Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
10. Merindu


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak kepulangan mereka dari hotel, kini baik Arcelia maupun Irsyad sudah kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Meski sempat dilarang dan diminta untuk mengambil cuti barang beberapa hari lagi, namun sepertinya itu sama sekali tak membuat mereka goyah dan membuat semangat mereka menyurut.


Ya, walaupun mungkin ada sedikit perbedaan pada diri mereka mengenai hal ini, dimana Arcelia yang memang sejak dulu dikenal sosok yang pekerja keras dan gila kerja tanpa melihat waktu dan situasi. Disandingkan dengan Irsyad yang sama-sama gigih dan pekerja keras, namun dia masih terlihat lebih santai dan masih bisa menikmati kehidupan normal. Menjalani hari-harinya dengan dipenuhi kegiatan-kegiatan yang menghibur dan senantiasa membuatnya senang.


Disebuah ruangan tampak kini Arcelia terlihat sangat serius mendengar penjelasan calon rekan kerjanya dan sesekali dia bertanya dan menimpalinya. Meeting yang hampir berjalan sekitar satu jam itu sepertinya belum juga terlihat akan adanya sebuah kesepakatan, apalagi terlihat dari bagaimana raut wajah Arcelia yang seakan menampakan ketidakpuasan dari presentasi yang tengah berlangsung tersebut.


Dikarenakan kontrak kerja samanya dengan perusahaan sebelumnya telah berakhir, dan Arcelia memilih untuk tidak memperpanjangnya karena satu dan lain halnya. Jadilah kini Arcelia tengah mencari perusahaan lain, namun ternyata masih jauh dari ekspektasi dirinya. Baik itu dari segi penawaran yang mereka ajukan, juga Arcelia yang jadi sangsi dengan kinerja mereka yang akankah seperti yang diharapkannya.


" Apa hanya itu keuntungan yang bisa kalian tawarkan? " Tanya Arcelia yang masih nampak tak puas bahkan setelah presentasi sudah selesai.


" Emm.. Ya, Nona. Namun, bila anda merasa kurang dan ingin mengajukan yang lain kami akan berusaha memenuhinya. Dan, mengenai kerja sama kita yang akan berlangsung, kami akan mengutus seseorang dari pihak kami sendiri untuk mengawasinya. " Sahut pria yang baru saja menyelesaikan presentasinya itu, keringat dingin sudah bermunculan sejak pertengahan presentasinya tadi.


Ia bersama dengan timnya sedari tadi sudah menyadari perubahan raut wajah dari Presdir Alexander Crop tersebut, mereka sudah dapat menebak jika penawaran yang mereka ajukan itu tidaklah membuat perempuan cantik itu merasa puas dan tergiur untuk melakukan kerja sama dengan mereka. Hal itu kini terbukti dari pertanyaan yang diajukannya.


Terdengar suara helaan napas dari mulut mungil perempuan cantik tersebut.


Hal tersebut tentu saja membuat mereka menjadi semakin ketar-ketir dan berkeringat dingin, bahkan tubuh salah satu dari mereka sudah gemetaran sedari Arcelia mengajukan pertanyaannya.


" Aduh.. Bagaimana ini? Apa kini kontraknya akan dibatalkan? " Ujar salah satu dari mereka membatin, padahal ini adalah kontrak besar pertama yang mereka tangani dan mereka sangat berharap pada kontrak tersebut.


Ya, bagaimanapun juga bisa mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Alexander Corp ini adalah hal yang diimpi-impikan bahkan diperebutkan oleh perusahaan kecil seperti mereka. Dan untuk semua ini, tentu saja mereka tidak sembarangan dan mempersiapkan semuanya sebaik bahkan sesempurna yang dapat mereka usahakan.


" Sepertinya ini sudah tidak ada harapan. " Batin yang lainnya juga sudah pasrah dengan kemungkinan terburuk bahwa kontrak kerja sama diantara mereka akan batal. Namun, dikatakan seperti apapun jika memang belum rezeki yang mau bagaimana kan?


" Cih.. Selalu saja, setiap orang dan setiap perusahaan hanya akan berucap janji manis dan berkata 'akan berusaha', 'akan kami usahakan'. Namun pada kenyataannya, tidak pernah mengusahakan apapun dan berusaha setidaknya mencapai hampir sama dengan yang telah dijanjikannya. Mereka terlalu terlena dan tergila-gila hanya pada kontrak kerja! " Desis Arcelia dalam hati, ia menjadi geram dan teringat pada kejadian-kejadian yang telah lalu.


Kembali Arcelia menghela napasnya, namun kini terdengar helaan napas lelah.


" Hmm.. Baiklah! " Arcelia akhirnya sudah memutuskan akan berakhir seperti apa pertemuan tersebut.

__ADS_1


Dan inilah akhirnya, mau tidak mau mereka tetap harus menerima pil pahit tersebut. Mau dikatakan apapun, pada akhirnya hal ini benar-benar terjadi. Mungkin mereka yang perlu lebih banyak belajar lagi, tidak mengapa ingin akan menjadi salah satu pengalaman terbaik bagi mereka.


Dan Arcelia yang memang boleh dikatakan perfeksionis, teliti dan tegas. Tentu saja akan melakukan hal itu, tanpa tanggung-tanggung dan merasa iba. Ya, mau bagaimana nasib sebuah perusahaan jika pimpinannya lembek, mudah merasa iba dan tak enak hati dalam mengambil suatu keputusan. Apalagi pada hal-hal yang sudah sangat jelas bertentangan dengan visi-misi yang perusahaannya miliki.


