Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 39 : Wanita Bukan Makhluk Lemah


__ADS_3

...Jika syaitan tidak bisa mengganggumu, hati-hatilah. Merasa diri paling benar, paling suci merupakan bagian dari syaitan. ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Zora! Zora! Zora!”


Sorak sorai disertai tepuk tangan meriah menggema di pelataran yang begitu luas mengelilingi area pacuan kuda. Debum dan hentakan kaki kuda pun mengudara.


Gadis bersurai panjang yang kini berusia 17 tahun itu, begitu bersemangat mengendalikan kuda yang ditungganginya. Apalagi suara teman-temannya, semakin membakar semangatnya.


“Yuhu!” teriak Zora melambaikan satu tangan pada kamera ponsel yang tengah melakukan live streaming. Senyum lebar yang tercetak di bibirnya semakin memendarkan kecantikan di wajahnya.


“Zora hentikan!” teriakan melengking di udara yang seketika mengejutkan semua orang. Sunyi senyap dalam sekejap. Di ujung kerumunan, muncul sesosok wanita yang menatapnya dengan tajam.


Zora memelankan laju kudanya. Ia segera menghampiri sang ibu, yang sudah meluapkan lahar kemarahan.


“Gue pemenangnya, Finley!” seloroh seorang laki-laki seusianya, ketika melaluinya.


“Brengsek!” geram gadis itu melotot tajam. Buru-buru turun dan mengubah mimik mukanya, berlari menghampiri dan bergelayut manja di lengan sang ibu.


Lala menepisnya, ia segera melenggang pergi meninggalkan putrinya, yang kini sibuk mengurus kudanya untuk ia bawa pulang. Tak begitu jauh, mereka cukup berjalan kaki selama 10 menit.


Sesampainya di rumah, Zora segera memeluk sang ibu. Dia paling ketakutan jika wanita itu menangis. “Ma,” rengeknya.

__ADS_1


“Sudah berapa kali Mama bilang? Jangan pernah balapan kuda lagi. Bahaya tahu nggak? Kenapa sih nggak mau nurut sama Mama?” Suaranya bergetar, karena menahan tangis.


“Maaf, Ma. Jangan nangis. Gara-gara Ardhas nih, ngajakin taruhan. Masa dia bilang mau cium aku, kalau bisa menang,” aku Zora.


“Apa?! Dan kau menyetujuinya? Berani macam-macam aku gorok lehernya sekarang juga!” sentak Lala mendorong tubuh putrinya, matanya menatap nyalang.


“Ih Mama, serem banget.” Zora bergidik ngeri mendengarnya.


“Kalau begitu, sekarang juga ulangi lagi pertandingan. Mama akan menjadi saksinya!” tegas Lala mengacungkan tangan keluar rumah.


Zora terbengong, “Hah? Mama serius?”


“Iya, tentu saja!” seru Lala dengan serius. “Kurang ajar sekali dia. Tunjukkan kalau perempuan itu bukan makhluk lemah dan lawan sampai titik darah penghabisan!” tambah wanita itu, yang langsung disambut dengan pelukan Zora. Tidak menyangka, ibunya akan cepat mengubah keputusan.


Semua ia tekankan, agar Zora menjadi gadis tangguh yang bisa menjaga dirinya sendiri. Ia juga menjaga ketat pergaulan Zora. Dia tidak ingin, putrinya melakukan kesalahan dan kebodohan yang sama. Hingga berakhir merugikan diri sendiri.


Sejak meninggalnya Nyonya Felix, tiba-tiba ada yang mengaku menjadi keluarga wanita itu. Sikapnya yang arogan dan semena-mena, membuat semua ART lama pun pergi, mengingat majikan sebenarnya sudah tiada.


Lala terpaksa tinggal berdua saja bersama Zora. Ia pun ke sana ke mari untuk mencari pekerjaan. Apa pun ia lakukan demi bisa bertahan hidup. Salah satunya, menjadi karyawan di peternakan kuda. Sejak saat itulah, Zora begitu penasaran dan meminta diajari cara mengendalikan kuda.


...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...


Lapangan luas yang dipagari melingkar, dengan beberapa hambatan di tengah arena, masih dipenuhi riuhnya teman-teman Zora.

__ADS_1


“Guys! Tadi nggak sah! Harus kita ulang lagi!” teriak Zora mengalihkan perhatian mereka semua.


“Enggak bisa, lu udah kalah!” elak Ardhas menyibak rambutnya.


“Ulangi saja! Tadi aku ada urusan sama Zora!” Kini Lala menyela, menatap tajam lelaki itu.


“Iya! Ulangi aja!” seru mereka serentak.


Pertandingan pun diulang. Live streaming berbagai media sosial sudah dinyalakan. Mengarahkan pada dua orang yang tengah bersiap di atas kudanya masing-masing.


Dalam hitungan ketiga, pertandingan pun dimulai. Lala masih bergeming sembari melipat kedua lengan di dada. Tatapannya memicing pada dua orang di tengah arena, yang sedang fokus mengendalikan pacuan kuda masing-masing.


...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...


Rain tercengang berulang kali, ketika tak sengaja menemukan reels instagram yang menampilkan pertandingan kuda. Tangannya sedikit gemetar di atas meja kerja.


Bukan pertandingan itu yang ia perhatikan, tapi seorang wanita paruh baya yang begitu dinantikan kehadirannya. Rain sampai berulang kali memutar reels tersebut, menyimpan dalam memori teleponnya.


Tubuh lelaki itu tiba-tiba tak bertenaga, salivanya terasa berat, denyut jantung semakin kuat di dalam dada. Matanya mulai berair, bibirnya bergetar dan sedikit terbuka, “Mama,” panggil Rain dengan tenggorokan tercekat.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2