
Suara bariton yang menginterupsi tentu mengalihkan atensi semua orang padanya. Seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan pakaian rapi tampak berdiri gagah di sebuah sudut. Kakinya melangkah dengan perlahan, mendekati Lala.
“Papa,” gumam Lala dengan suara lirih. Manik matanya berkaca-kaca. Ia takut jika acara ini akan gagal untuk yang kedua kalinya.
Zora semakin menguatkan cengkeraman di lengan Lala. Menyembunyikan wajah cantiknya di balik punggung sang mama. Sejak kejadian itu, membuat Zora sedikit gentar melihat kakeknya.
Kini lelaki tua itu berdiri tepat di hadapan Lala. Netra mereka saling beradu cukup lama. Tidak tahan lagi, air mata mulai berjatuhan di pipi Lala.
“Apa kamu sudah tidak menganggap Papa lagi?” Akhirnya Dodi bersuara setelah beberapa saat. Lala hanya menjawab dengan gelengan di kepalanya.
“Lalu kenapa tidak menunggu Papa untuk mengantarmu ke altar?” tandas lelaki itu dengan suara tegas.
“Aku pikir Papa tidak mau melakukannya,” sahut Lala dengan suara parau.
Ketegangan yang sedari tadi tercipta mulai terkikis. Apalagi setelah Dodi merentangkan kedua lengannya, wajah suramnya berganti dengan senyum yang lebar. Zora dan Rainer dengan kompak melepaskan tautan tangan mereka. Hingga kini Lala mengambur ke pelukan ayahnya.
“Mana mungkin Papa tidak mau? Kamu putri Papa satu-satunya. Ini cita-cita Papa yang belum kesampaian. Untung saja masih diberi umur panjang!” sahut Dodi menepuk-nepuk punggung Lala.
__ADS_1
“Maaf Lala sudah mengecewakan Papa,” ucap Lala menangis dalam pelukan lelaki itu.
Semua orang tengah menghela napas penuh kelegaan. Memang tak banyak yang menghadiri pernikahan mereka. Hanya beberapa kerabat terdekat, rekan-rekan bodyguard dan karyawan butik Jihan saja. Tapi mereka tahu betul bagaimana lika liku perjalanan cinta dua sejoli itu.
“Sudah, ayo kita lanjutkan! Semua orang sudah menunggu!” ucap Dodi meregangkan pelukannya.
Beberapa MUA segera menghampiri, riasan tidak terlalu rusak. Hanya saja, mereka ingin lebih menyempurnakannya. Tak butuh waktu lama, kini Dodi menggenggam jemari lentik Lala dengan erat. Musik pengiring pengantin kembali berdenting.
Mereka semakin melangkah, mendekati sang pengantin pria yang sudah tegang sedari tadi menunggu kedatangan Lala.
Rico membungkuk, menyambut uluran tangan Lala yang diserahkan oleh sang ayah. “Maaf, Pa. Saya berjanji akan menjaga dan mencintai Lala seumur hidup saya,” gumam Rico menegakkan kembali punggungnya, mengurai senyum meski matanya berkaca-kaca. Merasa terharu dengan kehadiran dan restu pria tua itu.
“Kau memang kurang ajar! Berani-beraninya DP duluan!” sindir Dodi meninju lengan Rico meski tak begitu keras.
“Sekali lagi maafkan saya, Pa.” Hanya itu jawaban Rico, menundukkan kepala karena memang ia bersalah.
Acara harus segera dilanjutkan, mengingat pendeta sedari tadi sudah menunggunya sangat lama.
__ADS_1
Upacara pernikahan berjalan dengan lancar, janji suci dengan lantang terucap dari sepasang pengantin itu. Status suami istri telah sah mereka sandang diiringi tepuk tangan yang menggelegar di seluruh penjuru pantai. Rico dan Lala begitu terlihat begitu bahagia.
Hanya Zora yang justru menangis di antara puluhan kebahagiaan orang yang ada di sana. Rain menggenggam erat tangannya, paham bagaimana perasaan Zora saat ini.
“Akhirnya mama nggak akan banting tulang sendiri. Sudah ada yang menopangnya dalam kerasnya hidup selama ini. Aku harap mama akan bahagia selamanya,” ucap Zora sesenggukan.
Rain merengkuh bahunya, memberikan ketenangan, “Ayah juga nggak akan kesepian lagi. Dia tidak akan menangis diam-diam di tengah malam sambil memeluk surat dan foto mama. Ayah, sudah menemukan rumahnya,” sahut Rain menatap kebahagiaan Lala dan Rico.
“Zora, setelah ini aku akan kembali ke Jakarta. Tugasku telah selesai,” sambung lelaki itu menunduk, menatap adiknya.
Bersambung~
Rekomendasi bacaan seru hari ini aku bawain dari author Siti Fatimah yang berjudul Istri yang tak dianggap. Jan lupa mampir. 🥰
__ADS_1