Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
28. Bingung Arcelia


__ADS_3

Malam yang semakin larut dengan desiran anginnya yang menerpa kulit putih milik seorang perempuan cantik membuat sang pemilik merasa cukup kedinginan. Mana dia masih memakai pakaian yang tadi dipakainya di acara keluarga lagi, dress selutut dengan lengan yang hampir mengekspos bahunya. Dan itu berarti sangat pendek dan hampir tak berlengan. Tadi saking terburu-burunya Arcelia bahkan tidak terpikirkan untuk mengenakan jaket, atau apalah yang setidaknya tidak membuat dirinya kedinginan seperti ini.


Dengan segera dia masuk kedalam mobil, dikendarainya mobilnya itu sampai berangsur menjauh dari apotik yang tadi ia sambangi.


Perasaan bimbang sejak tadi sudah menyerangnya, belum lagi potongan-potongan ucapan apoteker itu terus terngiang seolah berputar di kepalanya. Ah.. Dia jadi merinding'kan sekarang, keguguran?! Aaaa.. Tidak terbayangkan jika sampai benar itu terjadi pada dirinya.


Diliriknya kantong kresek yang tadi ia dapat dari apotik, didalam sana terdapat sebuah pil yang menjadi penyebab kegalauannya saat ini juga sebuah benda lain yang tadi ia beli karena saran dari apoteker itu.


" Haaaah haruskah begini? Apa benar tidak ada jalan lain, aku merasa semakin takut saja sekarang. " Gumaman Arcelia seraya menjalankan mobilnya dengan perlahan, mengulur waktu supaya tidak cepat sampai di rumah mertuanya.


Semua hal yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya semakin galau saja, dia yang sudah bulat dengan keinginannya yang akan menunda untuk memiliki seorang anak ya meskipun sudah agak terlambat karena kebodohan dan kecerobohannya itu.


Dan mungkin yang menjadi faktor semua ini terjadi adalah karena dia yang tidak membicarakan dan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Irsyad, suaminya. Katakanlah Arcelia kualat, karena mengambil keputusan dengan seenaknya sendiri.


Dia juga sempat dibuat bingung tadi saat melihat harapan dari sorot mata keluarganya, terlebih harapan besar ibu dan ayah mertuanya yang terlihat sangat jelas itu memang sempat menggoyahkannya. Namun, lagi-lagi dia takut. Ya, alasannya karena dia takut, entahlah mungkin dia takut akan hal-hal yang belum benar akan terjadi itu.


Tapi tetap saja aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja'kan? Aku yang merasakannya, bukan orang lain! Aku juga yang akan menanggung konsekuensinya nanti. Bela batin Arcelia.


" Hah.. " Terdengar suara helaan nafas lelah di sana.


Dirabanya perutnya yang masih nampak jelas rata itu, dielusnya perlahan dengan gerak memutar. Dia masih bingung dan belum mempercayai atau lebih tepatnya tidak mau mempercayai jika kalau saat ini benar sudah ada kehidupan lain didalam tubuhnya ini.


" Apa benar kata Mbak-mbak tadi?! " Lirihnya dengan keraguan yang terselip nada khawatir dari ucapannya itu.

__ADS_1


Tuk.. Tuk..


" Hei.. Benarkah kau ada di sana? " Ucapnya lagi bertanya pada perut ratanya itu seraya mengetuknya dengan ketiga jarinya.


Jika sampai itu benar dan saat ini dia tetap nekat dan keukeh untuk meminum pil itu, apa dia tidak disebut membunuh darah dagingnya sendiri? Menyakiti nyawa kecil yang bahkan tak berdosa itu dan apakah ia akan sanggup dan tetap bertahan setelah melakukannya dengan sengaja?


Tapi jika sampai dia memang benar hamil, sikap seperti apa layaknya yang harus diberikan akan kenyataan itu? Ah.. Arcelia sendiri sangat bingung saat ini.


°°°°°


Malam yang semakin larut Arcelia yang baru saja selesai menepikan dan memarkirkan mobilnya segera masuk ke rumah, menyembunyikan kantong kresek yang ia bawa dengan sedemikian rupa agar tak seorangpun bisa melihatnya.


Berhasil memasuki rumah dan mendapati lampu-lampu dibeberapa ruangan sudah terlihat padam, menandakan orang-orang di rumah sudah memasuki kamar masing-masing bahkan mungkin sudah terlelap tidur.


