Menemukan Sahabat Terbaikku

Menemukan Sahabat Terbaikku
Episode 32


__ADS_3

Keesokan harinya Claren sudah siap untuk pergi ke sekolah, sebelum pergi ke sekolah semua keluarganya sarapan seperti biasa, setelah sarapan semuanya kembali ke aktivitasnya masing-masing.


"Ini sayang uang sakumu hari ini," kata papa.


"Aku ke sekolah dulu," ucap Claren.


"Claren tunggu!" Teriak mama.


"Ada apa ma?" Tanya mama.


"Ini bekal kamu ketinggalan," jawab mama.


"Makasih ma," ucap Claren.


"Hati-hati di jalan nak," kata papa.

__ADS_1


Claren hanya tersenyum kepada mamanya. Sesampainya di sekolah Claren masuk seperti biasa. Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi, semua anak duduk di tempatnya masing-masing.


"Anak-anak yang masuk seleksi lomba kalian bisa keluar kelas untuk mengikuti pembinaan di perpustakaan," ucap Bu guru.


"Baik Bu," jawab anak-anak.


Claren dan Arvin keluar kelas. Mereka mengikuti perlombaan sesuai bidang mereka saat mengikuti seleksi kemarin. Claren masuk seleksi di bidang matematika, Elina dari kelas lain masuk seleksi di bidang ilmu pengetahuan sosial, dan Arvin masuk seleksi di bidang sains. Dari pagi sampai siang mereka terus dilatih dan diberi pengarahan oleh guru pembina masing-masing. Semua anak-anak istirahat pada jamnya tetapi Claren, Arvin, dan Elina mereka masih sibuk mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru mereka maisng-masing.


Saat semua murid masuk ke kelas barulah mereka beristirahat untuk makan siang. Setelah itu mereka kembali lagi ke perpustakaan dan mengerjakan lagi.


"Claren dan Arvin kalian besok langsung aja ke perpustakaan, tidak usah ke kelas," ucap Bu guru.


"Baik Bu," jawab Arvin.


Mereka pulang dijemput oleh sopirnya sendiri, Claren hari ini tidak mengatakan satu kata pun kepada Arvin. Begitu juga dengan Arvin, tetapi Arvin penasaran dengan apa yang di bilang oleh kakek Claren mengenai sifat Claren saat dirumah itu memang benar seperti itu apa Claren yang sedang berpura-pura baik di depan keluarganya. Karena nantinya yang akan jadi pewaris keluarga Dephney adalah Claren, dilihat dari garis keturunannya Claren adalah anak tunggal keluarga Dephney. Jadi bisa saja kakeknya menutupi sifat asli Claren, mereka semua tidak mau calon pewaris tunggal keluarga Dephney sudah hancur reputasinya sebelum mewarisi harta mereka. Itu semua yang ada dipikiran Arvin saat perjalanan ke rumah.

__ADS_1


"Aku harus cari tahu mengenai sifatnya Claren kenapa seperti itu, orang yang akan memberi tahu aku tentang itu semua adalah kakek," gumam Arvin.


"Walaupun Claren melarangku untuk tidak mencari tahu identitas aslinya, tetapi aku akan tetap cari tahu itu," sambung Arvin.


Claren sudah sampai di rumah, dia langsung pergi ke kamar. Samapai larut malam Clarne tidak keluar kamarnya sama sekali. Dia tetap mengurung dirinya di dalam kamar, dia belajar dan terus belajar. Dia mempelajari materi yang diberikan oleh gurunya saat di sekolah.


Claren adalah tipe anak yang tidak mau kalah dengan teman-temannya di bidang pelajaran maupun olahraga. Jika semua temannya bisa kenapa dia tidak bisa, itulah prinsip yang selalu Claren tanam dalam dirinya.


"Dimana Claren, dari tadi saat dia pulang dari sekolah aku tidak pernah melihatnya lagi," kata papa.


"Anak itu sudah tumbuh dewasa, kalau kamu terus mecarinya dan mengingatkannya tentang kewajibannya. Maka anak itu tidak bisa hidup mandiri, biarkanlah Claren tetap di dalam kamar. Dia seharusnya tahu kewajibannya yang harus dilakukan," ucap kakek.


"Sudahlah sekarang kita makan malam terlebih dahulu, biarkan dia kelaparan untuk hari ini. Supaya bisa jadi anak yang disiplin," tegas kakek.


Semua orang tidak bisa membantah perkataan kakek, karena mereka semua menghormati kakek sebagai orang tua.

__ADS_1


__ADS_2