
Mama Vanco segera ke atas untuk melihat keadaan Claren.
"Claren? Kamu baik-baik saja di dalam?" Tanya mama.
"Mama pergi saja, aku baik-baik saja disini,"
ucap Claren (sambil menangis).
"Nak suaramu kedengeran kalau kamu sedang nangis, sebenarnya ada apa nak?" Tanya mama.
"Ma aku akan terbiasa nantinya, mama tidak perlu khawatir," kata Claren.
"Nak tolong bukalah pintunya," ucap mama.
Arvin sedang berbicara sama kakek sambil melihat ke atas. Dia merasa tidak enak dengan suasana seperti ini. Kemudian Claren membuka pintunya, mama Vanco melihat Claren menangis. Segeralah dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kembali.
"Nak kamu kenapa menangis? Ada apa ini😟,"
Tanya mama.
__ADS_1
Claren tidak berani melihat mamanya, pandangannya menatap ke balkon.
"Claren?" Tanya mama (sambil mendekat ke arah Claren).
"Apakah ada yang salah dengan perkataan kakek? Jika ada perkataan yang membuatmu tidak nyaman, jangan dimasukkan ke hati nak," sambung mama.
Claren menghapus air matanya, kemudian dia berbalik menghadap mamanya.
"Mama aku pasti akan terbiasa dengan semua ini, mama tidak perlu khawatir. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan keadaan ini," ucap Claren.
"Sayang mama tahu perasaanmu, kamu tidak pernah mendengar orang memarahimu sejak kecil. Tapi kan mama sudah tegaskan dulu kalau kakek kamu hanya menasehatimu. Jangan sedih lagi ya," kata mama.
Mama Vanco keluar dari kamar, dia merasa kalau saat ini Claren butuh waktu untuk sendiri. Supaya dia mengerti keadaan ini dengan baik, Claren mencoba beradaptasi lagi di rumah ini. Dia akhirnya menemukan titik terangnya, dia mencoba bersabar menghadapi kakeknya. Setelah itu dia memutuskan untuk membaca buku cerita, dia masih mendengar suara kakek berbincang dengan Arvin di bawah. Dia berfikir untuk menjauhkan Arvin dari keluarganya, karena kalau dia tidak dekat dengan keluarganya pasti semua berjalan dengan baik seperti dulu.
Hari sudah sore Arvin masih saja di rumah Claren. Setelah Claren mandi, dia keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju ruang belajarnya, saat dia berjalan ke ruang belajarnya Arvin menatapnya dari bawah. Dia berjalan santai ke ruang belajarnya, Arvin diajak kakek untuk melihat-lihat beberapa hewan yang dipeliharanya di rumah.
"Nak Arvin tunggulah sampai makan malam tiba ya," ucap kakek.
"Tidak usah kakek, aku akan makan malam dirumah," ucap Arvin.
__ADS_1
"Ayolah, kamu ingin menolak permintaan orang tua?" Tanya kakek.
"Kakek bukannya begitu," ucap Arvin.
"Kalau begitu kamu mau makan malam disini," jawab kakek.
Makan malam pun tiba, Arvin bersama anggota keluarga Claren makan malam di bawah. Sedangkan Claren tidak ikut makan malam, dia tidak suka jika harus dekat dengan Arvin.
"Ini masakan bibi?" Tanya Arvin.
"Iya nak, hari ini bibi yang masak buat makan malam," ucap mama Vanco.
"Oh ya bibi, aku tidak melihat paman sama sekali. Di mana paman?" Tanya Arvin.
"Dia lagi perjalanan bisnis di luar negeri untuk beberapa hari," ucap mama.
"Sebentar ya nak, bibi akan memanggil Claren dulu," ucapnya.
"Tidak usah memanggilnya menantu, biarkan dia turun sendiri," tegas kakek.
__ADS_1
Mama Vanco akhirnya duduk di meja makan, dia tidak selera makan hari ini. Karena Claren tidak makan sama sekali dari tadi pagi. Setelah makan malam Arvin memutuskan untuk pulang. Mama Vanco melihat kakek sudah masuk ke kamarnya, kemudian mama Vanco keluar sambil membawakan makanan untuk Claren.