
Lala mengamati wajah Rainer yang tertunduk dalam. Ia menoleh pada Cheryl untuk memastikan. Karena Lala masih ragu. Selain ia mengenal Rain hanya sebentar, Lala tidak begitu hafal dengan garis wajah lelaki itu. Apalagi semakin dewasa, ketampanannya semakin terpancar.
“Dia Rain? Rainer?” tanya Lala bersuara lirih.
“Iya, Mbak. Dia Rainer,” sahut Cheryl mengangguk beberapa kali.
Lala segera menurunkan kedua kakinya di lantai. Ia mendongakkan wajah lelaki tampan itu dengan mata berkaca-kaca. Sorot penuh kerinduan dan penyesalan terpancar jelas di sana. Bulir bening pun perlahan berjatuhan dari kedua sudut mata Rainer.
“Rain? Aku nggak salah denger? Kamu panggil aku apa tadi?” Lala menangkup kedua pipi Rain.
“Mama!” ulang Rain bergetar meraih punggung Lala dan menciumnya.
Hati Lala serasa bergetar, tidak pernah menyangka. Karena dulu semasa kecil, Rain sangat membencinya. Lelaki itu menangis karena kesalahan yang memupuk hatinya selama bertahun-tahun.
“Jangan nangis, aku udah maafin kamu. Ini bentar, luka kamu ....” Lala menoleh mencari-cari sesuatu yang sekiranya bisa menghentikan darah di hidung juga sudut bibirnya. Merebahkan kepala di tepian ranjang, meski Rain duduk di lantai.
“Jangan menunduk,” titah Lala setelah mendapat beberapa lembar tissu, dan mengusapnya perlahan. “Nanti aja bicaranya. Kamu abis berantem? Ck! Udah tahu nggak boleh terluka kenapa masih nekat? Mau bunuh diri?” cerocos Lala yang sedikit marah.
__ADS_1
Tak ada jawaban, mata Rain terpejam merasakan setiap sentuhan Lala. Ia memaksa bibirnya untuk tersenyum. Karena hatinya menghangat mendapat perhatian seperti itu.
“Nggak boleh terluka? Emang kenapa, Ma? Lemah banget jadi cowok!” serobot Zora yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka. Tentu saja ia iri, karena mamanya terlalu baik dengan semua orang.
Lala mendongak, “Dia sakit, Sayang. Hemofilia, darahnya sulit membeku. Jadi kalau sedikit saja terluka, pendarahan akan sulit berhenti,” sahutnya kembali fokus pada luka Rain.
Zora membelalak, ia semakin merasa bersalah. Karena luka itu akibat ulahnya. Segera berlari kecil dan duduk di lantai bersebelahan dengan Rain. Ia menyentuh lengan pria itu. “Maaf, aku nggak tahu,” ucapnya dengan nada memelas.
Kening Lala seketika mengerut dalam, “Zora? Jangan-jangan kamu yang memukulnya?” sentak wanita itu.
“Iya, Ma. Mama juga udah lukai dia pakai pisau. Abisnya dia ngeselin, dia ‘kan yang udah nyulik kita kaya tawanan? Coba bicara baik-baik. Pasti nggak akan begini kejadiannya!” celoteh Zora membela diri sekaligus memberi tahu ibunya, bahwa wanita itu juga terlibat dalam hal melukai Rainer.
“Enak ya, dimanja dua wanita,” gumam Rain tersenyum masih memejamkan mata.
“Iihh! Rasain nih!” Zora menekan dengan keras sudut bibir Rain hingga matanya terbuka sempurna. Rain mendesis merasakan perih yang semakin menjadi.
“Zora!” tegur Lala sedikit meninggi.
__ADS_1
Gadis itu langsung menghentikan aksinya sembari mengerucutkan bibirnya. Ia tak berkutik setiap ibunya bersuara. “Maaf, Ma!”
Tak ada yang tahu jika sedari tadi Cheryl menangis melihat interaksi mereka. Sebelumnya, Cheryl tak percaya ketika Rain mengatakan bahwa Lala memiliki seorang anak gadis. Mereka bahkan sempat berdebat. Tetapi sekarang, dengan mata kepalanya sendiri Cheryl melihatnya. Karena tadi memang tak sempat memperhatikan ketika baru masuk.
“Mbak, dia putrimu?” Cheryl menoleh pada Lala.
Senyuman di wajah Lala disertai anggukan, merupakan jawaban yang begitu jelas.
“Mbak sudah menikah?” tanya Cheryl lagi penasaran. Pasalnya ia sangat tahu bagaimana Rico selama ini seperti orang linglung kehilangan dua wanita.
Lala tak menjawab, matanya mengembun sembari menatap Zora.
“Jangan tanyakan, Kak. Nanti mama nangis. Aku nggak punya ayah. Anggep aja udah mati!” ketus Zora tak ingin melihat ibunya bersedih.
“Jangan bicara seperti itu lagi, Dek. Ayah kamu masih hidup!” seru Rain mengelak tangan Zora, menarik dagu agar menatap matanya.
“Memang begitu kenyataannya! Dak, Dek! Aku bukan adekmu!” teriak Zora menepis tangan Rain.
__ADS_1
“Lala?” Suara bariton menyelusup indra pendengaran mereka. Sontak mengundang perhatian semua orang ke arah pintu.
Bersambung~