Ceklek..


Pintu kamar pun ia buka, namun lampu kamarnya ternyata masih terang benderang menandakan orang yang ada didalamnya masih terjaga dan belum tidur.


" Ck, kenapa dia tidak tidur saja sih? " Gerutu Arcelia menyayangkan kenapa suaminya itu belum tidur, bukan apa-apa dia hanya tidak ingin jika barang yang ia bawa ini sampai diketahui orang lain.


Dan mau tak mau ia pun akhirnya masuk, berjalan dengan berlaga cueknya tak ingin menatap orang yang ada di sana. Dia berpikir untuk langsung membersihkan tubuhnya dan bergegas pergi tidur. Namun..


" Dari mana saja kau? Jam segini baru pulang, keluyuran kemana malam-malam begini?! " Tanya Irsyad dengan marah, sejak tadi dia sudah menunggu Arcelia bahkan rela menahan rasa kantuknya yang teramat itu karena ibunya yang begitu mengkhawatirkan Arcelia tadi.

__ADS_1


Dan demi menenangkan Bundanya Irsyad sampai rela menggantikannya menunggu dan berusaha menghubungi Arcelia yang entah sedang apa wanita itu hingga tidak menyahuti panggilan teleponnya.


Tapi lihat sekarang, dengan tidak tahu dirinya orang yang dikhawatirkan itu malah main menyelonong saja masuk, tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun karena sudah mengganggu waktu tidur orang lain dan hal itulah yang membuat Irsyad semakin kesal saja pada Arcelia.


" Iya, iya aku minta maaf tadi ponselku juga tertinggal didalam mobil. Jadi aku tidak tahu kalau kau dan Bunda menghubungiku. " Sahut Arcelia dengan jujur setelah menatap mata Irsyad yang berkilat marah itu, sebelumnya tadi dia juga sempat melihat ada banyak panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Bunda dan Irsyad.


Arcelia diam tidak melanjutkan langkahnya, tidak pula berniat untuk melawan Irsyad. Ia cukup tahu diri jika ia memang salah, dia sudah pasrah dan bersiap untuk mendengar omelan dan ceramahan dari suami itu. Selain karena itu dia juga sudah cukup lelah jika harus meladeni amukan Irsyad itu, yang biasanya malah akan semakin panjang jika dia menimpali dan berusaha membela diri.


" Cih menyusahkan saja, kau tahu secemas apa tadi Bunda menunggumu?" Ucap Irsyad yang masih meluapkan kekesalannya, terdengar dia terus mengomel dengan orang yang diajak bicara malah hanya diam.


Huftt.. Setelah cukup lama ia tadi mendengar Irsyad yang mengomel, kini Arcelia akhirnya bisa merebahkan tubuh lelahnya di ranjang. Ya tentu saja setelah dia membersihkan diri dan menyembunyikan barang bawaannya tadi, dilihatnya Irsyad yang juga sudah berbaring disebelahnya.


Arcelia terlihat sedang menimbang sesuatu, dia berpikir apa tidak sebaiknya jika malam ini saja dia membahasnya bersama Irsyad. Karena jujur saja Arcelia rasanya sudah tak sanggup merasakan kegelisahan dan ketakutannya ini sendirian, dia ingin membaginya dengan seseorang dan dia berharap dengan berbicara dengan Irsyad bisa sekaligus menemukan solusinya.


" Emm.. Irsyad! " Seru Arcelia seraya menyentuh dan sedikit mengguncang bahu Irsyad perlahan, meski sedikit ragu tapi sepertinya dia sudah memutuskannya.


" Irsyad.. Apa kau sudah tidur? " Lagi Arcelia memanggilnya hingga karena tak mendengar sahutan diapun sedikit mendongkakkan kepalanya dan memastikan apa suaminya itu sudah benar tidur seperti dugaannya.


" Haah iya benar, dia sudah tidur. Ya sudahlah nanti saja. " Gumamnya ketika mendapati suara dengkuran-lah yang terdengar menyahutinya.


Meski ada sedikit rasa kecewa karena tak jadi membaginya dengan Irsyad dan itu juga berarti tertunda lagi ia dalam menemukan sebuah solusi untuk permasalahannya, tapi sudahlah lagi pula Arcelia sendiri sudah sangat mengantuk.


......................

__ADS_1


__ADS_2