Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 58 ~ Menjemput Restu


__ADS_3

“Eh! Kau ini mengejutkan saja!” cebik Rico menghela napas panjang.


Tidak tampak raut apa pun selain binar bahagia yang terpancar dari wajahnya, meski masih terlihat sedikit pucat.


“Ayo, Pa!” gadis itu merangkul lengan sang ayah sembari bersandar nyaman di sana.


“Yakin?” tanya Rico melirik putrinya.


“Hmm, walaupun masih pusing. Aku bisa menahannya! Kakak ikut ‘kan?” timpal Zora yang diakhiri pertanyaan.


“Sepertinya dia mau balik ke Jakarta.” Rico tampak mengedikkan bahu.


Tubuh Zora segera menjauh, menatap serius sang ayah lalu membenarkan duduknya di atas ranjang. “Kenapa ke Jakarta? Jauh dari sini, Pa?”


“Iya, dia dari dulu tinggal di sana, Sayang. Apalagi pekerjaannya juga full di Jakarta. Dia ke sini karena pesta pernikahan Nona Cheryl digelar di sini aja. Keluarga banyak yang di sini. Lumayan jauh,” papar Rico menjelaskan.


“Enggak bisa! Dia udah janji mau nemenin balik ke Mykonos, Pa. Sekolahku, identitasku semua masih di sana,” elak gadis itu.


“Tenang aja, nanti ada yang urus.” Rico menepuk pelan puncak kepala Zora.


‘Kok dia enggak bilang kalau sebenarnya tinggal di Jakarta,’ batin Zora mengerutkan bibirnya.


Lala terdiam sedari tadi, pikirannya berkecamuk. Antara siap dan tidak siap bertemu kembali dengan keluarganya. Bahkan dadanya bertalu kuat saat ini.

__ADS_1


Rico turut duduk di antara dua wanita itu, mengerti akan kegundahan wanitanya. Ia meraih jemari Lala dan menggenggamnya cukup erat. “Jangan takut, ada aku. Aku harus menjemput restu orang tuamu, apa pun keputusan mereka, aku tetap akan menikahimu,” ucapnya membelai pipi Lala.


Siap tidak siap, mau tidak mau, ia akan tetap melewati fase ini. Lala tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi kedua orang tuanya ketika menyambut kedatangannya nanti. Apalagi, ia datang tidak sendiri.


\=\=\=\=ooo\=\=\=\=


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, Rico dan Lala akhirnya mendarat di Kota Bandung atas akomodasi Tiger.


Rain yang duduk di sebelah Zora, terpaksa harus menjadi baby sitter untuk gadis itu. Zora muntah beberapa kali, karena memang kondisinya belum pulih sepenuhnya. Rain dengan telaten menadahnya, menyeka mulut Zora dan memberi minyak angin berharap gadis itu bertahan sampai tujuan. Walaupun Rain terus meracau, bukan karena kesal. Tetapi karena khawatir pada kondisi Zora.


Ya, ia memutuskan ikut karena disesak oleh Zora. Gadis itu tidak ingin menjadi orang ketiga di antara kedua orang tuanya. Walau menyebalkan, Rain menyayanginya. Apa pun keinginan Zora, rasanya berat untuk ditolak.


Lala dan Rico duduk di kursi paling depan. Karena ketegangannya, mereka tidak tahu menahu kondisi Zora. Sepanjang perjalanan, Lala tidak bisa beristirahat dengan tenang. Ia menggenggam jemari Rico dengan begitu kuat.


“Makanya nggak usah sok kuat!” cibir Rain berjongkok setelah membantu melepas seatbelt yang membelit tubuh Zora.


Rain berdiri dengan menggendong Zora yang melingkarkan lengan dan menyandarkan kepala di bahunya. “Karena kamu bandel, pantes diomeli!”


“Udah dong, Kak. Kepalaku makin pusing denger suaramu!” sentak Zora namun dengan suara pelan.


“Loh, Zora kenapa, Rain?” tanya Lala ketika melihat putrinya berada dalam gendongan sang kakak.


“Mabuk, Ma,” sahut Rain mendudukkan Zora di sebuah kursi tunggu.

__ADS_1


“Enggak apa-apa, Ma. Ini masih jauh nggak dari bandara? Nggak perlu naik pesawat lagi ‘kan?” ujar Zora menepiskan tangan ketika Rico dan Lala kompak hendak menyentuhnya.


“Bentar lagi. Kita naik taksi. Zora yakin kuat? Apa kita ke rumah sakit dulu? Kamu pucat banget, Sayang,” ucap Rico berjongkok di hadapan Zora.


Gadis itu duduk tegak, mengurai senyum agar tak membuat orang tuanya khawatir. “Tenang aja, Pa. Zora kuat! Kan ada kakak yang jadi kaki aku. Iya ‘kan, Kak?” ucapnya mengalungkan kedua lengan di bahu sang ayah, sembari mengedipkan satu matanya pada Rainer.


Pria itu mencebikkan bibirnya, meski kesal, ia tidak akan tega melihat Zora kesakitan. “Yaudah yuk, keburu malam,” ucap Rain menghentikan dua taksi. Sengaja agar Zora tidak terlalu merasa sesak.


“Biar aku sama Zora, Pa. Kami ngikutin mama dan papa,” ujar lelaki itu.


Rico beranjak, menepuk pundak Rainer sembari berkata, “Jaga Zora ya.”


Iring-iringan mobil taksi itu segera melaju, membelah padatnya jalan raya. Hingga 20 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di kediaman orang tua Lala.


Mereka segera turun serentak, Zora sudah lebih baik. Rico segera menghampiri dan merengkuhnya. Pria itu menatap ke arah Lala yang tampak ketakutan. Rico mengangguk meyakinkan, meraih jemari lentik Lala dan menggenggamnya kuat.


Mereka berdiri di ambang pintu, Lala mengedarkan pandangan. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja warna cat rumah yang sudah memudar, dan beberapa pepohonan di halaman rumahnya semakin lebat dan rindang.


Rain menekan bel rumah tersebut. Denyut jantung Lala semakin kuat, ia menunduk dan semakin mencengkeram tangan Rico.


 


Bersambung~

__ADS_1


Rekomendasi novel seru kali ini aku bawain dari author Warnyi dalam novel yang berjudul Istri Selingan... mampir yukk 😍



__ADS_2