
Setelah berada didekat Arcelia, Lidya pun langsung saja memeluk menantunya itu menggantikan Irsyad yang kini sudah tersingkir entah kemana. Sebenarnya Irsyad masih terkejut dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba itu, apalagi dalam keadaan Arcelia yang tengah menangis tadi.
" Kamu apakan menantu Bunda, heh? Kenapa dia sampai menangis seperti ini? " Tanyanya lagi menatap Irsyad tajam dan tak suka, bukankah dia meminta putranya itu untuk menjaga menantunya? Bukan malah membuatnya menangis begini!
" Irsyad.. Bunda sedang bertanya padamu, kenapa tidak menjawab? " Kesal Lidya karena putranya itu tak segera menyahutinya.
" Eemm.. Sebenarnya ini hanya kesalahpahaman saja Bun, bukan hal yang begitu serius! " Sahut Irsyad akhirnya setelah sebelumnya sempat bingung harus menjelaskan seperti apa.
" Kesalahpahaman seperti apa maksudmu, coba jelaskan pada Bunda.. Arcelia sampai dibuat menangis seperti ini. " Lidya yang begitu khawatir pada Arcelia sampai menginginkan cerita detailnya.
" Ah.. Bun, itu tidaklah penting. Justru yang terpenting sekarang adalah Arcelia harus segera diperiksa kondisinya, dia tadi sempat nekat turun dari ranjang sendiri Bun.. ketika Irsyad tinggal keluar sebentar. " Ujar Irsyad yang kembali tersadarkan ketika melihat dokter berdiri tak jauh darinya, dia jadi merasa cemas lagi akan keadaan Arcelia yang ditakutkan malah memburuk.
Dokter dan perawat yang sejak tadi harus melihat dan mendengar drama keluarga itupun akhirnya kini mulai melangkah mendekati ranjang Arcelia, setelah sebelumnya Irsyad memintanya untuk bersegera memeriksa istrinya.
" Apa? Lia turun dari ranjangnya? Bagaimana itu bisa, Irsyad? " Tanya Lidya dengan sangat terkejut mendengar penuturan anaknya itu, ia kini sudah menyingkir mempersilahkan dokter untuk memeriksa Arcelia. Dan memilih mendekati Irsyad untuk meminta penjelasan darinya.
" Iya Bun, tadi sepertinya dia ingin ke kamar mandi ketika aku sedang berada diluar. " Jelas Irsyad dengan singkat, karena kini fokusnya tengah melihat dokter yang sudah mulai memeriksa Arcelia.
" Lalu kenapa kamu malah meninggalkannya? Bukannya menjaga istri yang sedang sakit kau malah pergi. " Tuduh Lidya tanpa mendengarkan dulu apa yang sebenarnya terjadi.
" Karena aku sedang ada keperluan Bun, lagipula aku keluar juga atas permintaan darinya. " Ujar Irsyad lagi menunjuk kearah Arcelia dengan menggunakan dagunya, sedangkan Arcelia sendiri yang kini tengah diperiksa menatap Irsyad dengan sebal.
" Ya tetap saja, kenapa kamu tidak bertanya terlebih dulu padanya sebelum pergi. Mungkin saja kan dia membutuhkan sesuatu, kamu ini benar-benar tidak ada perhatiannya pada istri sendiri! " Keukeh Lidya menyalahkan Irsyad, sebenarnya yang anaknya disini itu dia atau Arcelia sih sebenarnya? Kenapa selalu saja dirinya yang disalah-salahkan.
__ADS_1
" Tapi Bun, dia sendiri yang tidak bilang sebelumnya padaku. Jadi mana mungkin aku bisa tahu Bun.. " Irsyad masih berusaha membela dirinya.
" Makanya kamu tanya Syad, tanya! " Dengan gregetan Lidya berkata pada anaknya yang dia rasa tak ada inisiatif sama sekali itu.
Ditengah perdebatan ibu dan anak itu, akhirnya dokter pun sudah selesai memeriksa Arcelia. Entah mengapa dia merasa pekerjaannya kali ini dirasa cukup melelahkan, karena harus sambil ditemani oleh suara perdebatan keluarga pasiennya itu. Ya, meskipun mereka berdebat dengan suara yang pelan tapi nyatanya dia cukup terganggu dengan hal itu.
" Jadi bagaimana dok, kondisinya? " Tanya Irsyad seketika, ah akhirnya ia bisa terbebas dari omelan ibunya itu.
" Ya, syukurlah apa yang kita takutkan tadi tidak sampai terjadi. Namun Nyonya diharapkan lebih berhati-hati lagi, jangan sampai mengulangi hal seperti tadi. Karena dilihat dari kondisi Nyonya, anda memang belum dianjurkan untuk terlalu banyak bergerak. Apalagi jika sampai berjalan-jalan, ditakutkan kandungan anda kembali terguncang dan buruknya pendarahan kembali terjadi. " Papar dokter wanita itu yang membuat Irsyad setidaknya bisa bernafas lega dan terlepas dari rasa cemasnya, begitupun dengan Lidya yang juga merasakan hal serupa.
