Menemukan Sahabat Terbaikku

Menemukan Sahabat Terbaikku
Episode 30


__ADS_3

"Kamu siapanya dalam anggota keluarga Andhara?" Tanya kakek.


"Saya anak bungsu dari keluarga Andhara," jawab Arvin.


"Saya tahu keluarga Andhara, karena keluarga itu sudah berurusan bisnis dengan keluarga kami saat beberapa tahun yang lalu. Bagaimana kabar kakekmu?" Tanya kakek.


"Kabarnya baik-baik saja, beliau tinggal bersama bibi saya di luar negeri," jawab Arvin.


"Dia dulu adalah teman sekelasku waktu SMP dulu," ucap kakek.


"Kebetulan kita bisa bertemu kembali. Saya juga baru tinggal beberapa bulan disini," jawab Arvin.


"Saya memang mendengar kalau keluargamu pindah ke luar negeri, tapi setelah itu kami putus hubungan. Padahal sudah lama sekali aku ingin tahu keadaannya," jawab kakek.


"Kakek saya pasti ingin bertemu dengan kakek," jawab Arvin.


"Sekarang kamu bisa menjawab pertanyaan yang ke tiga," kata kakek.


"Kakek tahu sendiri kan sifatnya Claren seperti apa," jawab Arvin.


"Sifatnya Claren seperti biasa dia baik dan emangnya kenapa sifatnya Claren saat di sekolah?" Tanya kakek.


"Tidak ada kakek," jawab Arvin.


Arvin mengira sifatnya Claren itu sama seperti saat dia di sekolah, tetapi Arvin sempat terkejut mendengar pernyataan kakek Claren.

__ADS_1


"Ceritakanlah kepada kakek sifat Claren saat disekolah. Siapa orang yang nggak mau berteman dengan Claren, saat di luar negeri banyak sekali temannya," ucap kakek.


"Mungkin kakek bisa kasih beberapa solusi tentang sifat Claren kalau kamu bisa cerita kepada kakek," sambung kakek.


"Baiklah kakek yang memohon dan aku tidak bisa menolak permintaan orang yang lebih tua dariku," ucap Arvin.


"Hehehe," gurauan kakek.


"Claren sebenarnya anak yang dingin, egois, galak, dan suka menyendiri di sekolah. Saat ada teman di sekolah yang ingin berteman dengannya, dia cuman berdiam, biasanya langsung pergi," ucap Arvin.


Kakek sangat terkejut dengan cerita Arvin, dia tidak menyangka kalau cucunya bisa bersikap seperti itu.


"Kamu tidak bercanda kan nak?" Tanya kakek.


"Tidak kakek, aku tadi juga sempat terkejut melihat pernyataan dari kakek tentang sifat Claren saat di rumah. Itu sangat berbeda saat dia berada di sekolah," ucap Arvin.


"Ada apa kakek?" Tanya Arvin.


"Tunggu sebentar, kakek masih mengingat-ingat semua masalah yang pernah dia ceritakan," kata kakek.


Kemudian kakek mengingat bahwa Claren pernah bercerita tentang masalah temannya saat di luar negeri.


"Oh iya, Claren dulu pernah punya masalah dengan temannya saat berada di luar negeri," ucap kakek.


"Kalau boleh tahu dikarenakan masalah apa ya?" Tanya Arvin.

__ADS_1


Tiba-tiba Claren ke bawah dan mendengar pembicaraan kakek serta Arvin.


"Tidak dikarenakan apa-apa!" Teriak Claren dari kejahuan.


Arvin dan kakek langsung melihat ke arah Claren.


"Kakek sedang membicarakan aku?" Tanya Claren.


"Tidak seperti itu Claren," jawab kakek.


"Kakek aku ingin bicara sebentar dengan Arvin, boleh kan?" Tanya Claren.


"Baik, mari kita bicara," jawab Arvin.


Claren dan Arvin menuju ke ruang membaca buku. Sesampainya disana Arvin duduk di sofa dan mendengarkan perkataan Claren, Tetapi Claren terus berdiri di hadapan Arvin.


"Kamu ingin tahu banget ya, tentang masalahku dulu?" Tanya Claren.


"Tidak, kamu kali yang ngerasa gitu," ucap Arvin.


"Buktinya kenapa kamu nanyakan soal masalahku dulu saat di luar negeri. Itu namanya apa kalau nggak kepo!" Tegas Claren.


"Udah ya, urus saja urusanmu sendiri! Jangan pernah urusin masalahku. Dan jangan pernah berbicara sembarangan tentang aku didepan anggota keluargaku!" Tegas Claren.


"Aku cuman mau ngomong itu," sambung Claren.

__ADS_1


"Apa hak kamu untuk melarangku?" Tanya Arvin.


__ADS_2