Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 71 ~ Great Daddy


__ADS_3

“Ngapain pulang?” Sentak Zora mengerutkan bibirnya.


“Zora, kakaknya baru sampai juga,” sela Lala dengan suara lembutnya.


Bukannya marah, Rain justru terkekeh gemas dengan ekspresi Zora. Ia mengitari ranjang lalu memeluk gadis itu dengan erat. “Maaf, Kakak sibuk banget, Dek. Belum bisa libur seperti biasa.”


“Alesan aja terus. Kalau enggak bisa tepati ya enggak usah janji!” Nada bicaranya masih ketus. Tetapi kedua tangannya terangkat untuk membalas pelukan sang kakak. Tak dapat dipungkiri, ia sangat merindukan lelaki itu.


“Iya, maaf,” sahut Rainer mengalah.


Rico memutar bola matanya malas. Sudah pada dewasa tapi masih pakai drama segala.


“Hemm, bilang aja kangen, Zo. Ngapain harus marah-marah gitu coba. Untung Rain sabarnya segunung,” ucap Lala tersenyum lega melihat keakraban kakak beradik itu.


“Abisnya dia ngeselin, Ma!” sahut Zora masih tidak mau disalahkan. Mendorong dada Rain sembari mendongak. “Kak, bentar lagi aku jadi kakak loh!” seru Zora menaik turunkan alisnya.


Kedua alis lelaki itu saling bertaut, ia memutar pandangan pada ibu dan ayahnya yang tersenyum dengan sebuah anggukan. Sedari dulu dia cerdas, tak perlu dijelaskan lebih panjang sudah mengerti arahnya.


“Kita punya adik?” seru Rain menangkup kedua bahu Zora.


Gadis itu mengangguk berulang kali, Rain kembali memeluknya untuk melampiaskan kebahagiaan.


“Kak! Nanti adek kita enggak akan panggil kamu papa ‘kan? Kamu umur berapa sih, Kak?” seloroh Zora membayangkan. Tubuh pria itu menjulang tinggi, sudah cocok menyandang gelar papa.


Tawa pun mengudara di ruangan itu, Rain meregangkan tubuhnya, “Iya juga! Aku 24 tahun. Harusnya punya anak ya. Tapi seru juga  kalau umur segini punya adik bayi. Itung-itung belajar kalau nanti punya bayi. Iya ‘kan, Ma?” canda lelaki itu meminta persetujuan sang mama.


“Iya, yang penting sayang sama adik kalian nanti. Mama udah seneng kok,” sahut Lala.


...\=\=\=ooo\=\=\=...

__ADS_1


“Zora, kamu pulang aja. Biar Papa yang jaga mama. Kasihan kakakmu juga pasti capek habis perjalanan kilatnya,” ucap Rico ketika hari mulai menggelap.


Zora yang tidur di pangkuan sang kakak, segera menurunkan ponselnya. Menatap Rainer yang terlihat jelas gurat lelah di wajahnya.


“Iya, lagian Mama udah enggak apa-apa kok. Sama papa aja,” sambung Lala tidak tega melihat anak-anaknya merasa tak nyaman dalam tidurnya nanti.


“Tapi, Ma....”


“Enggak apa-apa, Sayang. Pulang ya,” tukas Lala memotong ucapan Rain.


“Yok!” ajak Zora beranjak duduk.


Mau tak mau, Rain turut berdiri. Meraih kunci mobil yang disodorkan oleh Rico. “Ayah kalau butuh sesuatu atau ada apa-apa langsung telepon aja,” ucapnya sembari berpamitan. Lalu beralih pada Lala, “Ma. Sehat-sehat ya, sama debay juga,” ucapnya mencium punggung tangan Lala.


“Iya, hati-hati.”


“Iya, pada dasarnya dia memang penurut sejak kecil, La. Untung jiwa psikopat bapak kandungnya enggak nurun ke dia. Kamu tahu? Airin meninggal di tangan mantan suaminya,” jelas Rico tidak berani bercerita sejelasnya. Apalagi sekarang orang tuanya sudah meninggal. Rico tidak ingin menyakiti hati Lala karena masa lalunya.


Wanita itu mendelik, tangannya refleks menutupi perutnya. Ia benar-benar terkejut dan tidak menyangka. “Yaampun. Gimana perasaan Rain waktu itu?”


“Dia trauma berat, La. Baru lulus SMP, dia sembuh setelah terapi, pengobatan enggak pernah putus. Akhirnya dia bisa melawan traumanya, baru bisa berkomunikasi lancar dengan orang lain. Tapi dia sangat cerdas.”


“Kamu pasti bangga memilikinya,” ucap Lala tersenyum.


“Tentu. Istirahatlah, apa mau ditiduri?” canda Rico yang langsung dijewer telinganya. Lelaki itu terkekeh, kepalanya semakin mendekati wajah sang istri, mendaratkan ciuman bertubi di wajah cantik Lala. “Sehat ya, Sayang! Semangat!” ucapnya memeluk tubuh Lala.


“Tidur sini aja, muat kok.” Lala menepuk ranjang kosong di sebelahnya.


“Enggak usah, nanti kamu enggak nyaman,” tolaknya pelan.

__ADS_1


“Tapi aku mau dipeluk, gimana dong?”


Mana tega Rico membiarkan istrinya memelas seperti itu. Ia pun mengatur posisi Lala, lalu turut bergabung di ranjang pasien. Memeluk Lala seperti keinginannya. Jemarinya meraba-raba perut Lala yang masih datar, namun sudah terasa keras. Tak butuh waktu lama, mereka pun terlelap.


...\=\=\=ooo\=\=\=...


Bukannya langsung pulang ke rumah, Zora justru ingin berkeliling mall terlebih dahulu. Hobinya masih sama, menguras isi ATM sang kakak. Walaupun tidak akan pernah habis. Berbelanja, makan dan bermain sepuasnya.


Setelah lelah, barulah mereka pulang ke rumah Rico. Zora sampai ketiduran, apalagi memang sudah sangat larut saat ini.


“Dasar bocah!” gumam Rain mematikan mesin mobil.


Ia segera turun lalu menggendong Zora, pintu langsung terbuka setelah Rain susah payah menekan bell.


“Makasih, Bi. Kamarnya di atas ya,” tanya Rain mendongak, mengamati tingginya tangga rumah tersebut.


“Iya, Tuan. Mau saya bukakan pintu kamarnya?” tawar asisten rumah tangga yang membukakan pintu.


“Enggak usah. Di sini aja dulu. Berat, Bi. Haduh, padahal kecil begini tapi berat banget badannya!” gerutu Rain melenggang ke ruang tengah, merebahkan Zora di atas karpet bulu tebal yang terbentang di depan televisi.


“Tuan, ini selimut dan bantalnya.”


“Makasih, Bi.” Rain segera meletakkan bantal di bawah kepala Zora agar nyaman. Lalu menyelimutinya. Sedangkan ia sendiri malah asyik memandangi wajah gadis itu lamat-lamat. Merapikan rambut Zora yang menutupi sebagian wajahnya. “Kayak gini mau jadi kakak?” gumamnya menggeleng pelan.


Rain menyalakan televisi untuk mengusir kebosanan. Ia merebahkan tubuh tepat di samping Zora, bahkan mereka tidur di bantal yang sama.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2