
Acara pertemuan dua keluarga besar berlangsung khidmat namun sedikit menegangkan. Mulai pintu masuk hingga pagar, berbaris rapi para bodyguard utusan Tiger. Penguntit yang sedari tadi berhenti di sana segera melenggang pergi ketika beberapa pasang mata tajam mengarah padanya.
“Baiklah, jangan berlama-lama lagi. Langsung saja acara ini kita mulai.” Dodi—ayah Lala membuka acara.
Sambutan singkat pun ia lantunkan, sekedar perkenalan keluarganya saja. Kemudian disambung dengan perwakilan keluarga Rico, yang secara resmi ingin meminang putri Dodi. Tanggal pernikahan pun langsung ditentukan saat itu juga. Yakni, sekitar satu bulan lagi.
“Ah, sebenarnya ini sangat terburu-buru. Akan tetapi, demi kebaikan dan kebahagiaan anak-anak, kami menyetujuinya,” komentar Dodi sembari melempar senyum pada putri cantiknya.
“Baiklah, karena kedua belah pihak sudah setuju, kalau begitu kita lanjutkan acara tukar cincinnya. Cheryl, buka kotaknya, Sayang. Lalu kasih ke uncle sama Mbak Lala ya,” ucap Jihan pada putrinya yang baru saja menerima sebuah kotak beludru berwarna biru.
“Siap, Ma!” gadis cilik itu bersemangat sekali. Berlari kecil hingga ke tengah-tengah Rico dan Lala. Senyum lebarnya mengembang, menyodorkan kotak yang terbuka dengan dua cincin emas murni.
“Terima kasih, Nona Kecil,” seru dua sejoli itu serentak, dengan senyum mengembang.
Cheryl menggantungkan tangannya sampai Rico dan Lala selesai memasukkan cincin ke jari manis pasangan mereka.
Tepuk tangan menggema di ruang tamu yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Dengan sepasang kursi raja dan ratu di depan. Sebagai tempat duduk Rico dan Lala.
“Akhirnya, one step closer,” gumam Rico menggenggam tangan Lala dan menciumnya.
Fotografer pun sedari tadi sibuk mengabadikan momen tersebut. Cheryl langsung duduk di pangkuan Rico, mengganggu keromantisan pasangan itu. Mereka bertiga berfoto ria bak sebuah keluarga kecil.
__ADS_1
Berbeda dengan Rain yang hanya menunduk sedari tadi. Mukanya cemberut, bahkan menolak ajakan Cheryl bergabung dengan Rico. Rico sendiri hanya memperhatikan dari kejauhan, ia juga tidak ingin memaksa anaknya itu.
“Kok nggak ikut ke sana, Nak?” tanya Jihan mendekat, membelai kepala Rain yang memilih duduk seorang diri.
Bocah itu hanya menggeleng tanpa bersuara. Hanya sibuk memainkan mobil-mobilan kecil di tangannya.
“Mau makan apa? Bibi ambilkan,” tawar Jihan selembut mungkin. Akan tetapi, jawaban Rain tetap sama. Menggeleng sembari sibuk bermain mobil-mobilannya di meja.
Jihan mendesah pelan, menatap nanar pada anak kecil itu. Ia prihatin dengan apa yang menimpa Rainer. Satu minggu yang lalu, Rain dibawa ke psikiater setelah berkonsultasi dengan dokter anak.
Hasil pemeriksaan cukup mencengangkan. Rain mengalami trauma berat. Ia akan ketakutan mendengar suara keras atau pun kekerasan fisik. Bahkan sangat sulit untuk berbaur dengan orang baru, kecuali orang-orang yang membuatnya nyaman, tenang dan aman.
Selepas acara pertunangan itu, Rico dan Lala sering jalan berdua. Keduanya disibukkan untuk mengurus pernikahan mereka yang sudah di depan mata.
Meski tidak ada pesta besar, tetap saja mereka harus mengurus administrasi, mencari WO yang sesuai dan membuat sedikit undangan untuk keluarga dan rekan-rekan kerja mereka saja.
Setiap seminggu sekali, Rico juga rutin mengantarkan Rain ke dokter spesialis. Berharap trauma pada anak itu bisa hilang sepenuhnya.
“Ric, disuruh ke butik sama nyonya. Katanya kamu juga dibuatin setelan jas nih. Fitting dulu ya, takut kurang pas,” ucap Lala ketika telepon mereka tersambung.
“Iya, Sayang. Satu jam lagi aku sampai,” balas Rico yang masih menemani Rainer menjalani terapinya.
__ADS_1
“Oke, hati-hati ya.”
Percakapan singkat pun berakhir. Setelah menunggu selama 30 menit, terapi yang dijalani Rainer pun usai. Mereka segera meninggalkan ruangan dokter itu.
“Oke, Boy. Kita ambil obat dulu. Lalu ke butik Cheryl ya,” ajak Rico menggendong anak itu dengan bersemangat.
Mimik muka Rain juga berubah ceria ketika mendengar nama Cheryl. Keceriaan gadis itu, menebarkan aura positif. Sehingga Rain pun turut bahagia jika bersama gadis cilik itu.
“Nah, tunggu di sini!” ucap Rico mendudukkan Rain di kursi tunggu.
Saat mengedarkan pandangan, manik mata Rain menangkap sillouette ibunya di balik dinding. Pandangannya sama sekali tak berpindah dari sudut apotek itu. Untuk berkedip pun ia usahakan selama mungkin. Takut kehilangan bayangan sang ibu.
Tak berapa lama, wanita itu menjulurkan kepala keluar dari persembunyian. Matanya membelalak ketika bertumbukan dengan manik sendu Rainer. Dadanya tampak naik turun dengan kasar, matanya berkaca-kaca.
Segera perempuan itu meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Berharap agar putranya diam tak bersuara. Kepalanya mengangguk dengan tatapan permohonan. Dua manik miliknya basah dilapisi cairan bening yang diseka dengan cepat.
Rain menelan salivanya berat. Bibirnya terbuka dan hampir bersuara. Namun sang ibu terus menggeleng agar putranya diam.
Bersambung~
__ADS_1