
"Baiklah kali ini mama akan setuju dengan saran papa," kata mama.
"Makasih ma," jawab Claren.
"Kalau begitu papa keluar dulu untuk menelpon kakek di rumah, pasti dari tadi mereka menunggu kabar kesehatanmu," ucap papa.
"Claren apakah kamu merasa lapar? Mama akan ambilkan makanan," tanya mama.
"Tidak ma, aku ingin istirahat saja," ucap Claren.
"Baiklah kamu sekarang istirahatlah dulu, mama akan keluar sebentar," kata mama.
"Iya ma," jawab Claren.
Sedangkan Arvin masih mengerjakan tugas walaupun saat ini jam istirahat. Kemudian Elina datang ke dalam kelasnya Claren, dia mendengar kabar dari temannya kalau Claren masuk rumah sakit dikarenakan lukanya. Elina ingin bertanya kepada salah satu teman Claren di kelas, tetapi dia malah bertemu dengan Zelin.
"Eh ada tuan putri disini," ejek Zelin.
"Kok tumben sih datang ke kelas kita," ucap salah satu teman Zelin.
"Aku cuman mau tanya ke kalian tentang keadaan Claren," kata Elina.
"Lo masih peduli aja sama dia. Padahal kan lo yang buat dia celaka," ucap Zelin.
Saat itu Arvin yang masih di dalam kelas mendengar percakapan Elina dan Zelin. Dia akhirnya tahu kalau Elina yang mencelakai Claren.
__ADS_1
"Aku bukan seperti kalian yang senang di atas penderitaan kalian," tegas Claren.
"Jadi galak ya," ucap Zelin.
"Sudahlah percuma saja aku datang ke kelas ini kalau ujung-ujungnya ketemu sama kalian dan ngobrol nggak penting dengan kalian," tegas Elina.
Elina kemudian pergi meninggalkan Zelin dan teman-temannya. Arvin segera menutup bukunya dan berlari keluar kelas mengejar Elina.
"Tungu!" Teriak Arvin.
"Kamu ingin tahu kan keadaan Claren?" Tanya Arvin.
"Ya, aku memang ingin tahu keadaannya," jawab Elina.
"Baiklah aku beri tahu kamu keadaan Claren sangat buruk gara-gara lo," tegas Arvin.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab kepada Claren atas semua perbuatanmu," ucap Arvin.
"Aku bersedia bertanggung jawab atas kesalahanku, tapi dengar dulu baik-baik kalau aku tidak sengaja menabrak Claren sampai membuatnya celaka. Aku sama sekali tidak ada niat buat jahatin dia," tegas Elina.
"Itu terserah kamu, nanti kamu bisa ikut aku ke rumah sakit untuk melihat keadaan Claren yang sebenarnya," ucap Arvin.
"Baiklah, aku akan ikut. Ini nomorku nanti kamu bisa kabari aku," kata Elina.
Arvin kemudian pergi.
__ADS_1
"Eh Vin lo darimana?" Tanya Hersel.
"Gue habis nemui anak yang nabrak Claren," jawab Arvin.
"Oh ternyata udah ketemu, siapa anaknya?" Tanya Hersel.
"Dia temannya Zelin, kalau nggak salah namanya Elina," jawab Arvin
"Apa! Elina?" Tanya Hersel (kaget).
"Iya, kok kamu merasa terkejut gitu?" Tanya Arvin.
"Eh Vin urusannya jangan diperpanjang ya, intinya jangan buat masalah dengan Elina," jawab Hersel.
"Emangnya kenapa, aku suruh dia bertanggung jawab kepada Claren," tegas Arvin.
"Aduhhh Vin..., kamu tega banget sih! Kan Elina juga nggak sengaja nabrak Claren," jawab Hersel.
"Lo kenapa sih, kayak ngelindungin itu anak?" Tanya Arvin.
"Kita bicarakan di dalam kelas aja ya, disini nggak enak dilihatin banyak orang," ucap Hersel.
Hersel dan Arvin masuk ke dalam kelas, mereka memilih tempat duduk yang aman buat cerita, supaya tidak terdengar oleh komplotannya Zelin.
"Vin lo dengerin ini baik-baik, jangan sampai elo bilang ke siapa-siapa," bisik Hersel.
__ADS_1
"Cepat katakan!" Tegas Arvin.
"Sebenarnya gue..," ucap Hersel.