" Saya juga berharap untuk kedepannya Nyonya bisa lebih menjaga kandungan anda, jika merasa sudah lelah beristirahatlah. Jangan sekali-kali anda memaksakan diri ya, itu sangat berbahaya bagi kesehatan anda dan juga kandungan anda sendiri Nyonya.. " Tambah dokter memberi sedikit masukan dan pesan pada Arcelia.
" Iya dok benar sekali, marahi saja dia dok. Dia itu memang agak bebal orangnya! " Tandas Irsyad dengan menatap Arcelia malas, huh.. akhirnya ada juga orang yang menjelaskan betapa meresahkannya tingkah Arcelia yang satu itu.
" Irsyad.. Sudah, sudah! Apa-apa kalian ini, seperti anak kecil saja. " Tegur Lidya yang merasa tidak enak hati dengan kelakuan anak-anaknya, yang ia tahu pasti akan memulai pertengkaran mereka. Namun sayang hal itu tidak dihiraukan oleh putranya yang malah semakin menjadi mengganggu menantunya.
" Aku sudah pernah bilang bukan? Kalau kau itu sudah tua, sudah berumur! Maka dari itu, kesehatan itu dijaga. Jangan sok kuat, lihat'kan sekarang hasilnya bagaimana? Reyot! " Ditatap seperti itu nyatanya malah membuat Irsyad semakin semangat ingin menggoda istrinya itu, dia bahkan sampai mencibirnya habis-habisan seperti itu.
" Kau..! " Pekik Arcelia yang terpancing dan sudah bersiap melayangkan pukulan pada Irsyad dengan mengunakan kepalan tangannya, namun karena gerakannya yang tiba-tiba dan cukup kuat seketika ia kembali merasakan sakit disekitar perutnya.
" Ssshht.. " Ringisnya seraya memejamkan kedua matanya merasai rasa sakit yang kembali hadir. Tangan yang tadi hampir memukul Irsyad pun kini beralih meraba dan mengelus perutnya yang mulai kembali menegang.
" Tuh'kan apa Bunda bilang, sudah Irsyad, kamu jangan mengganggunya terus. Bukannya memberikan ketenangan, kamu malah dengan sengaja mengajaknya berdebat! " Ketus Lidya merasa geram dengan tingkah putranya itu.
__ADS_1
" Hmmm.. Bun, sakit. " Keluh Arcelia masih sambil terus menahan keram diperutnya, melihat itu Irsyad pun tak tinggal diam tangannya mulai terulur untuk ikut mengusap dan menenangkan anaknya didalam sana.
" Ck, mau apa kau lepas! " Masih sempat-sempatnya saja ditengah rasa sakitnya Arcelia menghempaskan tangan Irsyad.
Lidya, dokter dan perawat yang ada di sana pun hanya bisa menggelengkan kepada mereka melihat hal itu, dan selanjutnya dokter itupun kembali mendekati dan memeriksa Arcelia.
" Tolong untuk dijaga juga ya.. Kestabilan emosi pasien, jangan sampai emosinya mempengaruhi kondisinya karena hal ini juga tidak kalah penting! " Tekan dokter tersebut lebih ke memperingati suami pasiennya, ya tentu saja karena ia sudah melihat sendiri bagaimana kelakuan dari suami pasiennya ini.
" Ah iya dok, baik! " Sahut Irsyad sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal itu.
" Oh ya mengenai waktu kepulangan itu, apa anda akan jadi mengambil hari ini Tuan? " Tanya dokter itu kembali membahas kepulangan Arcelia yang sebelumnya sempat mereka bahas di ruangannya tadi.
" Sepertinya tidak dok, melihatnya masih dalam kondisi seperti ini lebih baik saya undur dulu saja, dok! " Ya, melihat apa yang dialami Arcelia barusan membuat Irsyad akhirnya merubah keputusannya. Dia tidak mau membawa pulang Arcelia dengan keadaannya yang masih kurang untuk dikatakan baik.
" Irsyaaad, kenapa begitu? Kau berbohong ya padaku!! " Arcelia kesal padahal Irsyad sudah menjanjikan akan membuatnya pulang hari ini tadi.
Lidya yang sejak tadi hendak menyela dan bertanya pun, seketika mengerti kala mendengar protesan menantunya itu.
" Salahmu sendiri, mengapa tadi turun dari ranjang! Lagipula ternyata tadi kau masih mengalami keram perut kan? Jadi lebih baik kau harus tetap dirawat disini! " Jelas Irsyad yang terdengar begitu menyebalkan ditelinga Arcelia.
" Tapi kan sekarang, aku sudah tidak kenapa-kenapa! Aku mau pulang Irsyadd! " Rengekan Arcelia masih terdengar bahkan ketika dokter dan perawat tadi pun sudah berpamitan untuk undur diri.
......................
__ADS_1