
Tiba-tiba Claren melihat Arvin sedang menghampirinya, dia berpura-pura tidak melihat Arvin. Tetapi Arvin tahu akan hal itu, dia sudah berdiri di samping Claren.
"Claren? Kenapa kamu ada disini?" Tanya Arvin.
Claren masih melihat-lihat pemandangan lain, dia tidak mau menengok ke arah Arvin.
"Claren? Apakah kamu tidak mendengarkan ku?" Tanya Arvin sekali lagi.
Claren berdiri dari tempat duduk dan menjawab pertanyaan Arvin.
"Itu bukan urusanmu," ucap Claren.
Dia langsung pergi dengan kaki tertatih-tatih, Arvin yang tahu akan hal itu langsung mengejar Claren dan menanyakan tentang kondisinya.
"Claren kakimu kenapa?" Tanya Arvin.
Arvin memegang lengan Claren dan Claren pun berhenti.
"Lepaskan tanganku!" Tegas Claren.
__ADS_1
Arvin melepaskan tangan Claren dan dia berbalik ke arah Arvin.
"Vin, tolong jangan dekat-dekat aku lagi. Apa sebenarnya mau mu?" Tanya Claren (dengan menahan emosinya).
"Aku tidak mau apa-apa, aku merasa bersalah jika aku yang menyebabkan hubungan kakek dan kamu sekarang ini masih renggang. Aku akan berusaha memperbaikinya," ucap Arvin.
"Kamu tidak perlu memperbaikinya, itu adalah urusanku dan kekuargaku. Orang lain tidak perlu ikut campur," ucap Claren.
"Tapi kenapa Azel boleh ikut campur dan kenapa kamu berteman dengan orang asing? Padahal teman sekelas aja nggak pernah dianggap," kata Arvin.
"Kenapa kalau aku lebih memilih Azel dari pada berteman dengan mu, itukan yang kamu maksud?" Tanya Arvin.
"Karena dia mengalami nasib sama sepertiku, dia orang yang baik dan pengertian. Dia membantu aku dan mama saat sedang kesulitan. Sedangkan kamu hanya mengancur kan keluargaku," jawab Claren.
"Memang pertama kali aku bicara denganmu aku tidak ada masalah apapun sama kamu, tapi jika kamu ikut campur dan apalagi tanya-tanya tentang sikapku ke keluarga ku itu yang membuatku tidak suka! Kakekku dan kakekmu memang berteman, tetapi itu pertemanan mereka bukan pertemanan kita," sambung Claren.
"Maaf selama ini aku terlalu mencampuri urusanmu, karena aku merasa sangat-sangat berutang budi dengan keluargamu. Dan aku ingin menjagamu sebagai teman saja, mungkin saat kamu sudah memiliki teman curhat, kamu akan sedikit lega dengan masalahmu," ucap Arvin.
"Utang budi apa?" Tanya Claren.
__ADS_1
"Itu masalah dulu, keluargaku pernah berutang budi banyak dengan keluargamu. Terutama dengan kakek, oleh karena itu aku tidak bisa menolak permintaannya," ucap Arvin.
"Anggap saja semua utang budi mu itu sudah terbalaskan, dengan kamu mulai menjauhi keluargaku," tegas Claren.
Claren langsung pergi menuju kamarnya dia tidak ingin berurusan dengan Arvin lagi.
"Sebaiknya aku tidak menceritakan masa lalu keluargaku dan keluarganya 😔," pikir Arvin.
Sesampainya di kamar, Claren tidak melihat siapapun disana. Teman-temannya masih berada di luar, kemudian dia hanya duduk termenung di dalam kamar. Beberapa menit kemudian teman-temannya masuk ke dalam, mereka melihat Claren yang sedang termenung di atas tempat tidur.
"Ren kamu kenapa?" Tanya Elina.
"Tidak apa-apa," jawab Claren.
"Kalau begitu kita cari tempat nongkrong yuk, mungkin dekat sini ada sebuah kedai yang menjual minuman," ucap Kirana.
"Ren kamu ikut ya," sambungnya.
"Oke, aku ikut," ucap Claren.
__ADS_1
Mereka berjalan mencari sebuah kedai yang berada di sekitaran hotel. Sesampainya di sana semuanya memesan minuman dan makanan ringan, teman-temannya Zelin juga berada di sana. Claren dan teman-temannya memutuskan untuk memilih tempat duduk yang jauh dari Zelin supaya tidak terjadi keributan nantinya.