Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 73 ~ Panik


__ADS_3

Usai drama batuk berkepanjangan, Rain tidak mampu menelan kembali makanannya. Wajahnya memerah sepenuhnya, tenggorokannya masih panas, bahkan telinganya terasa berdengung.


“Maaf, Kak,” sesal Zora menyeka bulir keringat yang menyembul  di wajah tampan kakaknya. Ia sampai menangis karena ketakutan. Khawatir terjadi sesuatu yang serius dengan sang kakak.


Rain tersenyum, meraih kedua jemari lentik Zora sembari menatapnya lembut, “Tenang aja. Aku bakal jagain kamu, sampai kamu benar-benar tidak butuh aku. Sampai nanti kamu jatuh di tangan laki-laki yang tepat. Setelah kamu sudah bahagia dengan pasanganmu. Aku hanya terkejut saja tadi, lagian kamu ngomong pas kita lagi makan,” ucapnya pelan menyeka air mata Zora.


Sontak saja, gadis belia itu merangkul leher Rainer. Beruntung sekali memiliki kakak yang sangat menyayanginya. Ia seperti ingin meluapkan seluruh manjanya yang selama ini terpendam. “Makasih, Kak. Pokoknya yang jadi istri kakak nanti harus aku seleksi. Kakak enggak boleh dapet wanita sundel,” tegasnya dengan serius.


“Iya!” balas Rain terkekeh membalas pelukan Zora. “Lagian aku enggak ada rencana menikah dalam waktu dekat. Selain mau jagain kamu, ya karena memang belum ketemu yang cocok,” sambungnya.


Zora meregangkan pelukannya, menatap lekat netra lelaki itu sembari memicing. Hendak memastikan kebenaran dari sana. “Serius? Memang kakak enggak pernah pacaran?” tanya Zora.


Gelengan kecil dengan seuntai senyum tentu bisa menjawab pertanyaan Zora. “Aku takut gagal dan tidak bisa memberi kebahagiaan.”


Rain terdiam sejenak, mengingat bagaimana hancurnya pernikahan ayah dan ibunya dulu.


Namun, segera ia menarik kesadarannya, “Lagian buat apa pacaran? Cuma buang-buang waktu, tenaga, pikiran dan uang. Mending semuanya buat kamu, iya ‘kan?” ucap Rain mencubit hidung kecil sang adik dan menggerakkannya perlahan.


“Aaah, sakit, Kak!” rengek Zora memukul pundak sang kakak. Sungguh, ia benar-benar bahagia karena dicurahi kasih sayang sebegitu derasnya. Bukan hanya dari orang tuanya, namun juga dari kakaknya. Yang ia yakini mereka sedarah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hari demi hari semakin berganti, semua aktivitas sudah kembali seperti semula. Rain dengan setumpuk pekerjaan di ibukota, Zora yang kembali melanjutkan sekolahnya, Rico yang menjadi suami dan ayah siaga kapan pun saat Lala membutuhkannya.


Memang benar apa yang dikatakan dokter, kehamilannya kali ini sangat jauh berbeda dari kehamilan sebelumnya. Morning sickness yang berlebihan, sistem imun menurun, bahkan berat badan Lala menurun drastis. Sering kali harus keluar masuk rumah sakit karena dehidrasi.


Namun, semua itu ia jalani dengan penuh senyum. Dukungan penuh dari suami dan kedua anaknya, mampu membuat Lala semangat berjuang. Rico benar-benar sigap dan selalu ada di sisinya setiap saat. Terkadang, ia sampai menangis karena terharu.  


Di usia kandungan 7 bulan, jenis kelamin bayi Lala menurut dokter adalah laki-laki. Zora sangat bersemangat ketika berbelanja semua keperluan calon adiknya itu. Bagaimana tidak? Ia akan menjadi ratu satu-satunya di keluarga, diapit oleh dua pangeran.


“Kak, ini kurang apa lagi ya?” tanya Zora menatap trolly yang penuh dengan berbagai jenis kebutuhan bayi.


Sejak kehamilan Lala, Rain sering pulang pergi Jakarta-Palembang demi melihat kondisi sang mama atau ingin menemani Zora kemana pun dia mau. Sesuai janji, pria itu sangat menjaganya dengan baik. Bahkan sekalipun saling berjauhan, Rain tak pernah berhenti menghujaninya dengan perhatian dan kasih sayang. Ia juga menjadi kakak yang protective ketika Zora mengenal teman laki-laki. Rain tidak ingin Zora salah bergaul.


“Kayaknya udah cukup. Udah enggak muat ini. Nanti tanya mama lagi apa yang kurang. Biar dicek dulu,” sahut Rain yang diangguki oleh Zora.


"Ckckck! Padahal masih muda begitu, dasar anak muda zaman sekarang."


"Iya ya, Bu. Kasihan, masa depannya jadi suram!"


“Buk! Kalau mau ghibah tuh yang keras, pakai TOA sekalian noh! Biasa aja liatnya. Enggak pernah liat anak muda belanja untuk bayi ya? Julid amat!” ketus Zora berkacak pinggang.


Rain yang fokus mendorong trolly pun segera menoleh, memang beberapa pasang mata tampak menyorot sinis ke arah mereka. Ia segera merangkul leher Zora dan menatap tajam para ibu-ibu di belakangnya. “Dia adik saya. Kami belanja untuk mama!” ucapnya tegas kembali fokus dan tak mengizinkan Zora bergerak.

__ADS_1


“Kak! Kecekik!” seru Zora menepuk-nepuk lengan kekar Rainer yang membelit lehernya.


"Enggak usah ladenin! Abaikan aja!” bisik Rain.


“Iiih pengen colok matanya! Liatinnya gitu amat!” sahut Zora yang masih berapi-api.


“Mereka cuma iri, karena anak-anaknya enggak kayak kita yang mau belanja buat mamanya! Udah jangan dilihat dan jangan didengar!” tegas lelaki itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kondisi yang tidak memungkinkan, mengharuskan Lala terbaring di atas meja operasi pada usia kehamilannya yang sudah mencapai 38 minggu. Pendarahan yang tiba-tiba terjadi serta tensi darah yang tinggi, mengharuskan dokter untuk segera mengambil tindakan.


Gemruh alat-alat stainless yang menggema di pendengaran Rico, membuat sekujur tubuhnya panas dingin. Wajahnya tak berjarak dengan kepala sang istri, membisik dengan untaian kalimat cinta, sambil sesekali menciumi keningnya.


Air mata Lala menetes tiada henti, selain takut terjadi sesuatu dengan bayinya, ia sangat terharu mendapat support sistem yang luar biasa dari sang suami.


“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, Sayang,” bisik Rico menyeka air mata Lala yang terus menetes.


Lala mengedipkan mata berulang, sebagian tubuhnya mati rasa. Setiap sayatan demi sayatan sama sekali tak terasa. Ia tersenyum, “Rico, terima kasih untuk semua kebahagiaan yang kamu berikan selama satu tahun ini. Aku mencintaimu, Ric. Dari dulu, sekarang dan selamanya,” gumam Lala dengan suara lirihnya, sebelum akhirnya matanya terpejam. Bersamaan dengan lengkingan suara bayi yang memecah kesunyian di ruangan yang dingin itu.


“La, Sayang? Lala ini enggak lucu! Bangun, Sayang. Hei, anak kita udah lahir,” ucap Rico panik menepuk-nepuk pipi Lala. Apalagi suara monitor detak jantung yang memekik tak beraturan, membuat jiwa Rico seakan luluh lantak.

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2