
Benturan sepasang sepatu yang begitu keras dan cepat terdengar di lorong ruang presdir Sebastian Group, yang beroperasi di Jakarta. Rain yang tumbuh besar bersama Cheryl, kini menjadi asisten kepercayaan gadis itu untuk mengelola perusahaan.
Cheryl hanya berada di balik layar, karena ia sangat mencintai pekerjaan utama sebagai arsitek. Sesuai dengan passionnya. Sehingga kesibukan Rain justru berkali-kali lipat.
Napas Rain terengah-engah. Tangannya tak sabar menekan tombol lift agar pintunya terbuka, dan mengantarkannya segera ke basemen perusahaan.
Sembari berjalan tergesa, Rain merogoh ponsel untuk menghubungi Cheryl yang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya.
“Lama banget angkatnya? Di mana sekarang?” cecar Rain melenggang keluar sembari mengedarkan pandangan untuk mencari mobilnya.
“Di butik mama, Rain. Ada masalah?” tanya Cheryl di seberang telepon.
“Jangan ke mana-mana!” pekik Rain berlari menghampiri mobil dan mematikan telepon begitu saja.
Sedikit terburu-buru, lelaki yang sudah semakin dewasa itu, berkendara dengan jantung yang meletup-letup. Bahkan matanya berkaca-kaca, dan tubuh yang gemetar hebat.
\=\=\=\=°°°\=\=\=\=
“Rain! Ada apa?” tanya Cheryl yang menunggu di depan butik sedari tadi. Ia begitu khawatir dengan asistennya itu.
Pasalnya, selama ini Rain selalu berhasil mem-back up posisinya dengan baik. Pria itu memang selalu bertanggung jawab, berdedikasi tinggi dan selalu bisa diandalkan.
Mimik muka Rain tampak mengkhawatirkan. Bibirnya bergetar dengan mata memerah. Ia kesulitan mengeluarkan suara.
__ADS_1
Cheryl yang melihat itu segera membawa Rain masuk. Melenggang menuju ruangan ibunya, yang saat ini masih sibuk menyelesaikan gaun pernikahan untuk Cheryl.
Setelah mendudukkan pria itu, Cheryl mengambilkan segelas air putih dan menyodorkan pada Rain. “Minumlah dulu,” ucap gadis cantik bermata biru itu, lalu duduk di sebelahnya.
Tegukan besar menghabiskan air putih itu dengan cepat. Napas Rain sedikit lebih tenang dibandingkan saat baru datang tadi.
“Cheryl,” ucap Rain menatap sahabat sekaligus atasannya dengan tatapan berbinar.
“Ih kamu kesurupan ya?” Cheryl menautkan kedua alisnya, meletakkan punggung tangan di kening lelaki itu. “Nggak panas padahal!” sambungnya bingung.
Rain menepis tangan Cheryl, meraih ponsel di sakunya dan segera membuka sebuah video. Dengan berdebar, ia menyerahkan benda pipih itu pada Cheryl.
“Apaan sih ini? Nggak penting banget. Kirain ada masalah besar sampai bikin kamu kaya gini!” cebik Cheryl mengembalikan ponsel ke tangan Rain.
Dengan malas, Cheryl kembali memfokuskan matanya. Dan beberapa saat kemudian, manik indah berwarna biru itu membelalak dengan sempurna. Mulutnya pun menganga lebar. “Mbak Lala? Serius ini Mbak Lala?” tanya gadis itu memekik tak percaya.
Bahkan Cheryl memutar di menit yang sama secara berulang-ulang untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat itu benar.
“Rain, ini bener Mbak Lala,” ucapnya menaikkan pandangan dengan mata berkaca-kaca.
Sebuah anggukan dengan senyum haru adalah tanggapan dari Rain. Hingga kini Cheryl langsung mengambur ke pelukan lelaki itu dengan tangis yang semakin menjadi.
“Akhirnya setelah sekian lama kita mendapat petunjuk,” seru Cheryl dalam isak tangisnya.
__ADS_1
Rain pun mengangguk, memeluk erat tubuh Cheryl dengan tangis yang pecah pula. Bagaimana tidak? Selama 18 tahun mereka terpisah tanpa mendapat jejak apa pun dari Lala.
“Kita harus bilang sama Papa!” seru Cheryl setelah meregangkan pelukannya.
“Tunggu! Aku takut mama tidak mau pulang kalau Tuan atau Nyonya yang menemuinya langsung. Lagi pula, pernikahan kamu sebentar lagi digelar,” sahut Rain mengutarakan pendapatnya.
“Bener juga.” Cheryl tampak berpikir keras. “Ah! Dari mana kamu dapat video itu, Rain?!” pekik Cheryl bersemangat.
Rain membuka aplikasi instagramnya, selain sudah mendownload, Rain juga menyimpan reels tersebut di aplikasi. Sehingga, tidak akan kehilangan jejak pembuat video singkat itu.
“Di akun ini, tapi nggak ada lagi. Cuma ada satu video yang ada mama,” ucap Rain sembari fokus scroll akun tersebut.
“Coba cek followernya! Siapa tahu ada nama Mbak Lala atau mungkin fotonya!” titah Cheryl mendekatkan wajah, ia juga penasaran. Kesibukan Cheryl di dunia pekerjaan, membuatnya tidak sempat stalking media sosial apa pun.
“Nggak ada, Cher!”
Rain menggeleng, kedua bahunya tampak merosot. Tatapan kecewa tampak jelas di wajah lelaki itu. Hingga mata bening Rain mendelik, menatap Cheryl tak percaya, “Myconos,” gumamnya.
Bersambung~
Yang belum kenalan sama Cheryl ada di Pria Bayaran dan Gadis Mafia ya guys. Udah Tamat... 💖
__ADS_1