
Tanpa berpikir panjang lagi, mobil Rico melesat dengan kecepatan tinggi. Dadanya berdegup hebat ketika membayangkan hal buruk terjadi pada Rain.
Tak berapa lama, kendaraan roda empat itu memasuki pelataran apartemen. Ia parkir sembarangan, turun dengan cepat dan berlari sekuat tenaga untuk mencapai pintu lift.
Napasnya masih terengah-engah, namun tubuhnya seolah tak ada rasa lelah sedikit pun. Begitu pun saat pintu lift terbuka di lantai apartemennya, dengan gesit pria itu melangkah cepat. Terkejut ketika menemukan pintunya berlubang, seseorang sengaja merusaknya.
“Sial!” umpat Rico kesal melenggang ke kamar.
Rico menemukan tubuh kekar menjulang tinggi membelakanginya. Ia juga menatap Rain yang menangis dalam pelukan ibunya.
Dengan amarah yang membumbung tinggi. Rico menarik hoodie bagian leher pria itu dan menyeretnya keluar. Rico tidak ingin Rain melihat kebrutalannya.
“Brugh!”
Tubuh pria misterius itu dibanting oleh Rico di luar apartemen. Ia merintih sekaligus terkejut mendapat serangan mendadak.
“Sini kamu!” pekik Rico memasang kuda-kuda, bersiap untuk melawannya.
Pria yang hanya terlihat sepasang mata itu perlahan berdiri, melayangkan tatapan tak kalah tajam pada Rico.
“Beraninya merusak apartemenku!” Rico mengayunkan sebuah tendangan di dada pria itu. Namun berhasil menghindar.
__ADS_1
Tak ingin kehilangan celah, serangan beruntun dilayangkan Rico tendangan tipuan di atas yang lagi-lagi dihindari pria misterius dengan melengkungkan tubuhnya ke belakang. Namun seketika ditambah Rico dengan injakan tepat di perutnya.
Rico mencengkeram hoodie lelaki itu, membangunkan paksa lalu memukul wajahnya berkali-kali. Satu tangannya masih mencengkeram kerah hoodie. “Katakan pada Satya, hadapi aku. Jangan jadi pengecut!” serunya penuh tekanan.
Pria misterius menggunakan lutut untuk menendang perut Rico. Lalu menambahi dengan pukulan di pipi dan dada. Tubuh Rico sempat terhuyung beberapa langkah ke belakang, hingga pria itu berhasil melarikan diri.
“Ibu! Sakit, Bu!”
Hendak mengejar, suara Rain menggema diiringi dengan isak tangis. Rico bergegas masuk kembali, menemukan tubuh Airin yang pingsan menindih tubuh kecil Rain.
Rico segera membangunkan tubuh Airin, wajahnya begitu pucat, lalu menemukan darah yang berceceran di ranjang.
“Rain, kita bawa ibu ke rumah sakit ya. Jangan nangis, pegangan sama baju Ayah,” ucap Rico pelan, agar tidak menakuti bocah itu.
“Enggak apa-apa, ibu cuma capek. Ayo,” ajak Rico meluruskan tubuh Airin dan menggendongnya.
Tepat saat tiba di pelataran tempat parkir mobilnya tadi, sepasang manik Lala mengembun, bahkan dengan cepat meluncur bebas di kedua pipinya. Ia melihat Rico susah payah menggendong Airin, dengan Rain yang membuntuti dan mencengkeram ujung kemeja Rico yang memang tidak dimasukkan ke dalam celana. Terlihat seperti keluarga kecil. Bibirnya bergetar dengan senyum getir.
“Pak, ikuti mobil hitam itu ya,” ucap Lala menunjuk mobil Rico yang mulai melaju.
“Baik, Nona!”
__ADS_1
Lala menunduk, mencengkeram dadanya yang terasa begitu nyeri. Bulir bening di mata semakin berjatuhan begitu deras. Napasnya pun terasa berat.
Sesampainya di rumah sakit, Rico berteriak pada tenaga medis agar segera membawa brankar ke mobilnya dan memindahkan Airin ke IGD.
Rico menggendong tubuh mungil Rain yang terus menatap ibunya. “Ibu kenapa tidur terus Ayah?” tanya anak itu dengan polos.
“Rain do'ain ibu ya biar nanti bisa main dan jagain Rain lagi,” sahut Rico duduk di kursi tunggu sembari menyibak rambut bocah itu.
Hampir setengah jam menunggu, dokter baru keluar untuk bertemu dengan penanggung jawab Airin.
“Saya, Dok!” Rico beranjak dengan Rain dalam gendongannya.
“Nyonya Airin memiliki riwayat penyakit hemofilia. Padahal sebelumnya sudah saya peringatkan berkali-kali untuk berhati-hati. Jangan sampai terluka. Pasien masih dalam tahap pemulihan!” tutur dokter jaga yang sudah menelusuri rekam medisnya.
Rico tercengang, matanya mendelik mendengarnya. “Hemofilia?” serunya benar-benar terkejut.
Ingatan Rico berputar ketika Rain mengalami pendarahan. Dokter menuturkan bahwa penyakit hemofilia merupakan penyakit yang diturunkan oleh seorang ibu pada anak laki-lakinya.
Rico menatap Rain dengan tatapan yang sulit diartikan. Keningnya mengerut dalam, mengurutkan semua kejadian hingga detik ini. Bagaimana Rain bisa langsung dekat dengan seorang wanita yang baru dikenalnya.
“Jangan-jangan ....”
__ADS_1
Bersambung~