Menemukan Sahabat Terbaikku

Menemukan Sahabat Terbaikku
Episode 38


__ADS_3

Kakak sepupunya bernama Klarybel Xavier, dulu saat di luar negeri dia sering kali ke rumah Claren. Tetapi Claren sangat sibuk dengan tugas-tugas di sekolah. Sejak kecil dia sudah berbeda marga dengan Claren, karena ibunya dulu sejak menikah sudah pindah ke marga suaminya. Claren dan kakak sepupunya memiliki sifat yang sedikit berbeda.


"Kakak sampai disini dulu ngobrolnya, nanti kita sambung lagi di lain waktu," ucap Claren.


"Baiklah," ucap kakak.


"Jangan lupa salamku kepada paman dan bibi di sana, semoga kalian sehat-sehat selalu," kata kakak.


"Pasti kak," ucap Claren.


Setelah selesai menelpon Claren meminum jusnya sambil bersantai sejenak di kursi gantung. Dia merelaksasikan dirinya selama 3 jam penuh, kemudian dia pergi mandi. Setelah itu dia turun ke bawah sambil membawa gelas.


"Bibi tolong bawa ini ke dapur," perintah Claren.


"Baik non," ucap bibi.


"Makasih," kata Claren.


"Sama sama non," jawab bibi.


Disana sangat sepi, biasanya sore hari sudah ada kakek atau nenek yang sedang santai di taman belakang. Tetapi hari ini tidak ada sama sekali, dia memutuskan untuk kembali ke kamar. Dia membuka pintu balkon yang terbuat dari kaca, dia melihat pemandangan yang sangat indah sampai larut malam. Claren tertidur di kursi gantung itu sampai pagi, keesokannya dia bangun pagi dan berjoging di halaman rumah. Kemudian dia memutuskan untuk berkeliling kompleks di sekitar rumahnya. Udara pagi ini sangat sejuk, membuat suasana hati Claren ceria.


Kemudian dia melihat sebuah taman kompleks, ada beberapa orang yang sedang berolahraga disana. Dia duduk sejenak di bangku taman sambil meluruskan kakinya, Claren merasa kehausan setelah berjoging. Tetapi dia tidak membawa air dari rumah, tiba-tiba datanglah seorang anak laki-laki yang sedang menghampirinya.


"Permisi?" ucap anak laki-laki itu.


Claren berpura-pura tidak melihatnya.


"Boleh aku minta waktumu sebentar?" Tanya anak laki-laki itu lagi.


"Maaf saya tidak kenal kamu," kata Claren.

__ADS_1


Claren langsung pergi.


"Tunggu! Aku ingin mengucapkan terima kasih dan mengembalikan barangmu!" Teriak anak laki-laki itu dari kejahuan.


Tiba-tiba Claren menghentikan langkah kakinya, dia kemudian berbalik ke arah laki-laki misterius itu.


"Apakah kita pernah bertemu?" Tanya Claren.


"Apakah kamu sudah lupa? Kita pernah bertemu saat lomba. Dan aku yang meminjam pensil mu itu," ucap laki-laki itu.


"Maaf aku tidak ingat," jawab Claren.


"Oh ya, kamu kan tidak melihat wajahku, saat itu kamu terus mengerjakan soal," kata lelaki itu.


"Maaf aku tidak membawa pensil itu sekarang, tapi kamu sudah banyak menolongku saat itu. Jika tidak ada kamu mungkin aku tidak bisa mendapatkan juara," sambungnya.


"Tidak apa, kamu simpan aja pensilnya," ucap Claren.


"Ada apa?" Tanya Claren.


"Maaf kalau boleh tahu namamu siapa?" Tanya anak itu.


"Kalau namaku Azel Putra," ucapnya.


"Kamu tidak perlu tahu namaku," singkat Claren.


Dia langsung berjoging tanpa menghiraukan anak lelaki itu. Setelah itu dia pulang ke rumah, sesampainya di rumah dia melihat sebuah mobil di depan rumahnya.


"Mobil siapa ini?"


(Claren merasa kebingungan).

__ADS_1


Dia berlari ke dalam rumah, dibukalah pintu rumahnya. Dia terkejut melihat Arvin datang ke rumahnya, dia sedang berbincang dengan kakeknya.


Claren tidak mau mengganggu perbincangan mereka, oleh karena itu dia langsung pergi ke atas.


"Claren! Kamu benar-benar anak yang tidak tahu sopan santun!" Teriak kakek.


Claren langsung behenti, dia sedikit sedih mendengar teriakan kakenya.


"Ada apa kakek?" Tanya Claren


(dengan sabar).


"Disini ada teman kamu, seharusnya disapa! Atau mengobrol dengannya disini!" Tegas kakek.


Claren hanya tertunduk diam di depan kakek dan Arvin.


"Kakek mari kita duduk kembali," kata Arvin.


Claren tidak bisa membendung air matanya, dia segera naik ke atas dan menutup pintunya. Dia merasa malu saat kakeknya berbicara seperti itu dengannya di depan Arvin.


"Dimana Claren tadi?" Tanya mama.


"Anakmu yang manja itu sedang di kamarnya," ucap kakek.


"Ayah kenapa ayah bicara seperti itu?" Tanya mama.


Kakek tidak kunjung menjawabnya.


"Claren? Kamu baik-baik saja di dalam?" Tanya mama.


"Mama pergi saja, aku baik-baik saja disini," ucap Claren (sambil menangis).

__ADS_1


"Nak suaramu kedengeran kalau kamu sedang nangis, sebenarnya ada apa nak?" Tanya mama.


__ADS_2