
"Benar ini kan ruangannya?" Tanya Elina.
"Tadi bilangnya yang ini," jawab Arvin.
"Tok tok tok," Arvin mengetuk pintu.
"Masuk," jawab mama.
Arvin, Hersel, dan Elina masuk ke ruangan.
"Permisi tante saya teman sekelasnya Claren,"
"Silahkan masuk! Kalau nggak salah nama kamu Arvin ya?"
"Iya tante saya Arvin," jawab Arvin.
"Vin gue sama Elina keluar sebentar ya," ucap Hersel.
"Oke," jawab Arvin.
"Emm, tante saya sama Elina permisi keluar sebentar ada barang yang ketinggalan," kata Hersel.
"Baiklah," jawab mama.
"Ini tante saya bawakan makanan buat Claren," ucap Elina.
"Kok repot-repot bawakan makanan, kalau jenguk Claren nggak usah bawa apa-apa. Langsung ke sini aja," ucap mama.
"Kalau begitu saya keluar dulu tante," ucap Hersel.
"Baik," jawab mama Claren.
Hersel dan Elina mengejar Doctor untuk menanyakan keadaan Claren secara mendetail mengenai lukanya. Karena Hersel tidak ingin Elina kena masalah. Sedangkan Arvin mengobrol dengan orang tua Claren.
"Bagaimana keadaan Claren?" Tanya Arvin kepada mama Claren.
__ADS_1
"Sekarang kondisinya mulai membaik, tinggal lukanya saja yang masih terinfeksi. Ini baru saja di periksa Doctor spesialis kulit," ucap mama Claren.
"Baiklah kalian mengobrol dulu, kami akan pulang ke rumah sebentar," ucap papa Claren.
"Baik om," jawab Arvin
"Sayang kami oulang sebentar untuk membersihkan badan dulu serta mengambil beberapa perlengkapan," Ucap mama.
"Tenang saja tante, saya akan menjaganya selama om dan tante masih pulang," kata Arvin.
"Makasih lo nak, kamu sudah baik banget mau jagain Claren," kata mama Claren.
"Tidak apa-apa tante, karena saya dirumah juga sendirian selama ini," jawab Arvin.
"Loh dimana orang tuamu?" Tanya mama Claren.
"Orang tua saya masih di luar negeri untuk mengurusi bisnis," jawab Arvin.
"Kamu bisa main ke rumah jika kamu sendirian di rumah," ucap papa Claren.
Arvin hanya tersenyum kepada orang tua Claren.
"Baiklah kami pergi dulu," kata papa Claren.
"Oh ya.., hati-hati di jalan," kata Arvin.
"Iya," jawab mama Claren.
Mereka pergi dari ruangan dan pulang.
"Kamu butuh apa? Nanti biar aku ambilkan," tanya Arvin.
"Nggak!" tegas Claren.
"Kamu jangan sok perhatian ya, aku sudah tahu tipe seseorang kayak kamu! Pasti kamu ada maunya kan?" Tanya Claren.
__ADS_1
"Kanapa lo sampek punya pikiran kayak gitu?" Tanya Arvin.
"Iya semua orang kan kayak gitu, sifatnya tiba-tiba baik kepada orang karena ada maunya!" Tegas Claren.
"Pantesan ya cewek kayak lo itu nggak punya teman, mungkin sampek kapanpun nggak ada yang mau temenan sama lo," tegas Arvin.
"Pergi sana! Aku nggak butuh bantuan mu!" Teriak Claren.
Tiba-tiba Elina dan Hersel datang.
"Ada apa ini? kok ribut-ribut," tanya Hersel.
"Nggak perlu tahu!" Tegas Arvin.
Elina mendekat ke arah Claren.
"Claren keadaan lo sekarang nggak apa kan? Nanti biar aku yang panggil Doctornya jika kamu merasa sakit," kata Elina.
"Aku udah bilang sama kamu, urusan kita sudah selesai! Masalah luka ku ini, biar aku yang urus. Kan kamu juga sudah minta maaf sama aku," kata Claren.
"Eh Ren kamu kamu kok judes amat? Sudah untung Elina masih ingin bertanggung jawab sama lo," tegas Hersel.
"Sel kamu jangan emosi dulu," kata Arvin.
"Udahlah aku mau pulang!" Tegas Hersel.
"Na ayo kita pulang, dia kayak nggak menerima kedatangan kita disini. Buat apa kita tetap disini!" Tegas Hersel.
"Na kamu pulang dulu sama Hersel biar aku disini yang jaga Claren," ucap Arvin.
"Baiklah, cepat sembuh ya Ren," ucap Elina.
"Biar gue antar lo sama Elina kedepan," kata Arvin.
Arvin mengantar mereka berdua ke depan, sedangkan Claren hatinya merasa sedih sampai dia menangis.
__ADS_1