninggalkan mereka semua.
“Udah, bubar! Bubar. Adhras, anggep aja taruhan batal!” Izora turun dari kuda kesayangannya. Lalu membimbing hewan berkaki empat itu menyusul sang ibu. “Ah, alamat gagal punya pembokat ini!” gerutu Zora yang tahu ketidak setujuan sang mama. Sejak dulu, wanita itu tidak akan pernah mengizinkan Zora dekat dengan lelaki mana pun. Apa pun alasannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=°°°\=\=\=\=\=
Sepatu boots panjang melekat di kaki, Zora mengambil tumpukan jerami di gudang lalu dimasukkan ke trolly. Zora melangkah riang sembari bersenandung.
Dengan bersemangat, gadis itu mengisi sumber makanan kuda di masing-masing kandang. Terutama kuda kesayangannya. “Hero! Makanan datang!” serunya.
Hero—sang kuda yang tengah berselonjor nyaman, segera beranjak menghampiri tuannya. Zora pun tersenyum, membelai lembut kepala kuda itu. Keduanya memang seolah sudah memiliki ikatan, karena kebersamaannya selama bertahun-tahun.
“Makan yang banyak!” ucap Zora dibalas ringkikan hewan itu.
Sudah menjadi kebiasaannya, membantu sang ibu merawat kuda-kuda majikan. Sepulang sekolah, ia pasti menggantikan ibunya. Gadis itu begitu keras kepala, tidak ingin sang ibu kelelahan.
Selesai dengan tugasnya, ia kembali ke rumah. Rumah yang sangat sederhana, namun begitu terawat dan bersih. Sangat nyaman untuk mereka tinggali. Walaupun sering mendapat cemooh dari tetangga mereka, sesama pekerja di peternakan kuda. Tapi, Zora sudah bebal dengan itu semua. Hanya saja, Zora sering menemukan ibunya menangis seorang diri.
“Siap mamaku yang cantik!” puji gadis itu dengan ceria.
Ya, begitulah keseharian mereka. Gadis tangguh yang tidak pernah mengeluh atau pun bersedih di hadapan sang mama.
Malam kian menyapa, Zora kini duduk menghadap meja makan bersama sang ibu.
__ADS_1
“Zora, jangan pernah ada urusan lagi sama ....”
“Laki-laki!” serobot Zora memotong ucapan Lala. Ia sudah hafal dengan peringatan ibunya setiap hari.
“Nah, itu tahu. Kenapa tadi berani-beraninya taruhan?” seru Lala memicingkan mata.
“Tenang aja, Ma. Sebelum tanding aku udah mastiin kemampuannya. Dia itu cuma seujung kuku!” Zora menunjuk ujung kuku kelingkingnya.
Lala mengembuskan napas berat, menatap putri semata wayangnya dengan tatapan nanar, “Jangan terlalu meremehkan laki-laki, Zora. Mereka bisa berbuat nekat. Mama nggak mau kamu kenapa-napa. Mama cuma punya kamu,” ucapnya lembut sembari menyentuh lengan Zora.
“Iya, mamaku sayang. Maafin Zora. Lain kali nggak akan aku ladenin.”
Baru selesai berucap tiba-tiba terdengar gedoran pintu dengan kasar. Dua wanita beda usia itu saling menatap di tengah keterkejutannya. Bahkan makanan di mulut, sampai berhenti mereka kunyah.
“Mama di sini aja. Bawa senjata tajam atau apa pun yang bisa melindungi Mama,” perintah gadis itu segera beranjak. Zora, selalu menjadi malaikat pelindung untuk sang mama.
Ia juga mengambil sebuah tali dan juga sapu sebagai alat perlidungan diri. Langkah kakinya begitu pelan, agar tak menimbulkan suara.
Gedoran di pintu rumah itu semakin memekakkan telinga. Zora menoleh pada sang ibu yang sudah memegang sebuah pisau dapur di tangan. Barulah satu tangan Zora menjulur untuk menyentuh handle pintu, meski dengan dada yang berdebar-debar.
__ADS_1
Bersambung~
Uncle Ric belum ada jatah. 😌