
“Diajarin biar kuat kaya papa, Ma. Sudah kepala 4 aja masih bugar begini, tampan, gagah pula!” puji anak gadis itu memukul berulang lengan kekar ayah dengan gemas.
“Ck! Kamu itu anak gadis, Zora. Mana bisa jadi gagah! Ada-ada saja,” ucap Lala menggeleng pelan. Turut duduk di teras, bersebelahan dengan Rico. Lalu menyodorkan segelas jus pada sang suami.
“Terima kasih, Sayang.” Jika saja tidak ada Zora di sebelahnya, mungkin ia akan menjatuhkan ciuman di pipi sang istri.
Diapit dua wanita kesayangan, membuat hidup Rico begitu sempurna. Bak sumber mata air yang mengalir di padang pasir. Hatinya terasa begitu sejuk, tanpa beban apa pun lagi. Usai gelas di tangannya kosong, Lala meraihnya. Hingga kini kedua lengan Rico mampu memeluk dua perempuan itu.
“Zora, mau lanjutin sekolah ‘kan, Nak? Kelas berapa sekarang?”
“Kelas 3, Pa.”
“Yaudah, tahun ajaran baru, Papa antar daftar ke sekolah yang baru.”
Rico menatap hamparan luas halaman rumahnya. Senyum lebar pun mulai terbentuk di bibirnya, “Aku merasa, mendadak jadi hot daddy jilid 2,” selorohnya membuat Lala tertawa sumbang. Teringat masa-masa ketika ia menemukan Rainer dulu. Namun segera menepis ingatan buruk yang hanya membuat dadanya sesak.
“Ya, bedanya sekarang benar-benar hot daddy,” sahut Lala menimpali. Zora yang tidak mengerti hanya diam saja.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Selama tiga hari, rumah baru itu begitu berisik. Ia membuat satu ruang khusus untuk melatih bela diri putrinya. Lengkap dengan samsak, matras, peredam suara dan segala perlengkapannya. Rico ingin membuat putrinya semakin tangguh.
Selain itu, Rico juga memenuhi permintaan Zora untuk membangun sebuah kandang kuda, lengkap dengan lintasannya.
__ADS_1
“Zora!” panggil Rico usai gadis itu masuk ke rumah dengan kegirangan.
“Pa, udah jadi. Makasih ya! Jadi, kapan Hero bisa sampai di sini?” tanya gadis itu hanya dijawab raut datar oleh sang ayah.
Zora mengerutkan keningnya, dari sorot mata sang ayah, ia merasa ada yang disembunyikan. “Pa, kenapa?” tanyanya.
“Maaf, Sayang. Mungkin kabar ini mengecewakanmu.” Rico menghela napas panjang, menangkup kedua bahu putrinya, “Hero tidak bisa kita bawa ke sini. Perjalanan yang sangat lama, bahkan harus melalui laut dan udara, tidak akan bisa membuatnya bertahan. Dan lagi, saat ini hero sudah mati. Dia sakit selama beberapa hari, Sayang.”
“Apa?” pekik Zora dengan pandangan yang buram. Air mata sudah menyembur begitu saja tanpa diminta. Kakinya melemas, hewan kesayangannya yang bahkan sudah menjadi sahabatnya selama ini sudah tidak bernyawa lagi. “Hero?” lirihnya dengan tubuh melemas.
Rico langsung memeluknya, membiarkan putrinya meratapi kesedihan dalam dekapannya. Sebegitu hancurnya Zora, terlihat dari raungan tangisnya saat ini.
Lala sangat mengerti, karena memang ia tahu bagaimana Zora begitu menyayangi peliharaannya itu. Ia membantu menenangkan Zora, mengusap punggung anak gadisnya yang bergetar hebat.
“Mau Papa cariin kuda? Kan sayang kandangnya,” tawar Rico berusaha mengalihkan kesedihan.
“Enggak semudah itu, Pa!”
“Nanti lama-lama juga bakal terbiasa. Memang harus adaptasi dulu ‘kan?”
Zora menggeleng pelan, “Nanti dulu!” tolaknya masih merasa kehilangan.
“Yaudah, sebagai gantinya ayo ikut Papa kerja aja! Siapa tahu sedihnya bisa hilang,” ucap Rico merangkul bahunya.
__ADS_1
Lala setuju saja, dari pada di rumah hanya meratapi hewan kesayangannya. Akan lebih baik, ia keluar bersama Rico.
Sepanjang perjalanan Zora masih diam saja. Bahkan sesekali menyeka air matanya. Rico merasa heran, sedalam itukah putrinya merasa kehilangan? Ia pun membiarkan saja, tidak mengerti bagaimana cara menghentikan tangis putrinya.
“Kita di mana, Pa? Katanya nganterin Nyonya Jihan?” tanya Zora ketika mobil memasuki sebuah parkir bawah tanah.
“Emmm... ini di Markas Black Stone. Markas Tuan Tiger. Karena nyonya sudah bersama suaminya, jadi kita langsung ke sini. Karena biasanya setelah mengantar nyonya, Papa langsung ke sini,” jelas Rico memarkirkan mobilnya.
“Markas? Kayak mafia aja,” sahut Zora terkekeh.
“Memang mafia, Sayang,” balas Rico santai melepas seatbeltnya dan keluar dari mobil.
Zora mendelik, mulutnya bahkan menganga mendengarnya. “Mafia?” gumamnya menelan saliva gugup. Selama ini ia sering menonton drama mengenai mafia. Tubuhnya merinding seketika, saat membayangkan.
Bersambung~
Ada yang belum mampir? mampir ya, 😂
__ADS_1