
Claren tidak menanggapi Arvin, dia menutup teleponnya. Tetapi Arvin berulang kali menelpon Claren, sampai membuat Claren merasa sangat jengkel. Kemudian Claren langsung mengangkat telponnya.
"Ha," kata Arvin.
"Kenapa sih lo harus menelpon gue, lo nggak puas ya sudah membuat hubunganku dan kakek hancur! Apalagi yang kamu mau sekarang!" Teriak Claren.
Claren meluapkan semua emosinya kepada Arvin.
"Aku sudah bilang sama lo, jangan pernah bicara lagi denganku! Aku membencimu seumur hidupku!" Teriak Claren.
Arvin kaget melihat Claren berbicara seperti itu kapadanya, dia tidak tahu apa maksudnya dengan bicara seperti itu kepada Arvin. Keesokan harinya Claren berangkat pagi ke sekolah sesuai jadwal yang telah diberikan oleh guru pendamping. Claren berangkat bersama mamanya, papanya tidak ikut karena sibuk urusan bisnis.
"Anak-anak semua sudah berkumpul, ini ada uang saku dari sekolah untuk kalian berlomba dan ada makanan yang sudah disediakan beserta minumannya. Nantinya kalian disana mendapat makan siang khusus disediakan oleh pihak sekolah," ucap Bu guru.
"Sekarang mari kita menuju ke lokasi perlombaan," sambungnya.
__ADS_1
Semua murid menuju ke lokasi perlombaan menggunakan mobilnya sendiri-sendiri. Setibanya disana banyak muri-muris dari sekolah lain untuk mewakili perlombaan tersebut. Murid-murid yang mewakili SMA Negeri 1 Bangsa mulai mendaftarkan nama mereka ke panitia, setelah itu mereka mendapatkan nomor pesertanya masing-masing. Semua murid masih menunggu di halaman sekolah yang dijadikan tempat perlombaan.
"Semangat ya Claren, mama tetap disini untuk mendukungmu," ucap mama.
"Pasti ma, aku membutuhkan restu mama," kata Claren.
Arvin berjalan menghampiri mama Vanco.
"Bibi, apa kabar?" Sapa Arvin.
"Kamu mewakili perlombaan apa?" Tanya mama Vanco.
"Saya mewakili lomba sains bibi," jawab Arvin.
"Semoga kamu bisa berhasil," kata mama Vanco.
__ADS_1
"Makasih bibi," kata Arvin sambil tersenyum.
Arvin kemudian pergi keluar.
"Bapak ibu pendamping dimohon untuk mengarahkan anak didiknya ke aula untuk mengikuti upacara pembukaan," kata panitia perlombaan.
Semua peserta lomba hadir ke dalam aula sekolah, disana terdapat pengarahan kembali untuk mengikuti perlombaan. Beberapa menit kemudian semua peserta mulai masuk ke dalam kelasnya maisng-masing dengan bimbingan panitia masing-masing. Para orang tua menunggu di luar, sedangkan para peserta mulai mempersiapkan diri untuk mengerjakan soal yang diberikan. Mereka diberikan waktu untuk mengerjakan soal yang diberikan. Jam sudah menunjukkan waktu yang tepat untuk mengerjakan soal, semua peserta mulai mengerjakan soalnya. Saat semua mengerjakan soal ada satu anak laki-laki yang duduk di belakang Claren, dia ingin meminjam pensil Claren karena dia lupa tidak membawa pensil cadangan. Sedangkan pensil yang sedang di gunakan patah.
"Permisi bolehkah aku meminjam pensil mu?" Tanya anak laki-laki itu.
Claren memberikan salah satu pensilnya ke anak laki-laki itu.
"Terima kasih," ucap anak laki-laki itu.
Claren tidak menjawabnya dia tetap mengerjakan soal. Waktu telah berlalu dengan cepat, waktu mengerjakan soal sudah selesai. Semua peserta meletakkan jawabannya di atas meja. Kemudian mereka keluar dari ruangan. Claren lupa kalau pensilnya masih dipinjam anak tadi. Anak laki-laki itu mencari Claren tetapi tidak ketemu. Claren menghampiri guru pendampingnya beserta mamanya. Mereka menunggu hasil perlombaan, saat itu guru pendamping menyuruh anak-anak dari sekolah SMA Negeri 1 Bangsa untuk makan siang bersama. Beberapa jam kemudian hasil perlombaan akan segera diumumkan.
__ADS_1
Hasil perlombaan akan segera diumumkan, semua peserta sangat tegang pada saat itu.