Menemukan Sahabat Terbaikku

Menemukan Sahabat Terbaikku
Episode 40


__ADS_3

"Pasti Claren ada di ruang belajarnya," ucap mama.


"Claren? Kamu ada di dalam?" Tanya mama.


"Masuk aja ma," ucap Claren.


"Sayang ini mama bawakan makan malam buat kamu. Dari tadi kamu belum makan sama sekali," ucap mama.


"Makasih ma, tapi aku merasa kenyang," kata Claren.


"Kamu harus makan ini," tegas mama.


Mama Vanco menunggu Claren memakan makanan yang dia bawakan. Akhirnya Claren makan masakan itu sampai habis, kemudian dia pergi ke kamarnya di antar oleh mamanya.


"Sekarang mama lega kamu sudah makan, kalau kamu tidak makan nantinya kamu akan sakit. Jangan terlalu difikirkan semua masalahmu nak, di dalam hidup pasti ada masalah. Tetapi kita harus menghadapinya dengan kuat dan terus bersabar," ucap mama.


"Kamu tidurlah, hari sudah malam. Dan besok kamu harus sekolah," ucap mama.


"Baik ma," kata Claren.


Mama Vanco keluar dari kamar dan mematikan lampunya. Dia pergi ke dapur untuk meletakkan piring makanan tadi, tiba-tiba kakek datang di hadapan mama Vanco.

__ADS_1


"Ayah ada disini?" Tanya mama.


"Kenapa kamu malam-malam masih ada di dapur dan mencuci piring?" Tanya kakek.


"Tadi saya pergi untuk minum, kemudian saya melihat ada beberapa piring yang masih belum dicuci," ucap mama.


"Kamu bohong! Pasti kamu mengantarkan makanan buat anak manja itu kan?!" Tegas kakek.


Nenek yang mendengar suara kakek berteriak, di dalam dapur segera bangun dan melihat ada masalah apa yang terjadi.


"Kakek ada apa kok teriak-teriak? Ini sudah malam kakek," ucap nenek.


"Claren adalah cucu kakek, apakah ayah tidak mengkhawatirkan Claren jika sampai dia sakit?" Tanya mama (sedikit takut).


"Kakek! Apa maksudnya?" Tanya nenek.


Mama Vanco langsung keheranan mendengar pertanyaan kakek.


"Itu cucu kakek juga, apa salah Claren ayah? Nanti biar aku yang memberikan nasihat kepada Claren, jika dia berbuat masalah," ucap mama.


"Aku mendengar semua itu dari Arvin, dia menjelaskan semua perilaku Claren saat di sekolah. Awalnya aku tidak percaya itu, tetapi aku menyuruh orangku untuk menyelidikinya. Dan apa yang dikatakan Arvin memang benar," kata kakek.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan Arvin?" Tanya mama.


"Dia bilang sifat Claren dingin, egois, dan suka menyendiri. Itu sifat tidak mencerminkan kalau dia berasal dari keluarga Dephney. Sifat egois yang dia miliki sangat membuatku kecewa," tegas kakek.


Kemudian kakek pergi ke kamarnya.


"Ibu kenapa ayah menganggap Claren seperti itu? Dia adalah anak satu-satunya yang ku lahirkan, apa salahnya ibu?" Tanya mama Vanco.


"Dulu ceritanya panjang menantu, lebih baik kamu istirahat sekarang. Jangan sampai Claren tahu tentang kejadian di dapur, nanti dia akan bersedih," ucap nenek.


"Ibu tolong ceritakan kepada saya apa yang terjadi, biar saya akan berhati-hati dan membimbing Claren supaya tidak salah di mata ayah," ucap mama Vanco.


"Aku tahu nak yang kamu rasakan saat ini, kamu adalah seorang ibu. Apalagi Claren anak semata wayang mu, pasti kamu akan melakukan yang terbaik untuknya," ucap nenek.


"Besok kamu rencanakan tempat yang pas buat kita ngobrol," ucap nenek.


"Bak ibu," kata mama Vanco.


"Selamat malam," ucap mama Vanco.


"Selamat malam," jawab nenek.

__ADS_1


Mereka berdua pergi ke kamarnya maisng-masing.


__ADS_2