Menemukan Sahabat Terbaikku

Menemukan Sahabat Terbaikku
Episode 43


__ADS_3

"Apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Claren.


"Aku hanya ingin membalas budi," ucap Azel.


"Balas budi? Aku tidak pernah menolongmu sama sekali! Kenal aja tidak," kata Claren.


"Kan aku sudah bilang kalau kamu yang pinjamkan aku sebuah pensil saat lomba waktu itu, dan saat itu adalah penentuan nasibku," ucap Azel.


"Hahh, dengan aku meminjamkan pensil buatmu kamu samapai menghargainya seperti itu? Kamu kan terlihat seperti anak yang lahir di keluarga yang berkecukupan, malah bagiku sangat berkecukupan," ucap Claren.


"Memang aku terlahir dari keluarga yang mampu, tetapi saat itu adalah penentuan nasibku, entah apa jadinya jika aku tidak menang. Pasti sekarang aku sudah dikirim jauh dari sini, bahkan diasingkan," ucap Azel.


"Oh ya benar seperti itu?" Tanya Claren.


"Begini saja, kita mencari sebuah cafe atau apapun itu yang penting kita jangan mengobrol disini," ucap Azel.


"Baiklah," ucap Claren.


"Kamu mending naik ke mobilku saja, biarkan sopirmu mengikutimu dari belakang," ucap Azel.


"Tidak bisa, aku akan naik mobilku sendiri," ucap Claren.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kamu tidak akan mendengarkan semua ceritaku," ucap Azel.


Claren sangat penasaran dengan ceritanya yang aneh itu. Akhirnya dia memutuskan untuk satu mobil dengan Azel.


"Tapi kamu benar-benar bisa mengendarai mobil ini kan?" Tanya Claren (penuh dengan kewaspadaan).


"Tentu, kalau itu jangan diragukan," ucap Azel (dengan yakin).


Azel membukakan pintu untuk Claren, kemudian Claren dan Azel pergi bersama ke sebuah cafe. Saat di perjalanan Azel menceritakan sebagian masa lalunya kepada Claren sambil menikmati pemandangan sekitar. Sesampainya cafe Azel membukakan pintu mobil untuk Claren, akhirnya Claren turun dengan tangannya yang memegang tangan Azel. Saat itu Arvin sedang melewati cafe yang disana ada Claren dan Azel, Arvin pun melihat Claren memegang tangan seorang laki-laki. Dia sempat tidak percaya akan itu.


"Paman berhenti sebentar!" Ucap Arvin.


Dia langsung membuka kaca mobilnya, dengan jelas Claren dan seorang laki-laki masuk ke sebuah cafe.


"Ada apa tuan muda?" Tanya Arvin.


"Oh tidak ada, kita lanjut jalan," ucap Arvin.


Arvin masih berpikir siapa laki-laki yang bersama Claren tadi.


"Tumben banget Claren datang ke sebuah cafe? Dia bukan tipe cewek yang mau di ajak jalan sama lelaki lain," pikir Arvin.

__ADS_1


Di satu sisi Claren dan Azel sedang memesan makanan dan minuman. Sebelum pesanan mereka datang, Azel melanjutkan ceritanya.


"Tunggu-tunggu, itu benar ceritamu? Atau kamu ngarang semua itu?" Tanya Claren.


"Itu memang kejadian masa laluku yang asli, buat apa aku mengarang. Apa untungnya buatku mengarang semua itu?" Tanya Azel.


"Tapi...cerita itu...," kata Claren.


"Apa?" Tanya Azel.


"Itu sangat mirip dengan masa laluku," ucap Claren.


"Hahh... kamu nggak bercanda kan? Ku pikir cuman aku saja yang mengalami semua itu," ucap Azel.


"Aku juga berpikir demikian, tetapi setelah melihat raut wajahmu saat bercerita aku melihat kejujuran yang ada di dalam dirimu," ucap Claren.


"Aku tidak mudah percaya sama siapapun, sama seperti kamu yang tidak mudah mempercayaiku tadi. Aku mempercayaimu karena kamu telah menyelamatkanku," ucap Azel.


Claren masih menatap Azel dan berpikir mengenai masa lalunya serta perkataan yang mamanya pernah bilang kepadanya.


"Jika dia bisa mempercayai orang lain lagi setelah melewati masa lalu yang sama denganku, seharusnya aku bisa melakukan hal yang sama seperti dia. Aku harus bisa mempercayai orang lain lagi dan tidak berpikir negatif dulu terhadap semuanya," pikir Claren.

__ADS_1


Pesanan mereka akhirnya datang. Azel dan Claren makan bersama, setelah itu mereka mengobrol kembali.


__ADS_2