
"Apa?" Tanya Arvin.
"Sebenarnya gue suka sama Elina," ucap Hersel.
"Apa!? Lo suka sama itu cewek?" Tanya Arvin.
"Vin! Jangan keras-keras! Gue memang suka sama Elina karena dia itu baik banget, cantik, dan pintar," jawab Hersel.
"Makanya jangan kasih tahu siapa-siapa ya, kalau dia yang menabrak Claren," kata Hersel.
"Sorry! Kalau itu gue bisa bantu tapi nggak bisa jamin kalau itu nggak akan ketahuan nantinya," ucap Arvin.
"Yah.., Vin percuma dong gue bilang ke elo tentang perasaanku," ucap Hersel.
"Itu kan bukan urusanku!" Tegas Arvin.
"Vin! Kok tega banget sih?" Tanya Hersel.
Arvin tidak memperdulikan kata kata Hersel dan duduk di tempatnya.
"Aku tetap mengajak Elina ke rumah sakit untuk bertanggung jawab sama Claren," ucap Arvin.
"Baiklah kalau kamu tetap ngotot, tapi aku akan ikut bersamamu. Takutnya kamu terus memojokkan Elina," ucap Hersel.
"Terserah," ucap Arvin.
Arvin kemudian mengikuti pembelajaran, dia merencanakan setelah pulang sekolah.
Jam pelajaran berlangsung lama. Setelah beberapa jam pelajaran tidak terasa waktunya pulang sekolah. Saat pulang sekolah diumumkannya seleksi perlombaan. Semua murid diharapkan untuk melihat hasil seleksi di papan pengumuman.
"Baik anak-anak kita akhiri pelajaran sampai disini saja," kata Bu guru.
"Baik Bu," jawab anak-anak.
__ADS_1
Murid-murid menyalami gurunya lalu pulang.
"Vin! Kapan kita ke rumah sakitnya?" Tanya Hersel.
"Kita pulang dulu, nanti aku kabari," ucap Arvin.
"Okee," jawab Hersel.
Arvin pulang ke rumah diantar oleh sopirnya. Sesampainya di rumah Arvin pergi ke kamar, lalu dia pergi ke kamar mandi. Setelah mandi dia istirahat sejenak dan mengabari Hersel serta Elina untuk pergi ke rumah sakit. Kemudian Arvin juga bersiap-siap.
"Bibi aku akan keluar sebentar, bilang ke paman sopir untuk tidak menyimpan mobilnya, karena aku akan naik sepeda montor sendiri," ucap Arvin kepada kepala pembantu di rumahnya.
"Tolong kalau ada ibu atau ayah yang telpon ke rumah nanti bilang saja aku masih les tambahan," kata Arvin.
"Baik tuan muda," jawab bibi.
Arvin kemudian pergi membawa monitornya.
Sedangkan Claren bersiap-siap untuk pergi mandi.
"Sini biar mama bantu kamu ke kamar mandi,"
kata mama.
"Tidak ma aku bisa sendiri," ucap Claren.
"Baiklah hati-hati," jawab mama.
Setelah beberapa menit, Claren keluar dari kamar mandi.
"Sini, biarkan mama akan menata rambutmu,"
ucap mama.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Claren.
2 menit kemudian.
Doctor datang melihat luka di tangan Claren, tapi kali ini Doctor spesialis kulit yang datang untuk memeriksa Claren.
"Permisi, saya adalah Doctor spesialis kulit yang kedepannya akan menangani pasien," kata Doctor.
"Baik Doctor, kami juga berharap kepada anda untuk memberikan perawatan sebaik mungkin kepada putri kami," jawab papa Claren.
"Suster tolong buka perbannya, saya akan melihat kondisi lukanya terlebih dahulu," kata Doctor.
Suster membuka perban Claren, setelah itu Doctor memeriksa keadaan luka Claren.
"Bagaimana Doctor keadaan luka anak saya?" Tanya mama Claren (penuh kekhawatiran).
"Lukanya sedikit infeksi," kata Doctor.
"Tapi jangan khawatir, jika kalian rutin memberikannya obat dan mengganti perbannya maka lukanya akan membaik," kata Doctor.
"Baik Doctor," kata mama.
"Saya akan memberikan resep obatnya," kata Doctor.
"Baik Doctor," kata mama Claren.
Arvin dan teman-temannya sudah sampai di rumah sakit.
"Elina mana? Kok dia belum datang?" Tanya Hersel.
"Itu dia," jawab Arvin.
Elina menghampiri Hersel dan Arvin.
__ADS_1
"Ayo kita masuk," ucap Elina.
Arvin, Hersel, dan Elina masuk ke dalam rumah sakit. Sesampainya di sana mereka menemui resepsionis untuk bertanya di mana ruangan tempat Claren di rawat. Setelah itu mereka pergi ke ruangan Claren.