Menemukan Sahabat Terbaikku

Menemukan Sahabat Terbaikku
Episode 47


__ADS_3

"Dia terlihat sangat akrab dengan Azel, aku saja yang teman sekelasnya tidak pernah dianggap oleh Claren," pikir Arvin.


"Nak Arvin ada apa?" Tanya kakek.


"Tidak kakek," ucap Arvin.


"Masuklah, ini adalah ruang baca untuk semua keluargaku. Kamu bisa mengambil buku-buku sepuasmu," ucap Claren.


"Ternyata keluargamu suka sekali membaca ya," ucap Azel.


"Ya begitulah, jika kami tidak ada kegiatan maka membaca salah satu hal yang tepat," ucap Claren.


"Di keluargaku hanya aku dan ayah yang suka membaca, jadi kita tidak membeli buku sebanyak ini. Mungkin hanya sebagian rak besar ini yang ada di rumahku," kata Azel.


Azel mengambil satu buku dari rak itu, kemudian membacanya. Saat itu dia menemukan halaman yang sangat menarik, kemudian dia menceritakannya kepada Claren.


"Claren duduklah disini, aku ada cerita bagus yang harus kamu dengar," ajak Azel.


"Mana-mana?" Tanya Claren.


Azel mulai membacakannya kepada Claren, sedangkan Arvin dibalik pintu ruang baca. Dia melihat Azel dan Claren yang begitu dekat, saat itu kakek masih pergi ke kamarnya sebentar. Oleh karena itu Arvin mendapatkan kesempatan untuk melihat Claren dan Azel saat di ruang baca. Setelah itu terdengar suara Claren tertawa bersama Azel, ini baru pertama kali melihat Claren tertawa. Arvin semakin tidak menyangka.


"Apakah ada hubungan lain selain teman dari merek?" Pikirnya.


Kemudian kakek memanggilnya dari jauh, Arvin pun segera kembali ke ruang tamu.

__ADS_1


"Kamu dari mana?" Tanya Arvin.


"Saya habis dari depan, mencari udara segar," ucap Arvin.


Kakek dan Arvin kembali mengobrol, beberapa menit kemudian kakek mengajak semuanya untuk makan malam bersama.


"Tolong panggilkan nak Azel untuk makan bersama," perintah kakek.


Bibi menuju ruang baca, untuk memanggil mereka.


"Permisi non, makan malam sudah siap. Kakek sudah menunggu di meja makan," ucap bibi.


"Iya bi, bibi kesanalah. Kami akan menyusul," ucap Claren.


"Iya, yaudah kita bahas lain kali saja. Sekarang kita pergi ke meja makan," ucap Claren.


Sesampainya disana dia melihat Arvin duduk di sebelah kiri kakek. Sedangkan Azel duduk di sebelah kanan kakek, begitu juga dengan Claren duduk di samping Azel dan disusul oleh mamanya duduk di samping Claren.


Arvin berpikir kalau bibi lebih menyukai Azel daripada dirinya sebagai tema Claren. Di sana Arvin duduk sendirian di deretannya, sedangakan nenek duduk berhadapan dengan kakek.


"Ini diambil lauknya yang banyak, jangan sungkan-sungkan. Terutama nak Azel," ucap kakek.


Mama Vanco menambahkan lauk sedikit banyak di piring Azel, sedangkan Arvin mengambil lauknya sendiri.


"Ini nak Azel, kamu baru pertama kali datang ke sini. Kamu harus makan yang banyak," ucap mama Vanco.

__ADS_1


"Sudah-sudah tante, nantinya saya tidak habis kalau kebanyakan," ucap Azel.


"Ayolah kali ini saja," ucap mama Vanco.


Semua orang makan malam bersama, setelah itu mereka duduk sebentar di ruang tamu, mengobrol bersama-sama. Beberapa jam setelah mengobrol Azel dan Arvin pulang ke rumahnya masing-masing.


"Hati-hati Zel," ucap Claren.


Tiba-tiba mama Vanco datang menghampiri Azel.


"Tunggu sebentar," kata mama Vanco.


"Ada apa ma?" Tanya Claren.


"Ini ada bingkisan buat kamu," ucap mama Vanco.


"Maaf sudah ngrepotin tante," ucap Azel.


"Tidak apa, tante yang justru yang sudah ngrepotin kamu," ucap mama Vanco.


"Kalau begitu saya pamit dulu," ucap Azel.


"Hati-hati di jalan," kata Claren.


Azel keluar dari rumah Claren, sedangkan Arvin sudah dari tadi keluar.

__ADS_1


__ADS_2