
"Ya jelas saja aku punya hak untuk menghentikanmu, karena itu adalah privasi orang! Dan aku paling membenci orang yang ingin membongkar privasiku!" Tegas Claren.
Claren langsung pergi meninggalkan ruangan, dia kembali lagi ke ruang belajarnya. Saat hendak naik tangga Claren diberhentikan oleh kakeknya.
"Tunggu Claren, kakek ingin bertanya sesuatu sama kamu," ucap kakek.
"Ada apa kek?" Tanya Claren.
"Kakek tadi mendengar pernyataan dari temanmu kalau kamu bersikap berbeda saat di sekolah. Kenapa Claren?" Tanya kakek.
"Tidak kakek, aku tidak seperti itu. Mungkin teman-teman yang lain sudah memiliki teman yang lain. Wajar aja kakek kalau nggak ada yang berteman sama aku, karena kan aku masih anak baru disana. Jadi jangan terlalu dipikirkan kek," ucap Claren.
"Kakek harap kamu tidak menyembunyikan apapun dari kakek, kamu sudah menerima kakek sebagai temanmu juga kan?" Tanya Claren.
"Iya kakek, aku sangat menyayangi kakek," jawab Claren.
"Kakek aku permisi dulu ke atas," ucap Claren.
Claren menuju ruang belajarnya yang sunyi tanpa kebisingan disana. Hari sudah semakin larut, makan malam bersama akan segera dimulai.
"Claren!" panggil mama.
__ADS_1
"Ini anak kemana sih, kok nggak kelihatan dari tadi," gumam mama.
"Mungkin dia lagi di ruang belajar," kata papa.
Mama Claren menuju ke ruang belajar, untuk memanggil Claren supaya segera bersiap-siap.
"Claren? Kamu ada di dalam?" Tanya mama.
"Iya ma, masuk aja," jawab Claren.
"Kok ruangan kamu gelap? Kenapa tidak dinyalakan saja lampunya?" Tanya mama.
"Kamu lagi mengerjakan tugas? Kalau saya mengerjakan lebih baik nyalakan saja lampunya," tutur mama.
"Tidak ma, aku hanya duduk disini saja," jawab Claren.
"Ya udah kalau itu yang kamu mau, sekarang segeralah bersiap-siap dan turun untuk makan malam bersama," ucap mama.
"Baik," jawab Claren.
Mama dan Claren pergi ke kamarnya masing-masing untuk bersiap. Beberapa menit kemudian Claren turun ke bawah mengenakan baju gaun yang indah, dengan rambut diurai ke samping. Claren terlihat sangat cantik seperti tuan putri dari sebuah kerajaan. Claren turun perlahan sambil mengenakan hight hills dari kaca. Semua orang sangat kagum melihat kecantikan Claren, begitu juga dengan Arvin yang terpesona melihat kecantikannya. Bagaikan sebuah berlian yang mengkilau dari kejahuan.
__ADS_1
Sesampainya di bawah Claren disambut dengan papanya, kemudian dia dan papanya menghampiri Arvin untuk makan malam.
"Mari nak kita makan malam di meja sana," ucap papa.
"Baik paman," jawab Arvin sampai memandang ke arah Claren.
Mereka semuanya duduk di tempatnya masing-masing.
"Nak Arvin duduklah di sebelah kakek," ucap kakek.
Disana adalah tempat duduknya Claren dan di sisi lain tempat duduknya nenek. Claren mulai menjauh dia duduk di samping papanya, di hati Claren sebenarnya merasa sedikit kecewa atas perilaku kakeknya. Tetapi dia menahannya dan membiarkan semuanya berlalu, karena bagaimanapun juga dia adalah kakeknya. Makan malam berjalan dengan lancar, beberapa jam kemudian semuanya selesai makan malam. Kemudian Arvin berpamitan untuk pulang.
"Paman, bibi, kakek, dan nenek saya pamit untuk pulang. Karena hari sudah semakin larut malam," ucap Arvin.
"Iya nak, hati-hati di jalan ya," ucap mama.
Claren sudah tidak peduli lagi, dia sudah pergi kemarnya untuk tidur. Dia sangat kesal kepada Arvin, kebencian Claren terhadap Arvin semakin bertambah.
"Kenapa coba, Arvin harus bilang sama kakek tentang sifatku saat disekolah. Apa yang akan dipikirkan kakek nantinya," gumam Claren.
Claren akhirnya tertidur.
__ADS_1