°°°°°


Setelah melalui meeting yang cukup melelahkan dan berakhir tanpa mendapatkan hasil apapun. Akhirnya Arcelia memutuskan untuk pulang lebih awal dari waktu kepulangan biasanya, ini memang diluar kebiasaannya dan akan sangat jarang untuk terjadi.


Tapi apapun itu, ada sesuatu yang sedang ia rindukan sekarang, meski baru beberapa hari tinggal bersama. Namun entah kenapa, sepertinya Arcelia sudah merasa sangat nyaman dan bahkan candu dengan hal yang baru dirasakannya itu.


Hal yang tanpa ia sadari selama ini bahwa ia sangat membutuhkannya dan merindukan sosok tersebut. Kehangatan yang selama ini tidak pernah dirasakan dan dimiliki olehnya, seakan membuatnya ingin merasakannya terus menerus hingga membuatnya tampak serakah.


Ya, katakanlah begitu Arcelia tidak peduli. Yang ingin dia tahu bahwa kini perasaannya ingin kembali penuh dan ingin terus selalu penuh dengan kasih sayang dan belai lembut seorang ibu.


" Bundaaa " Teriak Arcelia ketika sudah sampai dikediaman mertuanya dan seketika berseru dengan penuh keceriaan yang terpancar di wajah cantik nan ayunya itu.


Mendengar suara teriakan yang tak asing ditambah dengan hari yang masih menunjukan sore hari, membuat Lidya merasa aneh dan terheran-heran kenapa Arcelia sudah pulang jam segini dan kenapa dia berteriak-teriak begitu?


Seketika semua pikirannya itu lenyap, ketika ia sadar mungkinkah telah terjadi sesuatu pada Arcelia? Hingga dia pulang lebih awal dan dengan keadaan berteriak seperti itu? Mungkinkah dia terluka? Pikir Lidya hingga akhirnya dengan tergopoh-gopoh dia berlari kearah asal suara Arcelia berada.


" Ada apa Sayang? Kenapa teriak-teriak begitu? Apa kamu terluka, hmm? Mana yang sakit, sini biar Bunda lihat dan obati. " Tanyanya memberondong raut cemas dan khawatir nampak jelas di wajahnya yang masih terlihat cantik itu.


Mendapat perlakuan dan perhatian sebesar itu tentu saja membuat Arcelia terharu dan seketika perasaannya menghangat.


" Hhehe.. Tidak Bun, aku baik-baik saja. Aku hanya rinduuuu sekali pada Bunda. " Sahut Arcelia dengan kekehan khasnya, meski ada sedikit perasaan bersalah pada ibu mertuanya itu karena telah membuatnya khawatir sampai beliau berlari dari dapur dan menghampirinya.


" Ahh kamu ada-ada saja, Bunda sudah panik begini lho. Tapi benarkan kamu baik-baik aja? Gak ada yang sakit'kan? " Ucap Lidya kembali memastikan ia bahkan sampai memutar mengelilingi tubuh Arcelia untuk mengecek bahwa dia benar baik-baik saja.


" Bener Bun, Lia gak papa kok. Maafnya udah bikin Bunda khawatir. " Ujar Arcelia merasa bersalah.

__ADS_1


" Iya udah enggak papa, tapi tumben kamu pulang jam segini. Lagi free yaa? " Tanya Lidya sambil menggiring Arcelia untuk duduk di sofa ruang tengah dan meminta pekerja untuk membuatkan minum untuk Arcelia dan dirinya.


" Enggak juga Bun, cuman pengen pulang cepat aja. Seperti yang aku bilang tadi, aku kangeeen sama Bunda. " Sahut Arcelia sambil memeluk erat ibu mertuanya yang sudah seperti ibu kandungnya itu.


Lidya terkekeh kecil, mendengar selorohan Arcelia.


" Masa? " Ledek Lidya seraya menampilkan raut tak yakin.


" Bener Bun, aku tuh sekarang jadi keinget Bunda terus. Maunya tuh dipeluk dan dikeloni terus sama Bunda. " Ujar Arcelia sambil mengerucutkan bibirnya, dan sontak saja ucapan Arcelia barusan membuat tawa Lidya pun pecah.


" Kok dikeloni Bunda sih, kan ada Irsyad. Kenapa enggak minta suami kamu aja yang keloni? " Seloroh Lidya bermaksud meledek Arcelia.


" Hahh?!! " Pekik Arcelia terlihat benar-benar terkejut dengan candaan mertuanya itu, namun sejurus kemudian dia pun kembali berucap dan membantah perkataan ibu mertuanya.


" Bedalah Bun, aku maunya sama Bunda aja. Lebih nyaman dan pelukan Bunda selalu berhasil membuat aku merasa aman. " Jawab Arcelia jujur, namun tanpa sadar perkataannya itu seperti membandingkan pelukan Irsyad dan pelukan Bundanya. Yang jelas saja sebenarnya Arcelia belum pernah merasakan pelukan Irsyad, jangankan dipeluk bersentuhan pun mereka enggan.


" Oh.. Jadi pelukan Irsyad gak nyaman nih? " Tuhkan Lidya akhirnya menemukan ledekan baru untuk Arcelia, karena salah berucap tadi.


" Hah? E..eng..gak gitu Bun- " Kembali Arcelia dibuat gelagapan dan tak bisa berkutik dihadapan Lidya.


......................


Hallo semua suka gak sama cerita Arcelia ini?


Sebagai dukungan jangan lupa Like, Coment, Vote dan terus pantengin novel ini yaaa


Semoga selama pengerjaannya diberi kelancaran dan kekonsistenan


Aamiiin.. 🤲🏻

__ADS_1


__ADS_2