
Pintu ditarik dengan cepat, Zora mendelik dengan keterkejutannya. Ada banyak sekali pria bertubuh kekar dengan pakaian rapi menjulang di hadapannya.
Gerakan refleks menyerangnya cukup bagus. Sapu yang Zoya pegang cukup berguna untuk menyerang para pria itu. Zoya mengayunkan gagang sapu dengan cepat. Hingga pukulan terakhir, sapu tersebut patah menjadi dua.
‘Aneh, kenapa mereka nggak melawan?’ gumamnya penasaran. Napasnya cukup tersengal, menatap para lelaki berkacamata itu.
“Siapa kalian? Ada urusan apa?” pekik Zora mengepalkan kedua tangan.
Seorang pria maju dan mendorong bahu Zora hingga tubuhnya bergeser tidak menghalangi pintu. Sedangkan yang lain, menahan gerakan Zora yang hendak kembali masuk karena takut ibunya kenapa-napa.
Lala menodongkan pisah di tangannya, sambil berlindung di balik kursi makan. “Siapa kamu? Ada urusan apa di rumah saya?” tanya Lala dilanda kepanikan.
Jika hanya satu dua orang saja, Zora tentu mudah mengalahkannya. Akan tetapi, pria itu bahkan begitu banyak. Hingga ia kesulitan melepaskan diri.
“Jangan ganggu mamaku! Lepas, brengsek! Sini hadapi aku! Jangan sentuh mamaku!” teriak Zora menendang-nendang udara. Kedua tangannya ditahan oleh masing-masing dua pria kekar yang tidak ia kenali.
Sedikit menoleh dan menatap Zora menyelidik di balik kacamata hitamnya, pria di hadapan Lala tidak tahu bahwa saat ini pisau di tangan Lala semakin dekat. Hampir saja menusuk perutnya, jikalau terlambat satu detik saja.
Tangan pria itu menggenggam mata pisau yang dihunuskan oleh Lala, tanpa perlawanan berarti. Hingga cairan merah mulai menetes ke lantai keramik berwarna putih.
Lala mendelik, melepas pisau itu dengan segera. Ia mendongak menatap lelaki yang masih mematung.
Setelah beberapa saat keduanya saling terdiam, pria itu memanggul tubuh Lala seperti karung beras. Lalu melenggang pergi dengan langkah santai.
__ADS_1
“Lepasin! Apa mau kamu?” Lala terus memberontak memukul punggung kekar lelaki itu, kakinya juga terus bergerak berharap ia bisa terlepas.
“Mama! Jangan sakiti mamaku! Lepasin, bajingan!” teriak Zora melengking hingga serasa memecahkan gendang telinga mereka.
“Tuan, bagaimana dengan nona ini?” tanya salah satu anak buahnya sembari mencengkeram kuat tangan Zora yang masih terus memberontak kuat.
“Bawa sekalian! Tutup mata dan mulut mereka!” titah lelaki itu dengan suara tegas.
Setelah memasukkan Lala dan Zora ke mobil, ia juga naik di mobil yang sama. Matanya tak lepas dari cermin yang menggantung di depan. Memperhatikan dua wanita itu lamat-lamat. Meski ada rasa tak tega menyergap hatinya, ketika harus melihat mereka diikat, bahkan ditutup mata juga mulutnya.
Perih yang terasa baru menyadarkannya, bahwa telapak tangannya berdarah. Buru-buru pria itu menyobek kemeja dan menggulung di telapak tangannya untuk menghentikan pendarahan.
Perjalanan panjang pun akhirnya terlampaui. Zora bisa diam karena bisa merasakan kehadiran ibunya. Begitu pun Lala. Mereka pasrah asalkan tidak dipisahkan.
Menjelang pagi mereka baru mendarat di Palembang. Berpindah lagi dengan armada darat, yang segera melaju dengan kecepatan rata-rata.
Dua tangan Lala dan Zora saling bertautan erat. Mereka sudah terlalu lelah. Hingga tidak peduli lagi akan dibawa ke mana.
“Sesuai rencana!” Suara bariton itu terdengar memerintah.
“Baik, Tuan!” balas sang sopir mengangguk.
Hingga beberapa saat kemudian, iring-iringan mobil telah sampai di pelataran hotel bintang lima. Mereka segera melepas simpul tali dan penutup mulut pada Lala dan Zora.
__ADS_1
Mulut Zora sudah hampir terbuka. Tetapi moncong pistol mendarat di pelipisnya. Hingga membuat gadis itu kembali terdiam mematung.
“Jangan berteriak! Atau bicara aneh-aneh. Atau aku tarik pelatuk ini sampai menembus kepalamu. Paham?” ancam pria yang menjaganya sedari tadi.
Cengkeraman tangan Lala semakin kuat, Zora mengangguk beberapa kali sebagai jawaban. Hingga moncong pistol itu tak terasa lagi. Dua mata mereka masih tertutup kain hitam.
Mereka lalu memapah Lala dan Zora, hingga memasukkannya ke sebuah kamar lalu meninggalkannya begitu saja. Pintu dikunci dari luar, penjagaan pun begitu ketat di balkon maupun depan pintu.
“Ma!” seru Zora membuka penutup mata dengan cepat. Begitu pun Lala.
“Kamu nggak apa-apa, Sayang?” tanya Lala menangkup kedua pipi putrinya.
“Enggak, Ma. Mama juga nggak terluka ‘kan, Ma?” Gadis itu memeriksa setiap inch tubuh mamanya, lalu mengambur ke pelukan wanita itu.
“Syukurlah!” desah Lala mengembuskan napas lega.
Setelah beberapa saat, Lala mengedarkan pandangan. Ia baru sadar bahwa saat ini berada di sebuah hotel. “Zora, kita di mana?” gumamnya meregangkan pelukan.
Pandangan Zora pun turut mengeliling, ia sendiri tidak tahu ada di mana saat ini. Matanya tiba-tiba mendelik, “Jangan-jangan kita mau dijual, Ma?” seru Zora panik memeluk tubuh ibunya lagi dengan begitu erat.
“Apa?” Lala menelan salivanya gugup. 'Apa karena itu mereka tidak menyakiti kami?' sambung Lala dalam hati dengan pikiran gusar.
__ADS_1
Bersambung~