
Claren merasa sedih dengan apa yang dia lakukan, tetapi dia takut kalau dia sampai dihianati lagi. Kemudian Arvin datang dan melihat Claren menangis.
"Apakah ada yang sakit? Kok kamu menangis?" Tanya Arvin.
Claren langsung membasuh air matanya.
"Bukan urusanmu," ucap Claren dengan ketus.
"Permisi, saya membawakan makan malam," kata suster.
"Makasih sus," ucap Arvin.
"Sama-sama," jawab suster.
Suster keluar dari ruangan, dan sekarang tinggal mereka berdua.
"Sekarang makanlah makanan itu," kata Arvin
Claren masih diam.
"Kenapa? Kok nggak dimakan, ini kan sudah waktunya makan," ucap Arvin.
"Aku nggak laper," ucap Claren.
"Baiklah kalau kamu nggak mau makan, aku tidak akan beritahu tentang pengumuman siapa saja yang masuk dalam seleksi lomba," tegas Arvin.
"Baiklah aku akan makan sekarang, tetapi sambil makan kamu harus beritahuku," ucap Claren.
__ADS_1
"Baik," ucap Arvin.
Arvin membantu Claren untuk duduk dan memberikan makanan ke tangan Claren.
Claren mulai makan.
"Baiklah aku akan memberitahu kalau kamu terpilih mengikuti lomba, sedangkan Zelin dan temannya tidak lolos," ucap Arvin.
Arvin berpikir melihat kabar ini Claren pasti akan bahagia. Ternyata Claren bersikap biasa setelah mendengarnya.
Setelah makan Arvin membantu Claren berbaring lagi. Kemudian Arvin pergi ke kantin untuk makan. Sedangkan Claren mulai tertidur.
Beberapa menit kemudian.
Arvin kembali ke ruangan, dia melihat Claren tertidur lelap. Dia mulai memandang ke arah Claren.
Kemudian Arvin duduk di sofa, dia mulai merasa mengantuk dan tertidur.
Pukul 22.50 malam.
Orang tua Claren kembali ke rumah sakit lagi. Sesampainya di sana mereka ke ruangan Claren dan melihat Arvin tengah tertidur di sofa.Mama Claren merasa kasihan kepadanya, kemudian mama Vanco menyelimuti Arvin. Sedangkan Claren masih tertidur.
"Ma, bagaimana ini? Apakah kita biarkan Arvin tetap tidur disini atau membangunkannya untuk pulang?" Tanya papa Claren.
"Biarkan dia disini, ini kan sudah larut malam kasihan kalau dia pulang," jawab mama Claren.
Mama Claren juga tidur di kasur yang disediakan rumah sakit, sedangkan papanya masih duduk di kursi depan ruangan Claren.
__ADS_1
Hari samakin larut malam, jam menunjukkan pukul dua belas malam. Kemudian Arvin terbangun, dia melihat dirinya sedang diselimuti. Setelah itu Arvin juga melihat mama Claren dan Claren sedang tidur. Dia memutuskan untuk pulang, tetapi saat dia keluar. Arvin bertemu dengan papa Claren.
"Eh, om ada disini?" Tanya Arvin.
"Iya om dari tadi disini, kamu mau kemana?" Tanya papa Claren.
"Mmm, saya permisi untuk pulang ke rumah," ucap Arvin.
"Kok malam-malam begini pulang? Kamu naik apa?" Tanya papa Claren.
"Saya tadi membawa sepeda montor," jawab Arvin.
"Kan rumah kamu jauh dari sini dan kamu pulang dengan menggunakan sepeda montor?" Tanya papa Claren.
"Iya om," jawab Arvin.
"Duduklah disini. Om tahu keluarga kamu, karena om berteman dengan papa kamu. Om juga mengenal ibumu," kata papa Claren.
"Pastinya mereka akan menyalakanku jika kamu sampai sakit. Karena kamu kesini juga buat nengok Claren. Lebih baik kamu tidurlah disini, besok paginya kamu boleh pulang," sambung papa.
"Om dan tante nantinya akan khawatir tentang keadaanmu, memang kamu itu laki-laki bisa pulang malam. Tapi tolonglah mengerti om untuk saat ini," tutur papa Claren.
"Baiklah om saya tidak akan pulang, demi om dan tante. Karena saya tidak ingin kalian cemas," jawab Arvin.
"Baguslah kamu bisa mengerti keadaan om, sekarang kamu masuklah ke dalam. Om masih ingin disini," ucap papa.
"Baik om," jawab Arvin.
__ADS_1