Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 56 ~ Kisah Kita Akan Dimulai


__ADS_3

Rico berdiri tepat di tepi ranjang. Netranya tak lepas sedikit pun dari manik jernih putrinya. Ada sesuatu yang asing tiba-tiba membuncah di benaknya. Hingga kedua sudut bibirnya terangkat, terjawab sudah pertanyaan yang terbenam saat pertemuan pertama mereka.


“Zora, bolehkah aku memelukmu,” izin Rico merentangkan kedua tangannya.


Zora menilik sang ayah dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Teringat ia pernah mengumpat pria itu dengan tidak sopan. Kepalanya tertunduk sembari menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya terkepal dengan kuat. Dadanya bertalu begitu kencang.


Sebuah sentuhan di pundak, membuat Zora menoleh. Terlihat, sang ibu tersenyum memberi sebuah anggukan kecil. Pandangan Zora sontak mengabur, akan hadirnya endapan air mata.


Napas Zora mulai tak beraturan, ia langsung berdiri dan melompat, kedua lengannya melingkar kuat di leher kokoh sang ayah. Menyembunyikan wajahnya di bahu lebar itu.


Rico tersenyum lega, refleks menangkap bokong putrinya, dan membelai punggung Zora dengan sayang.


“Maafin Papa ya,” bisik Rico hanya dibalas anggukan oleh Zora.


“Yaampun, dia nggak sadar bukan anak kecil lagi. Untung ayah selalu latihan fisik. Kayak gitu sih kecil. Bahkan sekaligus gendong mama juga kuat!” cebik Rain menggeleng pelan, menatap adiknya yang over. “Eh, mama!”


Rain menoleh pada Lala yang masih duduk di ranjang. Ia menghampiri dan menjulurkan tangannya di hadapan Lala.


“Sini, Ma!” ajak Rain.


Lala terkekeh, ia menerima uluran tangan lelaki itu kemudian beranjak dari ranjang dan menapakkan kedua kaki jenjangnya di lantai.


“Oy! Turun! Udah gede juga!” celetuk Rain menarik jaket yang masih dikenakan Zora.


Zora memicingkan matanya dengan tajam, tanpa melepas lilitan tangan di leher ayahnya, “Dasar mulut mercon! Berisik banget!” cibirnya, namun sadar jika ia keterlaluan segera turun dari gendongan sang ayah.


“Eh jaga mulutnya!” geram Rain menunjuk adiknya itu.

__ADS_1


“Biarin aja sih, Rain. Dia belum pernah aku gendong sejak bayi. Kamu udah puas ‘kan? Mau digendong juga?” ucap Rico mencubit kedua pipi Zora dengan gemas.


“Sakit, Pa!” seru Zora menutup kedua pipinya yang digembungkan.


Panggilan ‘pa’ yang baru saja terlontar dari bibir Zora terasa menghangatkan hati Rico maupun Lala. Di balik sikap Zora yang keras, ternyata sangat besar hatinya.


“Sini peluk lagi,” ucap Rico memeluknya erat, tak lupa satu tangannya meraih pinggang Lala, memeluknya bersamaan.


‘Tugasku sudah selesai,’ gumam Rain menatap nanar keluarga itu. Ia turut bahagia, beban yang selama ini menggumpal di dadanya, seolah hancur begitu saja.


Rain berbalik, hendak melangkah namun tertahan. karena kemejanya tersangkut. Ia menoleh, ternyata Zora yang mencengkeramnya. Padahal masih berada di pelukan Rico.


“Mau ke mana, Kak? Bukankah kita keluarga? Kenapa kamu pergi?” tanya Zora menampilkan wajah yang begitu manis.


Rico mengendurkan pelukannya, meraih bahu Rainer dan menariknya. Zora berpindah memeluk Rico dari depan, sedang kanan kirinya diapit oleh Lala dan Rainer.


Sunyinya malam itu menjadi saksi bisu bersatunya kembali keluarga kecil Rico yang sempat porak poranda. Hawa dingin yang menyusup sama sekali tak terasa, karena kehangatan mereka.


“Sama-sama, Yah. Ayah sudah memberiku kebahagiaan selama ini. Anggap saja ini ganti rugi,” seloroh Rain tertawa.


“Ngawur bicaramu! Kamu anak ayah. Mana ada ayah yang meminta ganti rugi sama anaknya! Jangan bicara seperti itu lagi! Atau kutendang ke langit ke tujuh!” sentak Rico mendaratkan pukulan cukup keras di punggung Rain.


“Pelukannya sampai kapan? Keburu pagi,” sela Lala meregangkan lengan Rico. Begitu pun dengan Rainer. Tinggal Zora seorang yang enggan melepas sang ayah.


“Enggak apa-apa ‘kan, kalau sampai pagi. Rasanya masih ingin seperti ini terus, Ma!” gumam Zora masih nyaman bersandar di dada bidang sang ayah. Ia masih ingin bermanja ria dengan lelaki itu.


Rico mencium bertubi-tubi puncak kepala anak gadisnya itu, “Tidur dulu, Sayang. Besok-besok masih bisa,” ucapnya.

__ADS_1


“Bohong, Papa pasti bakal lebih sibuk lagi besok.”


“Nanti disempetin ke sini lagi deh. Sekarang kamu harus istirahat. Nggak baik anak gadis tidur malam-malam,” timpal Rico memberi pengertian.


“Eh, cabe rawit. Kantung mata dijaga. Nanti kalau ada zombi bingung, kamu itu lawan atau kawan,” celetuk Rain bersiap keluar.


“Kamu yang bakal aku gigit pertama kali, dasar mulut mercon!” umpat Zora berlari mengejar Rainer yang sudah mengambil langkah seribu.


Rico dan Lala sontak terkekeh melihat tingkah mereka berdua. Hingga kakak beradik itu menghilang dari pandangan.


“Istirahat ya, setelah pernikahan Nona Cheryl, aku akan segera mengurus pernikahan kita,” ucap Rico membelai salah satu pipi Lala dengan lembut.



Lala tersenyum lebar, menganggukkan kepala sebagai jawaban. Hingga sebuah kecupan mendarat di keningnya begitu lama.


“Kisah kita belum berakhir, dan akan segera dimulai. Tidak ada kata terlambat, meski sebenarnya sangat terlambat,” ucap Rico mengangkat wajah Lala, menyatukan hidung mancung mereka.


“Yah! Network 1, urgent!” teriak Rainer mengejutkan dua sejoli itu.


 


Bersambung~


Next Rekomendasi Novel seru gaess... Mampir yukkk..


Judul: Hasrat Tetangga Kamar

__ADS_1


Napen: Adindara



__ADS_2