
Pesanan mereka akhirnya datang, mereka mengobrol-ngobrol sambil memakan makanan ringan yang mereka pesan.
"Oh ya, kira-kira besok lombanya apa ya🤔," tanya Vinka.
"Di jadwal ada," jawab Kirana.
"Nanti kita lihat bersama-sama, besok akan diadakan lomba apa saja," sambung Kirana.
Claren menyempatkan dirinya untuk melihat pesan pada ponselnya, kemudian dia melihat ada beberapa pesan yang belum terbaca dari Azel. Dia memutuskan untuk menjawabnya dan menceritakan semua yang terjadi di sini.
"Udara di sini sedikit dingin ya, walaupun matahari sedang di atas kepala," ucap Kirana.
"Karena tempatnya berada di sebuah dataran tinggi, kalau kita tinggalnya berada di dataran rendah, makanya sangat panas . Apalagi disini terdapat pepohonan yang sangat lebat," ucap Elina.
"Jadi kepingin punya rumah di pegunungan," ucap Kirana.
"Disini juga tidak ada polusi udara, dibandingkan di perkotaan banyak sekali polusi udara," sambungnya.
Elina melihat Claren yang sedang sibuk membalas chat di ponselnya. Semua teman-teman Claren sudah menghabiskan makanan ringan dan minumannya dan mereka memutuskan untuk beristirahat di kamar.
__ADS_1
"Na! Kamu mau balik ke kamar nggak?" Tanya Vinka.
"Yuk, aku ikut. Aku sudah lelah disini," jawab Kirana.
"Kita balik ke kamar bersama aja, kita juga capek kalau lama-lama disini," kata Elina.
"Ren, yuk kita balik ke kamar," ajak Elina.
"Oke," jawab Claren.
Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, dan mereka meninggalkan kedai itu. Saat di jalan mereka berpapasan dengan gengnya Zelin, dan teman-temannya Claren berhenti sejenak karena gengnya Zelin menghampiri mereka.
"Eh, ada kalian. Apa kabar?" Tanya Zelin.
"Aku kan bertanya dengan baik, kenapa kok jawabnya gitu amat?" Tanya Zelin.
"Ada apa Zelin, kamu tiba-tiba berubah begini?" Tanya Elina.
"Hari ini aku akan melepaskan kalian, tapi ingat ini baik-baik! Nantinya aku tidak akan melepaskan kalian," ucap Zelin.
__ADS_1
"Sekarang kalian pergilah, sebelum aku berupah pikiran dan mengganggu kalian!" Tegas Zelin.
Vinka langsung menggandeng tangan Elina dan Claren untuk segera pergi dari hadapan Zelin. Kirana langsung mengikuti mereka dari belakang, saat ini Vinka berpikir tentang perubahan sikap Zelin yang tiba-tiba. Setelah berada sedikit jauh dari gengnya Zelin, Vinka memutuskan untuk bertanya kepada Elina.
"Elina, apakah kamu tahu perubahan sikap Zelin yang tiba-tiba seperti itu?" Tanya Vinka.
"Itu sudah biasa bagiku, Zelin memang anak yang seperti itu. Kalau moodnya lagi baik dia tidak akan menggangu orang lain, tapi kalau moodnya jelek dia akan membuat orang merasa ketakutan dan merasa kesal dengan perilakunya," jawab Elina.
"Walaupun aku teman sekelasnya, aku tidak pernah melihat dia mengalami perubahan seperti itu🤔," ucap Vinka.
"Karena kamu tidak menjadi ancaman bagi Zelin," ucap Claren.
"Maksudnya?" Tanya Vinka.
"Kamu akan tahu sendiri nantinya," singkat Claren.
Mereka berempat menuju kamarnya, setelah itu mereka giliran mencuci muka di kamar mandi lalu mereka tidur. Beberapa jam kemudian Elina terbangun, dia melihat sekeliling tetapi hanya Claren yang tidak ada di dalam kamar.
"Di mana Claren?" Tanya Elina.
__ADS_1
Kedua temannya masih tertidur lelap, kemudian Elina memutuskan keluar kamar.
Saat Elina di membuka pintunya dia melihat Claren yang duduk di kursi dekat dengan pintu kamar. Elina pun duduk di kursi yang berdekatan dengan Claren, Elina berpikir untuk mengajak Claren mengobrol bersama.