Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 35 ~ Baby Shower


__ADS_3

Senja di Kota Myconos, memendarkan pemandangan yang memukau. Lautan lepas dengan kemuning jingga yang membias langit luas, hingga kerlap kerlip ribuan lampu villa yang berjajar di sepanjang tepi pantai. Sungguh, pemandangan yang menakjubkan.


Tawa memekik dari para wanita yang bergaun senada, mengudara di area kolam renang yang sudah dihias sedemikian rupa, demi membuat acara baby shower untuk Lala. Dekorasi yang begitu indah menghiasi pelataran belakang villa.


Nyonya Felix yang sudah menyiapkan semuanya. Wanita tanpa suami dan tanpa anak itu memang sangat baik pada para bawahannya. Bahkan menganggap semua seperti anak-anak asuhnya. Ia tidak merasa kesepian di masa tuanya. Apalagi sebentar lagi akan ada tangis bayi yang meriuhkan villa mewahnya.


Lala sudah mengenakan gaun berwarna peach, dirias dengan sangat cantik dan mengenakan sebuah mahkota kecil layaknya seorang ratu.


Hampir semua asisten rumah tangga Nyonya Felix perempuan, hanya ada beberapa saja yang berjenis kelamin laki-laki. Itu  pun bertugas menjadi sopir dan penjaga saja.


“Nyonya, makasih banyak atas kejutannya,” ucap Lala memeluk wanita tua yang kini duduk di kursi santai.


Nyonya Felix menoleh, ia membelai perut buncit Lala yang kini tinggal beberapa hari lagi akan diperkirakan lahir.


“Sama-sama, Sayang. Aku tidak sabar ingin segera menggendongnya,” ucap Nonya Felix dengan senyum bahagia.


Wanita yang tidak pernah merasakan menjadi seorang ibu itu, terlihat sangat antusias menyambut kehadiran seorang bayi d kediamannya.


Ya, dia memang sangat kaya. Akan tetapi, Tuhan tidak menitipkan seorang bayi dalam rahimnya. Bahkan sampai suaminya meninggal dan ia memilih setia sampai sekarang.


“Wah, dia menendang-nendang!” seru Nyonya Felix dengan antusias. Ia bahkan memekik kegirangan menempelkan telinga pada puncak perut Lala.

__ADS_1


Tangis haru berjatuhan dari kedua sudut mata Lala. Ketulusan Nyonya Felix, mengingatkannya pada sang ibu. Lala sangat merindukan ibunya, tetapi ia tidak berani pulang.


“Starla, jangan sedih!” seru keempat temannya yang langsung mengelilingi Lala dan memeluknya.


“Aku bahagia bisa ketemu kalian. Terutama Anda, Nyonya. Terima kasih banyak,” ucap Lala dengan suara bergetar. Tidak pernah menyangka sebelumnya, ia justru akan bertemu dengan orang-orang baik yang menjadi keluarga barunya.


“Mmm ... kalau bahagia harusnya senyum dong. Pokoknya di sini nggak boleh sedih. Kita semua bakal jadi aunty yang siap siaga!” tutur salah satu temannya.


“Iya, La. Pokoknya jangan mikir yang berat-berat. Rileks aja,” ucap Nyonya Felix menepuk lembut lengan Lala.


Ekspresi Lala tiba-tiba berubah. Wajah cantiknya mendadak pias. Tangannya menyangga perut buncit yang menegang. “Sssh, kok tiba-tiba mules ya,” ucap Lala mendesis.


“Iya, kata dokter masih dua minggu lagi!” Teman-temannya menjadi panik seketika.


“Mau ke toilet bentar. Mules banget,” ucap Lala melenggang dengan langkah berat.


Diikuti kedua temannya yang khawatir. Menunggu di depan pintu toilet yang ada di dekat kolam renang tersebut.


“La! Udah belum? Kok lama? Kamu baik-baik aja?” cecar Frida sembari mengetuk pintu. Karena sedari tadi Lala tak bersuara.


“Mules aja, nggak keluar apa-apa,” balas Lala berteriak pula.

__ADS_1


Tak berapa lama, pintu terbuka. Wajah Lala semakin pucat. Ia mencengkeram kedua gaun dengan kuat.


“La! Jangan bikin kita ketakutan!” seru Frida menggoyangkan lengan Lala.


“Sepertinya, aku akan melahirkan. Udah keluar lendir campur darah,” desis Lala menopang tubuh di pilar besar ketika gelombang cinta di perutnya mulai menyerang.


“Hah? Panggil Om Fred! Cepat siapkan mobil. Sisi, ambilkan barang-barang Starla. Kita harus ke rumah sakit sekarang juga!” teriak Frida memberi perintah.


Nyonya Felix mendekat, memapah tubuh Lala yang menegang. “Tetap tenang, ingat kata dokter. Jangan panik ya,” bisiknya lembut berjalan perlahan.


Lala mengangguk, sembari menggigit bibir bawahnya, “Heem.” Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Lala.


Rombongan dua mobil segera berangkat ke rumah sakit saat itu juga. Di dalam mobil, mulas dan nyeri di perut Lala semakin menjadi. Ia mencengkeram tangan Nyonya Felix dan Frida yang duduk di samping kanan kirinya.


“Aku nggak kuat lagi,” teriak Lala mengejan. Wajahnya memerah, keringat membasahi sekujur tubuhnya.


“Aduh, La. Sabar! Om, cepetan dong, Om. Darurat ini. Masa iya lahiran di mobil! Buruan, Om!” cecar Frida khawatir.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2