
Claren saat itu juga sedang menikmati pesta bersama anggota kelompoknya, kemudian dia memutuskan untuk menelpon mamanya. Tetapi mamanya tidak kunjung mengangkat teleponnya, Elina memutuskan untuk mengajak ngobrol Claren.
"Ada apa Claren?" Tanya Elina.
"Tidak ada, kalian lanjutkan saja pestanya. Aku.. ke kamar mandi dulu," ucap Claren.
"Baiklah, kamu hati-hati saat berjalan. Karena lukamu masih belum sembuh," ucap Elina.
Claren hanya tersenyum kepadanya, dia langsung pergi meninggalkan ruangan pesta. Saat di berjalan Claren tidak sengaja berpapasan dengan Arvin dan Hersel. Mereka hanya saling bertatapan, kemudian Hersel menanyakan tentang Elina.
"Dimana Elina?" Tanya Hersel.
"Dia masih ada di ruang pesta," jawab Claren.
Kemudian Claren melihat Azel dan mamanya yang berjalan menuju ke arahnya.
"Mama dan Azel kok mereka ada disini?" Tanya Claren.
Arvin dan Hersel langsung berbalik ke belakang, dia melihat Azel dan mamanya Claren menuju ke arahnya.
"Mama!" Kata Claren.
"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya mama.
"Aku baik-baik saja, tapi kenapa kalian berada di sini?" Tanya Claren.
"Kemarin setelah Azel menelpon mu, dia memiliki ide untuk menjemput kamu langsung. Dan mama menyetujuinya," ucap mama.
"Kali ini aku sudah merelotkanmu," ucap Claren.
__ADS_1
"Ini adalah kejutan," jawab Azel.
"Sekarang kamu beres-beres barangmu, mama akan menemui Bu guru untuk membawa kamu pulang," ucap mama.
"Baik ma, aku akan beres-beres dulu," ucap Claren.
"Biar aku yang nganterin kamu sampai depan kamar, kasihan jika kamu membawa barang-barang mu dengan kaki yang masih sedikit bengkak seperti ini," ucap Azel.
"Tidak apa, aku akan hati-hati saat jalan," ucap Claren.
"Kamu duduklah disana, aku akan segera kembali," sambungnya.
"Baiklah," jawab Azel.
Claren pergi ke kamarnya untuk beres-beres, sedangkan mamanya sedang mengobrol dengan Bu guru di luar ruang pesta. Teman-teman Claren yang mendengar percakapan itu, memutuskan untuk balik ke kamar. Di sisi lain Arvin dan Hersel sedang berdiri dekat dengan Azel, kemudian mereka menghampiri Azel.
"Sekarang lo deket banget ya sama Claren dan keluarganya," ucap Arvin.
"Lo tidak punya niat buruk kan terhadap Claren?" Tanya Arvin.
"Aku sama sekali tidak ada niat buat nyakitin dia, kita hanya berteman biasa saja," jawab Azel.
"Jangan pernah lo sok baik di depan dia, lebih baik terang-terangan saja mengenai sikapmu kepada kita disini," ucap Arvin.
"Maksudnya?" Tanya Azel.
"Pasti seseorang ada maunya kan saat mereka menolong seseorang?" Tanya Arvin.
"Oh maaf sekali, aku bukan tipe cowok yang seperti itu. Tetapi kalau cowok sepertimu, mungkin saja kamu bisa memanfaatkan kebaikan dan keramahan keluarga Claren," ucap Azel.
__ADS_1
"Jaga mulutmu!" Teriak Arvin.
"Vin sudahlah ngapain kamu ngurusin urusannya Claren, biarkan dia berteman dengan siapa saja. Lagian itu bukan urusan kita bro," ucap Hersel.
Hersel membawa Arvin pergi dari sana, kalau tidak pasti Arvin akan bisa berkelahi di sana. Claren sudah selesai beres-beres dan kemudian teman-temannya datang ke kamar.
"Ren lo mau pulang sekarang ini juga?" Tanya Elina.
"Iya, mama dan Azel sudah menjemputku," jawab Claren.
"Azel?" Tanya Vinka.
"Siapa dia?" Tanya Kirana.
"Dia adalah temenku," jawab Claren.
Mama Claren pergi ke kamar Claren untuk mengecek apakah Claren sudah selesai beres-beres nya apa belum.
"Claren sudah selesai beres-beres nya?" Tanya mama.
"Sudah ma," jawab Claren.
Teman-teman Claren bersalaman dengan mamanya, kemudian mereka menghantarkan Claren ke depan sambil membawa barang-barangnya. Setibanya di sana, Claren berpamitan dengan salah satu Bu guru, dan dia berpamitan juga dengan teman-temannya.
"Claren besok lusa kita masih berlibur, karena teman-teman mu yang lainnya pastinya masih capek," ucap Bu guru.
"Baik Bu," jawab Claren.
"Cepat sembuh ya dan hati-hati di jalan," ucap Bu guru.
__ADS_1
"Iya," jawab Claren.
Azel memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil, Claren di papah dengan mamanya masuk ke dalam mobil.