
"Claren bagaimana persiapan kamu untuk besok?" Tanya mama.
"Aku akan menyiapkannya nanti ma, besok mama bisa handir di acara perlombaanku," ucap Claren.
"Iya sayang, Bu guru juga mengundang mama kesana. Tetapi mama mau tanya siapa yang akan datang mewakili keluarga Arvin?" Tanya mama.
"Kalau itu aku tidak tahu, nanti biar di urus Arvin sendiri," jawab Claren.
"Jangan begitu dong nak, Arvin kan seperti keluarga juga bagi kita," ucap mama.
"Ma! Arvin itu bukan keluarga kita, mama jangan terlalu berbuat baik kepadanya. Dia aja belum bisa berbuat baik kepada kita," ucap Claren.
"Sayang kamu kok begitu? Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk seperti itu," kata mama.
"Ma bukannya begitu, jujur saja ma. Aku tidak suka dengan Arvin kalau dia terlalu dekat dengan keluargaku," kata Claren.
"Mama tolong jangan sebutkan lagi nama Arvin, aku sangat tidak suka dengannya," sambung Claren.
"Kenapa nak? Mengapa kamu tidak suka dengan Arvin?" Tanya mama.
"Mama tidak tahu sifat aslinya seperti apa, dia adalah anak yang ingin mencari tahu tentang privasi seseorang. Aku sangat terganggu dengan perilakunya," kata Claren.
Claren pergi ke kamarnya untuk istirahat.
__ADS_1
"Tunggu Claren! Kamu mau kemana?" Tanya mama.
"Permisi ma aku mau ke kamar," ucap Claren.
Kakek datang menuju Claren. Dia langsung memegang erat lengan Claren.
"Jangan pernah kamu pergi saat orang yang lebih tua darimu selesai berbicara!" Tegas kakek.
Claren terkejut melihat kemarahan kakeknya yang sedang ditunjukkan kepada Claren. Karena Claren belum pernah melihat orang memarahinya atau memasang muka marah di depannya.
"Sekarang kamu duduk!" Tegas kakek.
Claren masih tidak menyangka kakek bisa menunjukkan kemarahannya kepada Claren.
"Duduk!" Bentak kakek.
Claren seketika duduk di kembali.
"Ayah pembicaraan kami sudah selesai dan besok Claren harus mengikuti lomba. Jadi biarkanlah dia pergi ke kamarnya," kata mama.
Mama Vanco juga merasa terkejut melihat kakek marah kepada Claren. Mama Vanco terpaksa bicara bohong untuk menutupi kesalahan Claren, karena mama tahu Claren sedang emosi saat mendengar nama Arvin.
Claren hampir tidak bisa menahan air matanya, hatinya terasa sakit saat dibentak tadi. Karena sejak kecil kedua orang tua Claren tidak pernah membentaknya, jika Claren berbuat salah mereka hanya memberikan nasihat dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sengaja menutupi kesalahan anakmu, jangan terlalu memanjakan anak ini manantu," tegas kakek.
"Karena jika dia terlalu dimanja nanti akhirnya dia tidak akan mendengarkan perkataan kita lagi," sambung kakek.
Mama dan Claren tetap berdiam mendengarkan semua perkataan kakek.
"Sekarang kamu lanjutkan biacaranya, jika dia bertindak tidak sopan terhadap orang tua. Maka buat dia mengerti," tegas kakek sambil menatap Claren.
Kakek pergi ke ruang baca, sedangkan Claren hatinya sangat sakit dia ingin menangis. Tetapi dia tidak mau membuat mamanya merasa sedih.
"Sayang jangan dimasukkan ke hati ya nak, perkataan kakek tadi. Kakek tidak bermaksud membentak kamu, dia cuman menasehatimu," kata mama.
"Aku tahu kok ma, aku memang salah. Aku minta maaf kepada mama karena tidak bersikap sopan tadi," ucap Claren sambil gemetar.
"Kamu tidak perlu meminta maaf kepada mama, mama mengerti keadaan kamu sekarang ini. Sekarang kamu pergilah ke kamar untuk istirahat ya," kata mama.
Tanpa berbicara lagi Claren langsung berlari naik ke atas dan mengunci pintu kamarnya.
Seketika itu air mata Claren langsung keluar membasahi wajahnya.
"Apa salahku terhadap kakek? Kenapa kakek bersikap seperti itu. Sudah dua Minggu aku tidak berbicara kepada kakek, kenapa kakek marah terhadapku?" Tanya Claren di dalam hatinya.
Dia terus mengeluarkan air matanya, saat itu handphone Claren berbunyi. Dia melihat siapa yang menelponnya. Ternyata Arvin sedang menelponnya.
__ADS_1