Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 51 ~ Kita itu Sama


__ADS_3

“Biar aku yang kejar, Ma.” Rain berlari menyusul Zora yang sudah cukup jauh dari pandangan mereka. Jangkauan kaki Zora memang pendek, tetapi sangat cepat dan gesit. Padahal, ia sama sekali belum hafal tempat tersebut.


“Semua salahku, Rico! Aku pikir semua akan baik-baik saja,” Lala tertunduk dalam, bahunya bergetar cukup keras. Rico segera memeluknya, mencium puncak kepalanya dengan lembut.


“Sudah, jangan cemas. Aku yakin Rain bisa mengatasinya. Biarkan Zora mencerna semuanya. Apa pun yang ia dengar ketika sedang emosi, tidak akan ia terima. Jadi, biar dia tenang lebih dulu.” Rico menangkup kedua pipi Lala, menyeka air mata wanita itu sembari melempar senyum.


“Terima kasih ya, kamu sudah menjaganya dengan sangat baik. Pasti sulit membesarkannya seorang diri. Tidak akan selesai jika kita saling menyalahkan. Yang lalu, biarlah berlalu. Kita perbaiki semuanya. Sekarang, aku hanya ingin kembali menata masa depan kita yang sempat tertunda. Bersama anak-anak kita,” tutur Rico dengan nada suara lembut.


Lala mendongak, menatap wajah lelaki itu lamat-lamat. Tatapannya masih sama, wajah tampannya masih sama, semakin dewasa justru semakin membuat Lala berdebar tidak karuan. Rasa itu tidak pernah berubah sampai detik ini.


Lala mengangguk haru, kembali merebahkan kepala dalam dada bidang itu. Tempat yang masih menjadi sandaran ternyaman sepanjang hidupnya. Setelah sekian lama, akhirnya bisa kembali merasakannya.


...\=\=\=\=000\=\=\=\=...


DUARRRR!


Suara petir yang menggelegar membuat Zora terlonjak kaget. Secara refleks tubuhnya meringkuk di lantai, tepat di lobi hotel. Matanya terpejam rapat, dengan kedua tangan yang menutup telinga kuat-kuat.

__ADS_1


Tak berselang lama, hujan turun dengan begitu lebatnya. Mengiringi setiap tetes air mata Zora. Tak peduli sekitarnya tengah menatap aneh ke arahnya. Zora tetap meluapkan tangisnya yang selama ini tertahan.


Rain mengedarkan pandangan, napasnya terengah-engah. Ia panik ketika melihat rintik hujan yang begitu deras disertai desau angin yang begitu kuat dan sesekali gemuruh petir memekakkan telinga.


“Zora! Zora!” teriak Rain berdiri tak jauh dari Zora.


Zora tetap bungkam, ia hanya menikmati tangis yang tak kunjung usai. Sesak di dadanya masih begitu terasa.


Dengan panik, Rain mulai menghubungi timnya untuk menemukan Zora. Ia berjalan dengan pandangan tak terarah. Karena tidak fokus, kaki Rain tersandung tubuh Zora yang meringkuk di lantai, hingga tubuhnya ambruk berdebam di marmer yang dingin itu.


“Awh!" desis Rain menengok ke belakang, "Astaga, Zora!” pekik Rain mendelik, buru-buru beranjak bangun dan menangkup kedua bahu gadis itu. Setelah memastikan Zora tidak terluka, ia turut duduk di sebelahnya.


“Balikin aku  ke negaraku.” Suara serak Zora mulai terdengar.


“Ini juga negaramu,” bantah Rain.


“Bukan! Aku orang asing di sini. Please balikin aku, Kak. Kan kamu yang membawaku. Kamu juga yang harus balikin aku!” rengek Zora dalam isakannya.

__ADS_1


Bibir Rain menyunggingkan senyum tipis setelah mendengar panggilan ‘Kak’ dari Zora. “Tidak bisa, Zora. Bukankah identitas dan paspor kamu di Mykonos?”


Zora menegakkan tubuhnya, menatap Rain dengan kesal, lalu melempar sebuah tinju di lengannya, “Pakai caramu waktu nyulik aku lah! Aku nggak mau tahu. Pokoknya aku mau kembali!”


“Itu semua pakai kekuatan mafia. Pesawat pribadi keluarga tuan besar, anak buahnya. Aku nggak bisa seenaknya, Zora. Lagi pula, semua keluarga kamu di sini. Nanti aku bantu urus kepindahanmu,” ujar Rain menopang lengang di belakang tubuhnya, menatap Zora dengan sayang.


“Ih! Ngeselin! Pokoknya aku nggak mau!” pekik Zora yang kini menendang lelaki itu, lalu memutar tubuhnya membelakangi Rain.


Mereka tak peduli dengan lalu lalang orang yang tengah melalui lobi hotel. Meski sebagian terkejut karena melihat Rain yang duduk sembarangan di lantai seperti itu. Mereka segera mengangguk saat berpapasan dengan Rain.


Bukan marah atau kesakitan, Rain justru terkekeh. Ia masih berusaha menyentuh hati adiknya. Perlahan Rain menggeser tubuhnya, hingga kini punggungnya bersinggungan dengan punggung Zora. Terdiam cukup lama saling memunggungi tanpa suara.


“Zora, sebenarnya kita sama. Kamu hidup tanpa ayah selama ini. Sedangkan aku, hidup tanpa ibu. Coba bayangin, lebih sakit mana?” tanya Rain melirik Zora.


Gadis itu terpaku, diam membisu namun memikirkan kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Rain.


Bersambung~

__ADS_1


 


__ADS_2