Menemukan Sahabat Terbaikku

Menemukan Sahabat Terbaikku
Episode 44


__ADS_3

"Btw.. aku tidak pernah berteman dengan teman perempuan sama sekali, aku hanya memiliki satu teman laki-laki itu pun aku tidak sepenuhnya memberikan kepercayaanku kepadanya," ucap Azel.


"Kalau dipikir-pikir masa laluku sama dengan masa laluku. Sebagai orang yang pernah melewati kejadian yang sama, mana mungkin kita akan melukai satu sama lain. Seperti apa yang kita alami dulu," sambung Azel.


"Kalau dipikir-pikir perkataannya memang masuk akal, tapi aku harus mempertimbangkannya terlebih dahulu," pikir Claren.


Claren sempat bengong di depan Azel gara-gara memikirkan perkataannya.


"Tunggu dulu ini terlalu mendadak, aku sudah lama tidak berteman dengan siapapun," ucap Claren.


"Aku mengerti kamu masih butuh waktu untuk menumbuhkan rasa kepercayaanmu terhadap orang lain,"


"Kalau boleh tahu namamu siapa?" Tanya Azel.


"Clarense Dephney, panggil saja dengan sebutan Claren," ucapnya.


"Lalau namamu?" Tanya Claren.


"Baiklah aku ulangi, namaku Azel Putra. Panggil saja Azel," jawab Azel.


"Ini sudah hampir menjelang malam, aku lebih baik pulang ke rumah," ucap Claren.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kita ditakdirkan berteman pasti kita akan bertemu lagi," ucap Azel.


Lagi-lagi Claren di dahului Azel saat membayar makanan tadi.


"Thanks, buat hari ini," ucap Claren.


"Iya, kamu hati-hati di jalan," ucap Azel.


Claren masuk ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Azel. Mereka akhirnya pulang ke rumahnya masing-masing, sesampainya di rumah Claren melihat mamanya yang sedang menunggunya di ruang tamu.


"Mama kelihatan khawatir banget," pikir Claren.


"Nak kamu dari mana saja, dari tadi mama tungguin kamu. Apakah jalannya macet?" Tanya mama.


"Lebih baik kita ngobrol di kamar saja," ucap Claren.


Mama Vanco dan Claren pergi ke kamar Claren. Disana dia mulai menceritakan semua yang terjadi padanya, Claren terpaksa menceritakan semua itu karena orang yang satu-satunya bisa mengerti keadaannya.


"Namanya siap?" Tanya mama.


"Namanya Azel Putra ma," ucap Claren.

__ADS_1


"Sepertinya dia anak baik-baik," kata mama.


"Tapi aku masih ingin memikirkannya terlebih dahulu sebelum menerima pertemanannya," ucap Claren.


"Iya nak, itu keputusan yang tepat sebelum kita mengambil langkah lebih dalam lagi," tutur mama.


"Mama akan ambilkan kamu segelas susu dulu, kamu ganti baju tidur sana," perintah mama.


"Iya," jawab Claren.


Setelah mama Vanco memberikan segelas susu kepada Claren, beberapa menit kemudian dia pergi tidur. Mama Vanco keluar dari kamar Claren, keesokan harinya Claren pergi ke sekolah. Saat di sekolah semua berjalan dengan normal, kemudian Arvin datang ke kelas. Dia menghampiri Claren, Arvin masih penasaran dengan anak laki-laki itu.


"Claren kamu kemarin pergi dengan siapa? Kok ada anak laki-laki yang menemani kamu saat di cafe?" Tanya Arvin.


Zelin yang didekatnya mendengar pernyataan yang Arvin ajukan kepada Claren. Dia tidak menyangka Claren yang di anggapnya wanita polos bisa pergi ke cafe bersama seorang anak laki-laki.


"Itu bukan urusanmu," singkat Claren.


"Aku tahu pasti itu jawabanmu, apakah kamu tidak takut dengan kakekmu jika dia mengetahui semua itu?" Tanya Arvin.


"Ohh.. kamu khawatir jika aku sampai ketahuan oleh kakekku kalau aku pergi bersama seorang cowok kemarin? Kalau tidak ada yang bilang kakek tidak akan tahu dan jika kamu sudah tahu tentang itu pasti kamu akan memberi tahu semuanya kepada kakekku. Lalu hubungan kakekku dan aku semakin jauh," kata Claren.

__ADS_1


"Dengar baik-baik ya Vin, hubungan kakekku dan aku sudah renggang sekarang. Itu semua gara-gara kamu yang asal bicara sama kakek," tegas Claren.


Claren kembali duduk di bangkunya.


__ADS_2