Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 44 ~ Syok


__ADS_3

Ketukan sopan namun berulang menyelusup indra pendengaran sang penghuni ruangan. Dua perempuan yang saling berpelukan itu pun terperanjat kaget, sama-sama membuka mata dengan cepat dengan irama detak jantung yang berantakan.


“Ma,” panggil Zora yang masih mengumpulkan segenap kesadarannya.


Saking lelahnya, mereka tertidur hingga lupa akan drama penculikan yang mereka alami. Dan kini, keduanya saling menatap, lalu beranjak duduk.


“Biar aku aja, Ma!” tegas Zora bergegas turun dari ranjang dan melangkah cepat membuka pintu.


Lala tidak tega membiarkan putrinya sendirian, ia pun menyusul dan kini berdiri di belakang punggung Zora. Pintu terbuka dengan perlahan. Kening mereka berkerut dalam.


“Selamat pagi, Nyonya!” sapa seorang pria berpakaian rapi berambut klimis dengan seuntai senyum ramah. Bahkan mereka serentak membungkuk. Sangat berbeda saat penculikan paksa itu terjadi.


“Silakan sarapannya, dan ada pakaian ganti juga untuk Anda berdua. Silakan menikmati semua fasilitas di hotel ini. Tiga hari ke depan, akan ada MUA yang merias Anda untuk menghadiri pesta pernikahan,” papar pria bertubuh gempal itu, yang menjabat sebagai manajer hotel.


Lala menelan salivanya, “Apakah kalian tidak salah orang?”

__ADS_1


“Tidak, Nyonya. Kami akan melayani Anda dengan sepenuh hati. Sampaikan saja apa yang Anda butuhkan.”


Lala masih mencerna semuanya, kepalanya mendadak terasa berputar-putar. Tubuhnya terhuyung yang segera ditahan oleh Zora.


“Ma! Mama kenapa?” tanya Zora khawatir melihat wajah pucat ibunya.


“Panggilkan dokter!” titah manajer itu pada beberapa pelayan di belakangnya. Salah satunya segera meraih alat komunikasi yang langsung tersambung resepsionis dan meminta dokter untuk ke ruangan mereka.


“Tunggu! Maksudnya apa? Aku di mana? Pernikahan? Pernikahan siapa?” cecar Lala dalam kebingungannya.


“Anda di Palembang, Nyonya. Untuk lebih jelasnya, saya tidak ada wewenang. Karena kemungkinan beliau akan segera datang ke sini.” Manajer itu meminta para bawahannya membawakan trolly sarapan ke dalam kamar, ada juga yang membawakan beberapa helai pakaian ganti.


“Palembang?” gumam Lala semakin lemah. Tubuhnya gemetar dengan dada bertalu kuat. Kakinya sudah tak kuasa menopang tubuhnya.


“Ma, kembali aja ke ranjang,” ucap Zora memapah sang ibu.

__ADS_1


Mendudukkan dan segera merebahkannya. Hingga tak lama kemudian, dokter datang memeriksanya. Syok dan kelelahan membuat kondisi fisiknya menurun.


Setelah diberi vitamin, semua orang meninggalkan kamar Lala. Zora yang kelaparan tak sabar membuka penutup makanan satu per satu.


“Woaa! Kelihatannya enak, enak. Ayo makan dulu, Ma! Aku mau deh diculik kalau kayak gini!” seloroh Zora terkekeh.


Dengan semangat, Zora meraih piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk-pauknya. Ia segera duduk di samping ibunya yang berbaring. Ingin menyuapinya.


Lala masih mematung, tatapannya nanar menatap langit-langit kamar. Air mata meleleh dengan cepat. Tidak menyangka bisa kembali ke kota ini. Tapi, banyak sekali pertanyaan di benaknya saat ini. Yang bahkan membuatnya sulit untuk mengeluarkan suara. Tenggorokannya benar-benar tercekat.


“Kok Mama nangis? Mana yang sakit, Ma?” Zora kembali meletakkan piring di atas nakas. Menyeka air mata yang terus saja menetes. Pikiran dan hatinya berkecamuk.


“Ma, bilang. Mana yang sakit? Jangan bikin aku takut,” rengek Zora ketakutan memijit lengan ibunya dengan perlahan. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu dengan ibunya. Karena hanya wanita itu satu-satunya yang ia punya. Gadis belia itu turut menitikkan air mata.


Di tengah kegundahan Zora, terdengar derap langkah kaki berlari semakin mendekat. Kemudian membuka pintu dengan kasar. Zora menoleh ke arah pintu. Ia turun dan segera membelakangi ibunya. Melindungi wanita itu dengan mengerahkan segala kemampuannya.

__ADS_1


Bersambung~


 


__ADS_2