Menemukan Sahabat Terbaikku

Menemukan Sahabat Terbaikku
Episode 11


__ADS_3

"Kringg....Kringgg....Kringg..," (suara bel berbunyi).


Zelin dan teman-temannya kembali ke dalam kelas, dia menatap Claren dengan penuh kebencian. Semua murid-murid kembali ke dalam kelas, Bu guru menyudahi praktik di laboratorium.


"Vin, bagaimana lukamu?" tanya Hersel salah satu teman kelas.


"Udah nggak apa-apa," jawab Arvin.


"Claren dan Arvin peralatan kalian untuk praktik tadi masih di ruang laboratorium. Sekarang kamu boleh mengambilnya," kata Bu guru.


"Iya Bu," jawab Arvin.


"Biar aku saja yang mengambilnya kamu disini saja," kata Claren.


"Tidak apa aku akan mengambilnya sendiri," jawab Arvin.

__ADS_1


"Diam!" kata Claren dengan tegas.


Claren langsung berdiri dari tempat duduk dan mengambil peralatannya.


"Thanks," jawab Arvin.


Claren tidak menjawab ucapan terima kasih yang sudah diberikan Arvin, dia terus berjalan keluar kelas. Arvin merasa bingung dengan perubahan sikap Claren, terkadang dingin dan terkadang mendadak perhatian.


5 menit kemudian


"Arvin apakah kamu kesulitan untuk menulis?" tanya Claren.


"Tidak," jawab Arvin sedikit ketus.


Arvin menyembunyikan rasa sakit itu, karena dia tidak mau kalau dia dianggap lemah oleh orang lain. Tetapi melihat sikapnya Arvin kepada Claren, dia mulai teringat dengan teman lamanya. Dia mulai bersikap dingin lagi kepada Arvin. Tidak terasa jam pelajaran sudah selesai. Ibu guru mulai mengakhiri pembelajaran, semua anak-anak berkemas untuk pulang.

__ADS_1


"Claren! Besok adalah hari Minggu dan lukaku harus di sterilkan di rumah sakit bisakah kamu menemaniku. Aku tidak terbiasa ke rumah sakit sendirian," ucap Arvin.


Tapi Claren tidak menjawab pertanyaan Arvin karena dia teringat perilaku temannya dulu.


Claren keluar dari kelas dengan segera, dia merasa marah oleh sikap Arvin.


"Kenapa dengan sikap Claren? Apa jangan-jangan dia sakit hati gara-gara ucapanku?" ucap Arvin ke Hersel.


Hersel adalah anak yang terpopuler di sekolah itu dia jago dalam bidnag olahraga tapi lemah dalam bidang mata pelajaran. Dia mulai akrab sama Arvin dari pertama Arvin ke sekolah itu. Hersel bisa dibilang anak motor dan sedikit nakal. Selain berteman dengan Hersel, Arvin juga berteman dengan teman-teman Hersel yang lainnya. Seperti Azel, Vano, dan Zazan. Mereka selalu pergi ke kantin bersama dan bermain basket bersama, tapi Arvin tidak mengikuti perilaku Hersel dan teman-temannya yang suka montoran. Walaupun begitu Hersel tetap menghargai keputusan Arvin yang tidak ikut-ikutan menjadi anak montor.


Orang tua Arvin sangat disiplin dalam mendidiknya apalagi dia adalah anak kedua keluarga Andhara. Dia tidak ingin putra mereka menjadi anak yang nakal dan Arvin selalu menurut kepada kedua orang tuanya.


Sesampainya di pintu gerbang, Claren sudah di jemput oleh sopir Claren akhirnya masuk ke dalam mobil dan pulang. Sesampainya di rumah Claren langsung pergi ke kamarnya, kakek yang melihat sikap Claren dari jauh sudah merasakan kalau Claren memiliki masalah. Claren sesampainya di kamar dia langsung menutup pintunya, kakeknya pun menunggu dia keluar saampai saatnya makan malam.


Di dalam kamar Claren langsung pergi mandi dan melepas kelelahannya, dia meletakkan ponselnya di dalam tas. Claren adalah seorang anak yang jarang memainkan ponselnya, cuman saat terpenting dia membuka ponselnya. Di sana ada banyak notifikasi pesan yang terkirim tapi tidak satu pun dari pesan itu dibaca, selain menyangkut pelajarannya.

__ADS_1


__ADS_2